Tribun on Focus
Nursyam: Dokter Indonesia Nomor Satu di ASEAN
Namun ketika ia balik ke Indonesia mengecewakan rakyat. Itu karena kelemahan dalam kemampuan komunikasi mereka.
Penulis: Dedy | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalbar, Nursyam Ibrahim menyatakan bahwa Indonesia sudah siap untuk bersaing di Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Menurutnya, urusan kompetisi dan keahlian dokter Indonesia sudah sangat baik. Kemudian payung hukum juga sudah diatur undang-undang dan standardisasi juga ada.
Namun menurutnya, persoalan di Indonesia adalah pada praktik di lapangan yang masih menjadi masalah dan tantangan.
"Untuk menghadapi MEA, regulasi dari Indonesia kan telah dipersiapan sejak 1999 termasuk di dalamnya soal tenaga kerja asing yang masuk di kita. Meskipun demikian hinga sampai ini kekhawatarin kita sama dengan profesi-profesi lain," kata Nursyam saat menjadi narasumber Tribun on Focus di Tribun Pontianak, Rabu (27/1/2016).
Nursyam menjelaskan, dokter Indonesia bisa menjadi juara 1 jika ada pertandingan kompetensi dokter di ASEAN. Ia mencontohtohkan untuk ahli bedah jantung, dokter terbaik di ASEAN adalah orang Indonesia.
Namun ketika ia balik ke Indonesia mengecewakan rakyat. Itu karena kelemahan dalam kemampuan komunikasi mereka.
"Kita sadar dokter kita, kurang komunikatif. Seharusnya apa yang harus dilakukan dokter dan dijelaskan terkait penyakitnya tidak disampaikan atau dikomunikasikan lansung ke pasien namun dititipkan melalui perawat," ujarnya.
Kondisi ini menurut Nursyam bukan karena kesalahan pendidikanya, melainkan karena dokter enggan mempraktikkannya.
Sebelumnya diberitakan, Tribun Pontianak kembali menggelar Tribun on Focus edisi Januari 2016 di Kantor Tribun Pontianak pada Rabu (27/1/2016) pagi. Kali ini tema yang diangkat adalah "Peluang danTantangan Delapan Profesi di Era MEA".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/nursyam-ibrahim-2_20160127_121855.jpg)