Opini
Dayak "Urban" dalam Refleksi Budaya
Beberapa penelitian psikologi mengungkapkan generasi tersebut paling bahagia karena sebagai penikmat awal berbagai cikal bakal teknologi komputer.
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Mirna Tribun
Oleh: Bambang Bider
Apakah Anda generasi yang lahir antara tahun 70 hingga 90-an? Beberapa penelitian psikologi mengungkapkan generasi tersebut paling bahagia karena sebagai penikmat awal berbagai cikal bakal teknologi komputer dan komunikasi. Generasi penikmat awal televisi tabung dioda hitam putih. Generasi transisi yang menggunakan pager untuk selanjutnya menemukan jalan inovasi bagi telepon satelit, handphone, dan gadget paling canggih yang memicu lahirnya abad digital sekarang.
Bagi generasi Dayak, kita mungkin generasi terakhir yang masih merasakan bahagianya bermain di halaman rumah luas, rumah panjang, mengolah beras dengan lesung, membantu orang tua di ladang, menggunakan pelita damar atau lampu petromak minyak tanah merek strong king sebagai penerangan saat beraktivitas maupun belajar, mandi dan bercanda di sungai-sungai bening, serta bermain di bawah rindang pohon-pohon tanpa khawatir. Generasi yang dari rerimbunan rimba masih mendengarkan lengkingan suara siamang dan ayam hutan. Generasi-generasi yang kemudian menjadi pelopor dari "kampung" lalu sukses dalam bidang masing-masing di kota.
Lalu generasi kita melahirkan generasi urban yang lebih keranjingan menyendiri di kamar, komunikasi lewat video call, MMS dan SMS, asik sendiri ketika seharusnya berkumpul bersama di meja makan atau ruang keluarga untuk sekedar bercengkrama dengan anggota keluarga lainnya. Betapa internet telah merevolusi pola hubungan personal, budaya, ekonomi dan politik kita melalui media sosial (medsos) menjadi campur aduk.
Generasi urban melahap semua siaran termasuk iklan dan program "sampah" di televisi yang membangun sikap budaya masyarakat Dayak urban. Lalu muncul gadget yang kemudahannya membangun pragmatisme budaya, membangun generasi Dayak yang hanya mampu berwacana tetapi malas berpikir dan bertindak.
Di daerah-daerah seperti Kab. Melawi, Kapuas Hulu, Ketapang, Sintang dan Bengkayang hingga sekarang, waktu berjalan tidak selambat dulu. Memang beberapa orang masih sibuk mencari spot-spot signal ponsel hingga ke dataran tinggi.
Ada pula yang bergantian memanjat atau menggerek ponsel ke atas pohon seperti hendak mengibarkan bendera. Ngega' sinyal kata mereka. Pemandangan tersebut sudah lumrah satu dekade lalu saat teknologi informasi mulai merambah hingga ke pelosok Kalimantan Barat. Lalu tiba-tiba kita sadar, tidak ada lagi yang dinamakan "pedalaman" di Kalimantan Barat ini.
Dulu ingin mengirim kabar ke kampung mesti lewat siaran radio, telegram atau surat. Kiriman dari kampung baru tiba berminggu-minggu kemudian. Sekarang tentu tidak "serepot" dulu mau minta kiriman tinggal SMS saja, mudah dan murah. Tentu kita harus bersyukur atas manfaat yang besar dari perkembangan teknologi komunikasi. Demikian pula upaya pembangunan di sektor lain seperti transportasi, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lainnya yang terus mengalami perbaikan.
Teknologi informasi benar-benar telah mengubah budaya komunikasi dan hubungan kita menjadi lebih mudah, juga menjadi tanpa batas. Teknologi komunikasi dan informasi tentu saja memiliki dampak positif yang luar biasa di berbagai aspek, namun harus diakui memiliki sisi lain, ibarat pedang bermata dua.
Budaya urban "mendatangi" kita tidak dalam masa puluhan tahun sebagaimana dimasa lalu. Namun ia mengunjingi kita hingga ke ruang-ruang privat melalui teknologi komunikasi yang kian canggih. Melalui apa yang kita konsumsi dalam jinjingan kantong plastik, apa yang kita pakai, apa yang kita pikirkan, kita pelajari dan apa yang kita yakini. Kita sekarang hidup dalam desa global kata Marshal MaClluhan tanpa batas.
Dayak "Urban"
Pada satu titik, kita pernah gelisah. Seolah-olah modernisasi, globalisasi, liberarlisasi-entah apalagi-dengan berbagai dampaknya akan menelan kebudayaan Dayak yang luhur, sebagaimana kita juga khawatir akan dampak masif dari perkembangan budaya digital yang kian menyeragamkan kebudayaan dunia. Namun tentu saja, kita pula penuh optimisme bahwa kebudyaan Dayak urban tengah mencari bentuk di tengah pergumulannya dewasa ini.
Kebudayaan yang terus menerus mengalami dinamika untuk mencari bentuk, namun tidak pernah menemukan bentuknya lagi karena tidak mampu dimaknai. Jameson mengungkapkan perubahan tersebut sebagai "perubahan abadi" dimana kita tidak lagi mampu menemukan siklus kedalaman nilai-nilai spiritual, mitos, dan ideologi. Yang kita terima hanyalah sebuah repetisi yang dangkal. Kita ingin menemukan hal yang berarti, namun akar kebudayaan mengalami ketercerabutan akibat profanisasi.
Sebagai manusia Dayak yang menghidupi realitas, kita menangkap beragam tanda dan simbol yang melintas. Namun karena demikian cepatnya lalulintas, sirkulasi dan distribusi tanda dan simbol - yang bahkan berulang-ulang manusia Dayak menjadi tidak memahami nilai dan makna apa-apa kecuali ritual semu dari pengulangan demi pengulangan. Manusia Dayak urban terhipnotis oleh kecepatan penggantian ini dan terperangkap dalam pengulangan yang dangkal.
Dewasa ini, ketika kecepatan peristiwa melanda belahan-belahan dunia, hal itu tidak ubah sebagai sekresi konsumsi. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya - kebudayaan Dayak urban lahir dari cara memanfaatkan barang, teknologi dan berbagai sumberdaya yang ada. Kebudayaan massa yang lahir dari sebuah tuntutan globalisasi ekonomi, teknologi, politik dan informasi yang kemudian tumbuh menjadi sikap pragmatisme budaya, politik, dan "perpeloncoan" ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/bambang_20151202_213408.jpg)