Gerhana Matahari Total

Lucu, Inilah Alat yang Dipakai Tionghoa Kalbar Zaman Dulu untuk Melihat Gerhana

Budayawan Tionghoa Kalbar mengatakan, perubahan zaman sangat mempengaruhi fenomena alam apalagi sekarang sudah mempunyai teknologi yang maju.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Budayawan Tionghoa Kalbar Xaverius Fuad Asali mengatakan, perubahan zaman sangat mempengaruhi fenomena alam apalagi sekarang sudah mempunyai teknologi yang maju.

Sewaktu ia masih kecil kurang lebih 80 tahun yang lalu, ibunya bercerita bahwa pada fenomena bulan purnama terjadi karena adanya anjing langit yang memakan bulan.

“Maka kita ada istilah barang-barang yang bekas jangan dibuang, karena sewaktu-waktu bisa dipakai,” ucapnya di ruang kerja, Selasa (8/3).

Dikatannya istilah itu merujuk pada sifat hemat, tetapi arti dari tidak membuang barang bekas adalah untuk digunakan orang kampung membuat keributan dengan cara dipukul agar anjing langit mendengar dan kemudian lari.

“Padahal itu alamiah, dia mulai gelap sebentar, tahu-tahu terang lagi, tetapi waktu itu anjing tidak jadi makan, atau makan namun di lepas, waktu kecil kita percaya,” ceritanya.

Diakuinya ia tidak pernah melihat gerhana matahari karena takut akan dampaknya. Apalagi zaman dulu tidak ada teknologi seperti sekarang. “Paling gelas dikasi hitam-hitam seperti dari pantat kuali dioles untuk melihat,” ungkapnya.

Ia mengingatkan masyarakat yang ingin melihat sebaiknya menggunakan alat yang sesuai agar pada waktu sinarnya tampak tidak merusak mata.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved