Liputan Khusus

Sopir Opelet Kesulitan Bayar Pajak

Selain itu, izin trayek yang belum jelas dan tidak adanya perpanjangan izin trayek nantinya pasti akan menjadi kendala angkutan kota.

Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Seorang sopir opelet sedang menunggu penumpang di kawasan persimpangan Jl Sisingamangaraja - Jl Tanjungpura, Pontianak, Kalbar, Senin (18/4/2016). 

TRIBUNPONTIANAK,CO.ID, PONTIANAK - Para supir angkot mengalami kesulitan dalam membayar pajak retribusinya. Hal ini disebabkan karena belum balik namanya Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK) dari CV yang menaungi mereka sebelumnya.

"Kita mengalami kesulitan dalam membayar pajak retribusi, ini disebabkan STNK yang kami miliki belum balik nama dari perusahaan sebelumnnya," kata satu diantara sopir angkot jurusan Kp Bali -Kota Baru, Abdul Muim (54).

Selain itu, izin trayek yang belum jelas dan tidak adanya perpanjangan izin trayek nantinya pasti akan menjadi kendala angkutan kota ini beroperasi nantinya. "Selain itu izin trayek yang belum jelas serta perpanjangan izin yang belum ada, nantinya pasti akan menjadi kendala angkutan ini beroprasi," katanya.

Angkot di Pontianak krisis penumpang, hal itu tampak dari sepinya aktivitas naik dan turunnya penumpang di satu diantara tempat mangkal angkot di Jl Seroja dan Jl Sisingamangaraja, Pontianak, Kamis (14/4) siang.

Sepinya penumpang ini diakui oleh satu satunya sopir angkot jurusan Kp Bali-Jl Jawa-Ampera (angkot cokelat) yang masih bertahan hingga sekarang, Dimyati (60).

"Saya satu-satunya sopir angkot jurusan ini (angkot cokelat) yang masih beroprasi sampai sekarang.
Sepi gini lah, saya sudah nunggu dari jam 11 sampai sekarang sudah mau jam 1 belum ada penumpang," katanya

Karena faktor usia dirinya tidak memiliki kemampuan untuk mencari pekerjaan lainnya, misalnya bekerja sebagai tukang bangunan.

"Untuk cari kerjaan lain, sepertinya tidak ada peluang lagi karena umur sudah tidak muda lagi. Mau kerja bangunan juga tenaga udah tidak kuat," ujar Dimyati, yang sudah menjadi sopir angkot sejak tahun 1975 ini.

Dia mengatakan bahwa rekan seprofesinya yang memiliki angkot sendiri sudah banyak menjual angkot mereka. Karena sudah tidak menguntungkan dan menghasilkan, angkot mereka jual kemudian mencari pekerjaan lain.

"Sekarang sisa satu, semua teman pada jual kilo angkotnya cari kerja lain, sekarang ya tinggal ini satu- satunya," kata Damyati, yang sudah mulai narik angkot dari ongkos per-penumpang Rp 15 hingga Rp 4 ribu seperti sekarang ini.

Dia bercerita bahwa dulu penghasilannya sebagai sopir angkot cukup lumayan, dia bisa menghidupi kedua orang anaknya beserta seorang istri. "Dulu lumayan lah, masih cukup untuk anak dan istri makan, saya juga tidak mengharapkan hal yang lebih dari pemerintah mungkin ini sudah jalannya," katanya pasrah.

Ditemui tidak jauh dari tempat Dimyati, Satu diantara sopir jurusan Kp Bali -Kota Baru, Hartadin (52), mengatakan hal serupa.

"Ya gini lah sekarang, penumpang sepi, selain itu untuk jurusan ini setiap 10 menit harus berangkat, ada tidak adanya penumpang, liat lah teman yang barusan tidak ada penumpang sama sekali, 10 menit dia telah berlalu mangkanya ada tidak ada penumpang berangkatlah, nanti di jalan paling dapat 2, 3 penumpang," katanya.

Hartadin mengatakan, bahwa untuk jurusannya, dibagi menjadi 2 regu A dan B, kalau A beroprasi hari ini B tidak beroprasi hari ini. Untuk penumpang yang naik rata-rata adalah orangtua karena menurutnya anak muda sekarang lebih memilih menggunakan sepeda motor ketimbang angkot.

"Penumpang yang naik rata-rata orangtua, yang tidak punya motor, mengerti naik motor atau takut naik motor makanya mereka pake oplet, anak muda sekarang mana mau naik angkot, contoh jak kalo dia lulus sekolah, mintanya apa ? Ya motor lah untuk kuliah," paparnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved