Kisah Pria Selamat dari Serangan Teroris

Ketika tak lagi mendengar bunyi tembakan, Charles bersama seorang rekannya langsung berlari kencang ke arah mobil, dan lalu kabur.

Editor: Steven Greatness
SIA-KAMBOU / AFP
Para pegawai hotel dikerahkan untuk mengangkut korban tewas dalam serangan teror di lokasi wisata Grand-Bassam, Pantai Gading, Minggu (14/3/2016). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, GRAND BASSAM - Seorang yang selamat dari serangan teroris Al Qaeda di kawasan wisata Grand Bassam, Pantai Gading, menggambarkan suasana yang mencekam ketika peristiwa terjadi.

Warga Perancis bernama Charles-Philippe d'Orleans, mengaku berada di pantai saat penembakan terjadi, Minggu (13/3/2016).

"Saya mendengar letusan tembakan yang pertama, saya pikir itu kembang api," kata dia seperti dikutip Kantor Berita Associated Press, Senin (14/3/2016).

Namun kemudian, Charles mendengar bunyi tembakan lainnya, dan semakin lama semakin dekat.

"Seorang petugas keamanan di resort itu sempat meminta para turis untuk tidak khawatir," kata Charles.

Dia mengatakan, ketika sejumlah anak muda yang melakukan penyerangan ke arah akses pantai yang berbayar, petugas keamanan mulai melepaskan tembakan ke udara.

"Tapi hal itu tak mampu menghalau mereka," kata Charles. "Kami pun kabur dan berlindung di balik dinding," kata dia lagi.

Ketika tak lagi mendengar bunyi tembakan, Charles bersama seorang rekannya langsung berlari kencang ke arah mobil, dan lalu kabur.

"Saat kami tahu kami selamat, kami merasa telah melewati sebuah peristiwa yang mencekam," kata dia lagi.

Sementara itu, Francois Tanon, seorang warga yang biasa menyewakan kursi santai bagi wisatawan di pinggir pantai, menyesalkan insiden itu.

"Sehari-hari kami bekerja di sini, melayani para turis asing yang datang untuk bersantai. Tapi dengan kejadian ini, kami yakin para turis itu tak akan kembali lagi," keluh dia.

Sebelumnya diberitakan, kelompok militan yang berafiliasi dengan Al Qaeda mengaku bertanggung jawab atas serangan ini.

Serangan di tiga hotel di kota wisata Grand-Bassam itu mengakibatkan setidaknya 14 warga sipil dan dua anggota militer Pantai Gading tewas.

Menteri Dalam Negeri Hamed Bakayoko menambahkan, seorang warga Jerman dan seorang warga Perancis termasuk di antara korban tewas.

SITE Intelligence Group, sebuah organisasi monitor berbasis di AS, menyebut, kelompok Al Qaeda di Wilayah Maghribi (AQIM) berada di belakang serangan tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved