Liputan Khusus
Sopir Opelet Beralih Profesi
Kini Kunsen menjaga sebuah toko sederhana. Bersama istrinya ia berjualan makanan.
TRIBUNPONTIANAK,CO.ID, PONTIANAK - Siang itu suasana sedikit panas karena mendung dan tidak lama berselang hujan turun hujan. Tampak seorang pria menjaga rumah makan beserta istrinya, di satu di antara jejeran ruko yang ada di Jl Sisingamangaraja, Pontianak, Kamis (14/4) siang.
Dia adalah Kunsen (64), satu di antara pengusaha opelet yang dulu tergabung dalam sebuah CV yang menakhodai puluhan angkot di Pontianak.
Kini Kunsen menjaga sebuah toko sederhana. Bersama istrinya ia berjualan makanan, sedangkan dirinya berjualan tabung gas di tempat ruko yang sama. Kedua orang anaknya, bekerja merantau di Jakarta, yang hanya sesekali pulang ke-Pontianak untuk merayakan Imlek.
Ia mengaku pada masa keemasan opelet sekitar tahun 2005 ke bawah, dengan masih adanya terminal dan penumpang yang naik lumayan setoran sopir ke padanya lancar saja.
"Saat itu sehari bisa dapat Rp 80 ribu atau Rp 90 ribu bahkan sampai Rp 100 ribu. Tahun 2008 ke atas mulai sepi," katanya.
Pada saat krisis menjelang tutup usaha, opelet miliknya terpaksa dia jual karena sudah tidak menguntunglan lagi. Untuk meneruskannya kembali sudah tidak memiliki kemampuan.
Selain itu juga, hasil uang setoran para sopir mulai berkurang dan berbagai kendala seperti kehilangan ban dan perangkat mesin angkot yang sering hilang menjadi sisi lain bangkrutnya Kunsen, ditambah dengan naiknya harga bahan bakar.
"Karena kurang menghasilkan, angkot itu saya jual bahkan ada yang timbang kilo. Sebab, ban hilang kemudian mesin yang rusak parah, setoran kurang, buat minyak saja susah karena harga minyak naik," paparnya.
Dari berbagai macam faktor itulah, dia lantas gulung tikar, nilai setoran yang tinggal Rp 20 sampai Rp 30 ribu, membuatnya bingung mau diapakan uang itu. Apakah untuk perawatan angkotnya, bensin, upah, atau untuk modal lagi.
"Habis itu minyak naik, setoran tinggal Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Saya bingung mau kasi sopir berapa. Belum lagi ongkos perawatan, termasuk onderdil pada hilang, ban hilang, akhirnya timbang kilo," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/sopir-opelet_20160421_170037.jpg)