Opini
Jual Suara
Etika politik itu omong kosong. Orang yang mau terjun ke politik harus gunakan ajaran Machiavelli. Gunakan segala cara. Yang penting tujuan tercapai.
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Mirna Tribun
Oleh P. Florus
Ada 4 orang pemuda berdiskusi seru di sebuah rumah makan. Saya dengan 2 teman duduk di sebelah meja mereka, sehingga dengan jelas dapat mendengar pembicaraan simpang-siur itu. Mungkin mereka sudah berdiskusi cukup lama. Saya hanya sempat memperhatikan dan merekam "episode" terakhir.
"Jual-beli suara itu sah saja. Itulah kenyataan dalam politik. Segala cara boleh digunakan", begitu kata seorang yang badannya paling gemuk di antara mereka.
"Bukan soal sah atau tidak sah jual-belinya. Kalau begitu, hanya orang kaya yang bisa jadi bupati, gubernur atau anggota dewan", sambut kawannya. "Itu namanya demokrasi abal-abal."
Kawan yang lain menimpali, "Mungkin rakyat sudah sadar, daripada diberi janji-janji muluk yang tak pernah ditepati, lebih baik tangkap saja uang yang disodorkan ke depan mata. Mumpung ada kesempatan. Kapan lagi bisa dapat uang dari para calon? Pilihan itu soal lain."
"Kau tak boleh apriori begitu," kata seorang di antara mereka yang sejak tadi jarang bicara.
Saya duga, dengan melihat tampangnya dan kaca mata tebal yang dipakainya, dia tipe pribadi pemikir. "Cukup banyak juga pejabat yang selalu memperjuangkan kepentingan rakyat. Memperoleh jabatan tidak dengan mengandalkan uang."
Setelah berhenti sejenak untuk menyeruput habis minuman tehnya, dia melanjutkan, "Menurut saya, kalau ketika Pilkada, kita jual suara, maka tidak etis lagi kita menuntut pejabat mengurus kepentingan kita lagi. Bukankah pejabat itu perlu mengembalikan modal yang telah digunakannya untuk beli suara?"
Seorang temannya langsung membantah, "Etika politik itu omong kosong. Orang yang mau terjun ke politik harus gunakan ajaran Machiavelli. Gunakan segala cara. Yang penting tujuan tercapai."
Pemuda berkacamata tebal itu terpancing. "Membaca ajaran Machiavelli, seperti dalam Il Principe, tidak boleh sepotong-sepotong. Machiavelli memang mengajarkan bahwa kekuasaan raja atau penguasa harus dipertahankan, dan harus digunakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat banyak.
Pada jaman itu, sistem pengaturan dan pembatasan kekuasaan belum ada. Banyak intrik licik untuk menjatuhkan penguasa. Nah, Machiavelli mengajarkan penguasa yang sah agar tegar dan tegas melawan semua cecunguk intrik yang berusaha menjatuhkannya dengan cara-cara ilegal. "
Tiba-tiba seorang di antara mereka menyapa saya. "Rasanya saya kenal Bapak." Dia berdiri, mendekati, lalu menyalami saya, mengenalkan diri. Setelah itu dia bertanya, "Bagaimana pendapat Bapak tentang omongan kami tadi?"
"Bagus", kata saya setengah berbasa-basi.
"Saya senang mendengarnya. Itu pertanda kalian tidak lagi apriori terhadap politik. Generasi kalian memang harus punya kesadaran tentang etika politik dan tujuan luhur politik , yaitu terselenggaranya kepentingan rakyat banyak. Dengan Pilkada langsung, misalnya, kita memilih pemimpin yang mau dan mampu mengurus kepentingan kita bersama. Setuju?"
Penulis Aktivis Pengembangan Ekonomi Kerakyatan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/p-florus-aktivis_20151001_112105.jpg)