Sanggar Andari Tenar dari Mulut ke Mulut

Kini, sanggar telah memiliki tempat sendiri. Anak-anak yang belajar menari pun relatif banyak

Tayang:
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Arief
IST
Para penari dari Sanggar Andari berlatih jelang pementasan Pesona Khatulistiwa di Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung, belum lama ini. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Semakin dalam menyelami dunia tari, semakin membuka mata seorang penari, koreografer, sekaligus pemilik sanggar Andari Pontianak, Kusmindari Triwati MSn.

Dunia tari ternyata dunia yang begitu luas, tak terbatas pada gerak ritmis, namun juga terkait perkara kostum, properti, hentak dan alun musik, gebyar lampu dan tata panggung, serta tata rias penari.

Inilah dunia yang aka terus digeluti Kak Dai, panggilan akrab Kasi Peningkatan Mutu UPT Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat ini.

Di luar batas kemampuannya, hampir separuh usianya, ia dedikasikan pada dunia seni tari di Kalimantan Barat. Sanggar Andari yang ia dirikan bersama keluarganya, kini telah berusia 32 tahun. Ibu satu anak ini, selalu meyakini bahwa ia hanya menjalankan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Sanggar yang beralamat di Jalan Halmahera I nomor 85 ini pernah latihan secara berpindah-pindah. Di tahun 80-an, Sanggar Andari pernah latihan di Gedung Arena Remaja yang sekarang berdiri bangunan Pontianak Convention Centre. Pernah juga berlatih di SMP Negeri 3 Pontianak.

"Kini, sanggar telah memiliki tempat sendiri. Anak-anak yang belajar menari pun relatif banyak. Dan alhamdulillah, Andari memiliki generasi penerus yang memiliki kemampuan melatih dan mencipta tari," kata seniwati kelahiran Singkawang 52 tahun silam kepada Tribunpontianak.co.id, Jumat (15/4/2016).

Sanggar Andari tidak pernah melakukan regenerasi secara khusus. Nama besarnya tumbuh secara konvensional dari mulut ke mulut. Tidak pernah membuat booklet atau brosur.

Sanggar ini dikelola berbasis manajemen terbuka. Sudah dari awal memang digagas sebagai tempat belajar menari bagi siapa saja, kalangan apa saja. Sanggar tidak pernah dijalankan sebagai tempat kursus yang berorientasi pada laba.

"Menari itu perlu proses pendidikan, bukan hanya menghafal gerakan semata. Barangkali ini yang membuat masyarakat senang dan mempercayakan anak-anak mereka untuk dididik di sanggar," jelas alumni STSI Bandung tersebut.

Berbagai prestasi telah diraih Sanggar Andari. Mulai dari festival tingkat kota, provinsi, nasional, bahkan internasional. Tangan dingin Kak Dai telah mengantar penari-penari Sanggar Andari tampil di panggung IGA Rostock Expo Jerman dan Expo Sevilla, Spanyol. Pernah juga memeriahkan HUT RI ke-50 di Australia.

"Meraih juara dalam festival tari di kota Pontianak maupun Provinsi Kalimantan Barat tidak lagi menjadi target utama saya. Saya serahkan pada penerus Andari, seperti Budi dan Ulan untuk belajar berkompetisi," katanya.

Pada 16 April 2016, Sanggar Andari bekerja sama dengan UPT Taman Budaya Kalimantan Barat menyelenggarakan pementasan Pesona Khatulistiwa di Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung.

Tari-tarian unggulan yang pernah di pentaskan di Eropa dan Australia akan dipentaskan dihadapan praktisi seni tari di kota kembang.

Ada beberapa karya tari bernuansa Melayu yang akan dipentaskan, antara lain Tari Rampak Rebana, Tari Selap, Tari Lenggak Lenggok Nak Dare, Tari Kembang Pesisir, Tari Tempurung, Tari Pak Dung Dang Dung, Tari Bujang Bekaseh, dan Tari Itok lah Kamek.

Selain tari bernuansa Melayu, ada sebuah tari khas Dayak Berjudul Tari Si Bungsu yang akan dimainkan oleh Gabriel dan Benny.

"Tari kolaborasi dua penari senior ini terlihat apik karena memanfaatkan gong dan kenong sebagai properti," tutupnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved