Liputan Khusus

Dulu Kelola 60 Unit Armada Angkutan

Akhirnya Hasani, ayah dari Mahyudin, membuka CV sendiri, karena pada saat itu kondisinya sangat menguntungkan.

Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Seorang sopir opelet sedang menunggu penumpang di kawasan persimpangan Jl Sisingamangaraja - Jl Tanjungpura, Pontianak, Kalbar, Senin (18/4/2016). 

TRIBUNPONTIANAK,CO.ID, PONTIANAK - Pengelola angkot yang dulunya mengelola 60 armada, Mahyudin (47), juga sudah menjual opeletnya. Dulunya ia bersama sang ayah Hasani (60-an akhir) mengelola kurang lebih sebanyak 60 armada angkutan kota di Pontianak pada semua jurusan.

Di antaranya Kapuas-Nipah Kuning, Kp Bali-Kota Baru, Soedarso-Kapuas, Kp Bali-Sungai Jawi dan jurusan lainnya yang dulunya masih aktif. Kini dirinya dengan sang ayah tidak lagi mengelola usahanya tersebut dan CV yang dulu dimilikinya resmi dinyatakan bubar.

Saat ditemui di kediamannya di Sungai Jawi, Gang Gunung Lawit, Mahyudin, bercerita bahwa ayahnya dulu merintis usaha ini dari nol.

Dulu ayahnya juga adalah sopir angkutan umum, sempat menjadi penjaga malam (satpam) hingga akhirnya menjadi seorang pendiri CV bernama CV Putra Jasa.

Dulunya sebelum CV Putra Jasa berdiri, pada awal mula ayahnya tergabung di Koperasi Kopmapon dengan armada sebanyak 60 armada, setelah dianggap kurang mampu mengelola karena kewalahan dalam mengelola.

Akhirnya Hasani, ayah dari Mahyudin, membuka CV sendiri, karena pada saat itu kondisinya sangat menguntungkan. Selain penumpang ramai, angkot juga tidak seperti sekarang yang mencari-cari penumpangnya.

"Dulu penumpang yang cari opelet, sekarang kebalik oplet yang cari penumpang," kata Mahyudin.

Era keemasan opelet menurut Mahyudi sekitar tahun 90 an sampai awal-awal 2000 an. "Tahun ramai sekitar 1990-an masuk ke tahun 2000 mulai berkurang terakhir 2012 atau 2011 makin surut.

"Sebenarnya Kita diberikan peluang dan kemudahan kepengurusan dari pemerintah, tapi ya bagaimana biaya operasionalnya lebih besar," kata ayah dua anak ini.

Mahyudin memiliki 6 saudara, tetapi hanya dirinyalah yang melanjutkan usaha milik ayahnya dulu. "Saya 6 bersaudara, tapi cuman saya sendiri saja yang meneruskan usaha orangtua," katanya.

Menurutnya dulu dengan sekarang sangat jauh berbeda, penumpang mungkin ada tapi tidak sesuai pendapatannya. "Pemasukan sangat jauh dari tahun-tahun sebelumnya penumpang memang masih ada tapi pemasukan tidak sesuai dengan biaya operasional akhirnya CV saya nyatakan bubar karena biaya operasional lebih besar dari pemasukannya," katanya.

Lanjutnya, sebenarnya untuk jurusan-jurusan yang sudah mati sekarang bukan mati tetapi sudah tidak aktif lagi. "Pancasila merdeka drop, mati si ndak karena memang sudah tidak aktif lagi lah, pemasukan tidak sebanding pengeluaran," katanya.

Menurutnya kita juga tidak bisa menyalahkan pemerintah maupun mulai ramainya kendaraan bermotor roda dua,karena itu sebenarnya satu diantara faktor lain. "Sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan pemerintah ataupun sepeda motor banyak, kayaknya udah cukup lah, kondisi terminal pun sudah begitu memprihatinkan," ungkapnya pasrah.

Dulunya, Mahyudin mengatakan meskipun dirinya memiliki banyak saudara yaitu 6 orang dari penghasilan ayahnya sendiri itu sudah mencukupi keburuhan keluarga mereka.

"Untuk mencukupi kebutuhan 6 orang anak mencukupilah, dikatakan cukup ya cukup. Memang sekarang berdampak benar ya sekarang gini lah nganggur Kalau ade kawan ngajak kerja kemana- mana kita kerjekan lah, yang penting halal," katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved