Murah Banget, Soto Lezat Ini Harganya Cuma Rp 3 Ribu

Satu porsi soto berisikan nasi, kobis, tauge, suiran ayam, daun sledri, bawang goreng, dan disiram kuah soto berwarna bening.

Editor: Mirna Tribun
Tribun Jogja/ Hamim Thohari
Soto Sewu di Bantul (kanan), dinamai begitu karena harganya murah meriah. Satu porsi cuma Rp 3 ribu. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,BANTUL - Yogyakarta selama ini dikenal sebagai surganya makanan murah. Seringkali orang luar kota heran dengan harga makanan di Yogyakarta yang jauh lebih murah dibanding dengan kota besar lainya.

Satu tempat makan murah yang layak Anda kunjungi adalah Soto Sewu Bu Marto Ngatinah yang berada di Dusun Rukeman, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
Setiap harinya warung soto sederhana tersebut selalu ramai dikunjungi pembeli, karena harganya yang murah.

Soto Sewu di Bantul

Satu porsi soto ayam hanya dihargai Rp 3 ribu. Soto tersebut dikenal dengan sebutan nama Soto Sewu (soto seribu) karena menggambarkan murahnya hidangan tersebut.

"Dulu memang harganya seribu satu mangkuk, dan harga tersebut berlaku cukup lama. Jadi banyak orang yang mengenal soto ini dengan nama Soto Sewu, ujar Mbah Marto Ngatinah.

Meskipun harganya murah, rasa dari soto sewu tidaklah murahan. Satu porsi soto berisikan nasi, kobis, tauge, suiran ayam, daun sledri, bawang goreng, dan disiram kuah soto berwarna bening.

Rasa soto sewu ini sangat segar, dengan rasa rempah yang pas.

Pengunjung menyantap Soto Sewu secara lesehan di halaman belakang warung.

Dalam kuah soto yang selalu dipanaskan dalam wadah besar tersebut terdapat irisan daun loncang dan dan tomat, dimana irisan-irisan tersebut selalu diikutkan dalam satu porsi soto.
Keberadaan tomat dan daun loncang tersebut semakin menambah segar hidangan soto.

Menyantap soto akan semakin nikmat didampingi lauk, seperti tempe goreng, bakwan, tahu isi, kepala ayam. Selain menyediakan soto ayam, warung tersebut juga menyediakan nasi rames.

Setiap harinya warung soto tersebut buka dari jam 07.00 pagi hingga habis. Biasanya setelah jam makan siang, warung soto tersebut telah tutup.

Saat sarapan dan jam makan siang. Pengunjung harus rela antre untuk mendapatkan tempat duduk. Bahkan banyak pengunjung yang menikmati soto di halaman belakang warung soto tersebut dengan menggunakan tikar yang sudah disediakan.

Diceritakan Mbah Marto Ngatinah, warung soto tersebut telah ada sejak tahun 1993.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved