BI Melihat Ancaman dan Peluang MEA
Secara sektoral kata Dwi ekonomi Kalbar yang di dominasi oleh sektor primer seperti pertanian, perkebunan khususnya karet.
Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar Seminar Interaktif dengan tema "Melihat Peluang dan Potensi Ekonomi di Kalbar" pada Rabu (24/2/2016) bertempat di Hotel Santika Jl Diponegoro no 46 Pontianak. Seminar Interaktif dihadiri seluruh media baik cetak maupun elektronik yang ada di Kota Pontianak.
Selain itu turut hadir Wakil Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Dwi Suslamanto, Perwakilan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kalbar, M Rizal Edwin, Manager Area Bank Mandiri Pontianak, Nanang Wisnugroho serta pengamat Ekonomi Untan, Ali Nasrun.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Dwi Suslamanto dalam dialog interaktif dengan tema "Melihat Peluang dan Potensi Ekonomi di Kalbar" mengatakan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) jangan hanya melihat peluang tetapi ancaman. Tetapi masyarakat harus melihat kekuatan dan kelemahan.
Secara sektoral kata Dwi ekonomi Kalbar yang di dominasi oleh sektor primer seperti pertanian, perkebunan khususnya karet. Sehingga jika harga karet mengalami penurunan secara otomatis kata Dwi, konsumsi mengalami penurunan maka pertumbuhan ekonomi juga mengalami penurunan. Karena orientasinya ekspor bahan mentah, maka kata Dwi merupakan sebuah ancaman.
"Ini adalah ancaman bahwa pertumbuhan ekonomi global negara-negara pengimpor sedang melemah dari sisi lain harga komoditas ngikut turun. Ini adalah ancaman kedepan, dari segi peluang petensi konsumer besar karena penduduk kita jika di MEA hampir 50 persen masyarakatnya dari Indonesia, PDB juga begitu,"ujarnya.
Melihat demografi kata Dwi peluang kekuatan permintaan Indonesia cukup besar. Kemudian kata Dwi sebelum mengekspor seharusnya melihat terlebih dahulu pasar lokal yang justru dilirik ASEAN. Karena pasar lokal luar biasa luas, sayang kata Dwi jika tidak dimanfaatkan, potensinya adalah UMKM.
Peluang lainnya kata Dwi Kalbar memiliki jalur perdagangan yang sangat strategis. Seperti pelabuhan Kijing. "Dibandingkan barang yang harus melalui Jakarta, biayanya mahal karena nambah biaya. Selain itu waktunya yang digunakan memakan waktu yang lama. Pelabuhan Kijing juga memenuhi sebagai pelabuhan samudera, mau ke China dan Jepang gampang sekali," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/seminar-interaktif-dengan-tema_20160224_223853.jpg)