Breaking News

Liputan Khusus

Tak Ada Pekerjaan Lain, Pilih Bertahan Jadi Sopir

Diakuinya pendapatan sopir angkot tidaklah menentu, kadang ada hasil pendapatan yang bisa dibawa pulang kadang kala dia pulang dengan tangan hampa.

Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Seorang sopir opelet sedang menunggu penumpang di kawasan persimpangan Jl Sisingamangaraja - Jl Tanjungpura, Pontianak, Kalbar, Senin (18/4/2016). 

TRIBUNPONTIANAK,CO.ID, PONTIANAK - Tidak adanya pekerjaan lain membuat para sopir angkot ini tetap bertahan menjalani profesinya meskipun penghasilan yang mereka dapatkan tidaklah mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

Menurut Hartadin (52), dia di usianya yang sekarang tidaklah mudah mencari sebuah pekerjaan, meskipun penghasilan yang tidak mencukupi dia tetap mencoba untuk bertahan.

"Sekarang di usia yang sudah tidak lagi muda, mau cari kerjaan apa lagi. Meskipun penghasilan tidak banyak, saya mencoba untuk tetap bertahan, yah kalo ada kerjaan lain yang lebih menguntungkan saya tinggal narik opelet ini," katanya.

Dia mengatakan pada tahun 82, pertengahan 90-an dan awal 2000-an penumpang masih cukup banyak, tetapi menjelang 2008 mulai sepi penumpang. "Ramainya penumpang jauh berbeda lah dengan sekarang," kenangnya.

Diakuinya pendapatan sebagai sopir angkot tidaklah menentu, kadang ada hasil pendapatan yang bisa dibawa pulang kadang kala dia pulang dengan tangan hampa karena pendapatannya hanyalah cukup untuk mengisi bahan bakar.

"Pendapatan untuk makan saja tidak cukup, untuk sehari dapat Rp 100 ribu udah bersyukur, belum potong minyak Rp 60 ribu, makan seadanya biasa bekal dari rumah. Kadang pas tidak membawa hasil orang rumah ngomel," katanya.

Sopir lainnya, Mislan (47) mengatakan hal yang kurang lebih serupa seperti Hartadin. "Sekarang tidak bisa menjelaskan penghasilan, kadang tidak cukup. Untuk setor Rp 70 ribu, dapat Rp 150 ribu sulit. Dapat Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu bersih satu hari, cari bersih Rp 50 ribu sekarang sulit," katanya.

Menurutnya daripada tidak ada kerjaan di rumah, lebih baik dia narik angkot. Selain itu sulitnya mendapatkan pekerjaan sekarang membuatnya tetap menjadi sopir angkot.

"Dari pada nongkrong di rumah, tidak ada kerja, narik lah kita, mau cari kerjaan lain juga susah," katanya, saat ditemui di Jl Seroja.

Sedangkan sopir angkot jurusan Kapuas-Siantan, Abdul Rofik (26), mengatakan bahwa dirinya hanya meneruskan usaha milik ayahnya. "Saya narik meneruskan usaha bapak. Sekarang punya 3 angkot, 1 saya pakai narik, 2 lagi orang lain," katanya.

Warga Gang Remis, Siantan ini juga mengatakan bahwa dia sebagai penarik angkot tidak menuntut lebih kepada pemerintah untuk membangun terminal induk, karena kondisi angkot juga sekarang sudah susah.

"Perlu terminal induk? Saya tidak bisa komentar banyak atau nuntut lebih kepada pemerintah, apalah arti suara kami ini bila tak didengar, kondisi sekarang saja sudah susah" katanya.

Masih di tempat sama, Mad Hari (50) sopir angkot dengan jurusan sama, yang sudah mencari pekerjaan lain mulai dari kerja bangunan, penarik becak, speed dan sampan, kini bekerja kembali sebagai sopir angkot.

"Saya sempat cari kerja lain, macam macam kerja, shawmill, becak, sampan, bangunan dah banyak, cari kerjaan susah, makanya jadi sopir angkot lagi," katanya.

Untuk penghasilan Mad Hari mengatakan dalam sehari dia hanya bisa mendapatkan untung bersih untuk dibawanya pulang sekitar Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu, setelah dikurangi biaya operasional. Dengan uang sebesar itu ia harus menghidupi anak tiga anaknya yang masih sekolah karena 3 lagi sugah bekerja.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved