Telah Mengelilingi 37 Negara di Dunia, Kini Dua Backpacker Asal Ukraina Singgah ke Pontianak
Dua backpacker asal Rivne, Ukraina, Iryna Shapoval (27) dan Anatoliy Shevtsov (23) tiba di Pontianak, Kalbar, Senin (13/12/2015).
Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dua backpacker asal Rivne, Ukraina, Iryna Shapoval (27) dan Anatoliy Shevtsov (23) tiba di Pontianak, Kalbar, Senin (13/12/2015).
Tribun berkesempatan mewawancarai keduanya dengan didampingi tiga teman komunitas Couchsurfing asal Pontianak, yakni Ferdian Fauzie, Eric Destian dan Raidita Amalia di lantai dua, satu di antara toko modern di Jl Gajahmada.
"Menariknya di sini banyak motor, kendaraan di sini sebelah kiri jalan, kalau di tempat kami sebelah kanan jalan. Uniknya, salah jalan pun tidak ada yang marah, sedangkan di Ukraina, pengendara yang salah jalan dengan tidak memberikan tanda akan dimarah pengendara lain," jelas Iryna, Kamis (17/12/2015).
Pontianak menurut informasi yang diperoleh keduanya, merupakan kota yang dilintasi garis Khatulistiwa, sehingga keduanya berasumsi Pontianak bercuaca panas, namun cukup terkejut saat tiba, justru dingin, karena sedang dalam musim hujan.
"Kami terkejut komunitas Couchsurfing di sini tidak seperti di sana, kalau di sini anggotanya saling mengenal seperti keluarga besar. Berbeda dengan negara-negara lain yang lebih individual," terangnya.
Iryna yang fasih berbahasa Inggris, mengaku sebelum tiba di kawasan Asia, keduanya telah traveling mengelilingi 37 negara di dunia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Dan kini, mereka menargetkan akan menghabiskan waktu selama 180 hari untuk menuju rute-rute yang ingin dituju di Asia.
"Pertama kali tiba di Asia, pengalaman paling menarik setelah tiba di Asia menurut saya sangat berbeda, terutama cuaca, kalau di Ukraina itu sedang dalam musim salju pada bulan Desember ini mengharuskan menggunakan jaket tebal. Sementara kalau di Asia memasuki musim hujan, sangat berbeda sekali," ungkapnya.
Anatoliy menuturkan keduanya usai tiba di Pontianak, berencana melanjutkan perjalanannya menuju Banjarmasin, dan nantinya akan menggunakan kapal menyeberang ke Surabaya.
"Kami tidak memiliki pilihan, walaupun dengan cuaca ekstrim, kami harus tetap terus berjalan. Kami harus siap dengan segala keadaan," tutur Anatoliy
Gadis berambut pirang ini menambahkan perbandingan mencolok terlihat, kota-kota di Asia sangat padat, dan banyak dihiasi papan reklame di tepi-tepi jalan. Sedangkan di Ukraina lalulintas tidak terlalu padat, di jalanan juga tidak dipenuhi reklame.
"Masakan di Asia juga berbeda sekali dengan masakan yang biasa kami konsumsi di Ukraina. Kalau di Ukraina cenderung mengkonsumsi sayur segar. Sementara di Indonesia kebanyakan sayurnya harus dimasak terlebih dahulu, baik dengan direbus atau digoreng (tumis)," tambahnya.
Menurut Iryna di Indonesia banyak makanan pedas, sedangkan kami di Ukraina tidak begitu menyukai makanan pedas, biasanya kami di sana mengkonsumsi seperti yogurt, susu, dan produk Dairy lainnya. Sehingga keduanya harus membawa bekal bumbu sendiri dari Ukraina.
Walaupun Iryna merupakan lulusan Desainer Digital di Computer Academy "Shag", namun bertolak belakang dengan pekerjaannya sekarang sebagai jurnalis di media online travelbelka.ru/iryna. Sementara Anatoliy merupakan seorang lulusan Auto Mechanical.
Menurutnya, dalam perjalanan tersebut tentu menemukan sejumlah kendala. Rute perjalanan yang sangat jauh cukup melelahkan, keduanya kesulitan saat harus membawa tas yang bermuatan penuh.
"Terkadang kami merindukan kampung halaman, terutama keluarga dan teman-teman. Selain itu, kami kesulitan untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal yang tidak mengerti berbahasa Inggris," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/dua-backpacker-asal-rivne_20151217_195105.jpg)