Opini

Ini Bukan Presidenku yang Dulu

ekarang kau berubah, berubah menjadi sesosok mahluk halus yang mudah dimasuki bisikan-bisikan kemajemukan kematian.

Penulis: Mirna Tribun | Editor: Mirna Tribun
Net
Ilustrasi 

Oleh: Oki Juliansyah

Terlihat sesosok tinggi kurus berdiri tegak berkiblat ke negeri barat. Berbaju kotak-kotak ala negeri timur. Pancaran panorama retorika kehidupan mulai dimainkan. Bisikan sengit berlomba-lomba mengubah paras wajah pribumi dari sabang sampai marauke terlihat pucat pasi. Pribumi yang mengelus dada disambet Rp 50.000 ribu untuk berubah haluan. Ah, sudahlah !! yang penting makan.

Memang tak cukup mengubah haluan demi negeri ini. Apalagi negeri ini penuh dengan lezatan-lezatan yang berlimpah dari perut bumi yang tak akan habis kalau hanya pribumi yang memakannya. Apalah daya robot-robot telah memasuki raga kami para pribumi dari lilitan kalkulus matematika.

Naik.... Naik.... Naik, itu lah yang terlontar dari para pemilik kepentingan, mengangkatmu kejenjang yang lebih tinggi bertahta permaisuri. Sekarang kau berubah, berubah menjadi sesosok mahluk halus yang mudah dimasuki bisikan-bisikan kemajemukan kematian. Lantakan satu persatu tepat mengenai hati mu. Makin keras hatimu!!. keras sekali, sekali-kali keras. keras... keras... dan keras. Apa yang engkau pikirkan wahai presidenku. Kami menunggumu kembali seperti dulu. Wong cilik yang memecah langit nusantara terdengar merakyat.

Sambutlah tangan kami yang merindukanmu untuk membuat gerakan yang menakutkan demi para pribumi dari sudut timur matahari. Matahari sekarang tidak seperti biasanya. Banyak tertutup kabut kemunafikan ala simpanse yang bergantungan menunggu lemparan-lemparan keuntungan. Haruskah kami diam seperti ini. Melihat kau berpura-pura baik didepan pribumi. Padahal dibelakang, kau diserunduk banteng-banteng para pecandu kekuasaan.

Kemana presidenku yang dulu. Presiden yang ku banggakan, dengan wawasan yang tinggi, ide yang cemerlang, pergerakan yang masif. kemana sekarang !!. Apakah kau masih disana wahai presidenku. ini bukan kau !!, aku yakin ini bukan kau. Bukan... Bukan... Bukan ..., kau tidak seperti itu.

Ini rengkarnasimu saja dari petugas partai yang dicapkan oleh ratu merah yang bertanduk. Kau bukan kernet partai yang ditarik ulur kemudian terhempas tak berkiblat. Kembali lah kekiblatmu wahai presidenku yang sesungguhnya. Kami rindu ide mu yang cemerlang, gerakanmu yang gesit, tanganmu yang berbuat. Bukan yang sekarang ini, janji yang tak berbobot. Ini bukan kau !! Wahai presiden ku, kau itu terarah dan berpendidikan.

Kembali lah .... !!!. Kembali lah ..... !!!. Kembali lah .... Wong cilik .

Penulis: Aktivis KAMMI Kota Pontianak

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved