Gerhana Matahari Total
Jangan Lihat Gerhana Matahari Lebih dari Dua Menit
Pas di waktu bulan masuk menutup matahari tidak ada masalah. Tapi ketika bulan meninggalkan matahari itu yang harus disiasati dan dihindari
Penulis: Rizky Zulham | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Fenomena alam tertutupnya matahari oleh bulan atau lebih dikenal dengan nama gerhana matahari akan terjadi di Kota Pontianak pada 9 Maret 2016.
Gerhana matahari yang terjadi di Kota Pontianak diprediksikan sekitar 92,9 persen. Untuk daerah di Kalimantan Barat yang mengalami gerhana matahari penuh terjadi di Kendawangan dan Manis Mata.
Kepala Lapan Pontianak, Muzirwan menuturkan, Muzirwan, fenomena matahari ini pada intinya merupakan fenomena alam biasa. Hanya saja yang perlu diwaspadai ketika posisi bulan meninggalkan kembali, di mana sinar matahari kembali terpancar.
"Pas di waktu bulan masuk menutup matahari tidak ada masalah. Tapi ketika bulan meninggalkan matahari itu yang harus disiasati dan dihindari," ujarnya saat menghadiri rapat koordinasi kegiatan pengamatan gerhana matahari di ruang rapat Wakil Wali Kota Pontianak, Selasa (1/3/2016).
Efek yang ditimbulkan ketika melihat fenomena bulan meninggalkan matahari dan kembalinya sinar matahari akan terasa setelah beberapa waktu kemudian.
"Dampaknya tidak langsung terasa namun beberapa waktu setelah itu. Sebaiknya masyarakat jangan terlalu terlena dan melihat lebih dari dua menit. Lebih baik lagi tidak melihat secara langsung atau dengan menggunakan kacamata khusus," jelasnya.
Disamping itu, fenomena ini sendiri memiliki unsur edukasi di dalamnya. Masyarakat bisa menyaksikan langsung fenomena yang sangat jarang terjadi. Bumi akan gelap tepat di titiknya lantaran sinar matahari terhalang oleh bulan, layaknya malam hari.
"Dalam hal ini kita menekankan unsur edukasi pada tata surya," katanya.
Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menuturkan dalam menghadapi fenomena alam yaitu gerhana matahari total di Kota Pontianak, pihaknya akan menitikkan dua lokasi yaitu di Kantor Lapan Siantan dan Halaman Masjid Raya Mujahidin.
"Kita memberikan ruang kepada warga di dua tempat, pertama di Lapan dan di halaman Masjid Mujahidin dengan menggunakan teropong dan kacamata," ujarnya.
Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat yang ingin menyaksikan langsung fenomena ini agar dapat menggunakan kacamata pelindung atau teropong khusus.
"Kita mengimbau kepada masyarakat untuk tidak secara langsung melihat proses tersebut dan harus menggunakan alat. Karena yang bahaya itu pada saat matahri terang kembali, lidah cahaya matahari bisa merusak retina," ujarnya.