Pola Asuh Anak

Benarkah IQ Anak Dipengaruhi Urutan Kelahirannya?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di lingkungan sosial tersurat aturan tak tertulis mengenai bagaimana urutan kelahiran anak mempengaruhi perlakuan orang

Penulis: Leo Prima | Editor: Mirna Tribun
Net
Ilustrasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Jika bisa, rasanya banyak orangtua yang ingin agar anak-anak mereka tidak cepat tumbuh besar. Rasanya, jika bisa, para orangtua ingin agar anak mereka tetap menjadi anak-anak yang lucu, penurut, dan masih mau bermain bersama mama serta papa.

Namun, kenyataannya, anak tumbuh besar begitu cepat. Mereka memiliki teman dan aktivitas yang mereka anggap lebih menyenangkan ketimbang menghabiskan waktu dengan papa dan mama. Kondisi ini, lebih nyata terlihat pada si sulung yang sekejap waktu telah tumbuh menjadi seorang kakak yang membanggakan.

Sayangnya, si sulung yang memiliki banyak teman, sudah malas bermain-main dengan adiknya. Si sulung ingin melakukan banyak hal seorang diri atau hanya bersama teman-temannya. Sebenarnya, kapan sih waktu yang tepat untuk orangtua memberikan keleluasan untuk si sulung memiliki waktu sendiri dan sedikit kebebasan?

"Anak-anak perlu belajar mengambil keputusan sedini mungkin. Mereka harus dilatih untuk memutuskan apa yang ingin mereka lakukan dan apa yang harus mereka kerjakan saat menghadapi rasa bosan. Nah, salah satu cara melatih terbaik adalah saat mereka berada pada kondisi harus bertanggung jawab pada diri sendiri dan aktivitas yang mereka pilih," ujar Lenore Skenazy, penulis Free-Range Kids: How to Raise Safe, Self-Reliant Children (Without Going Nuts with Worry).

Kebebasan untuk memilih dan memutuskan, kata Skenazy, memberikan kesempatan melatih kemampuan si sulung dalam menyelesaikan masalah, berkompromi, dan berkomunikasi dengan teman-teman sebaya mereka.

Kemudian, mengenai kapan usia yang tepat bagi si sulung untuk diberi kelonggaraan agar lebih mandiri? Ternyata, menurut Jennifer Vadeboncoeur, Associate Professor di University of British Columbia, yang memiliki konsentrasi pada perkembangan manusia dalam berbudaya dan edukasi, mengatakan bahwa kesiapan seorang anak itu tergantung pada lingkungan keluarga dan sekitar rumah.

Selain itu, nilai-nilai sosial dalam keluarga juga mempengaruhi mental dan rasa percaya diri anak dalam beraktivitas mandiri. Memberikan kepercayaan dan kebebasan untuk mandiri pada si sulung, menurut Vadeboncoeur, bisa dilatih dengan memberikan tanggung jawab mengawasi sang adik.

Skenazy menyarankan para orangtua untuk membiasakan anak lebih mandiri saat mereka memasuki usia sekolah dasar. Misalnya, memberikan kepercayaan pada si sulung untuk bertanggung jawab memelihara hewan peliharaan, mencuci alat makan setelah digunakan, dan menemani adik saat menonton televisi. 

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di lingkungan sosial tersurat aturan tak tertulis mengenai bagaimana urutan kelahiran anak mempengaruhi perlakuan orangtua pada mereka.
Sebuah penelitian mengatakan, banyak orangtua lebih keras dalam mendidik anak pertama, hasil positifnya adalah statistik tingkat kecerdasan anak sulung lebih tinggi dibandingkan anak bungsu.

Masih menurut penelitan yang melibatkan 12.000 responden di Amerika Serikat ini, ditemukan 33,8 persen ibu mengaku anak pertama mereka lebih pintar di kelas.

Kemudian, para responden juga mengatakan bahwa perlakuan mereka terhadap anak sulung yang mendapatkan nilai jelek di sekolah, memang terbilang lebih keras ketimbang si bungsu yang memperoleh nilai buruk.

Selain itu, penelitian juga melaporkan, anak tengah dan anak bungsu memiliki waktu bermain dan menonton televisi lebih lama dibandingkan kakak mereka yang merupakan anak pertama.

Pada studi lain, tercatat pula bukti nyata yang mengklaim bahwa IQ anak pertama lebih tinggi dibandingkan anak kedua dan seterusnya.

"Sebenarnya tingkat kecerdasan dan intelegensia anak tak dipengaruhi oleh urutan kelahiran, tapi lebih kepada bagaimana pola asuh disiplin yang diterapkan orangtua pada masing-masing anak," ujar V. Joseph Host, Ketua Penelitian.

Masih menurut Host, secara alamiah sikap tegas orangtua lebih terarah pada anak pertama. Namun, sikap yang demikian terbilang lebih longgar terhadap anak kedua, apalagi anak bungsu. Bagi orangtua, si bungsu adalah si kecil yang selamanya selalu menjadi anak kecil di mata mereka. Tak heran jika sikap orangtua cenderung protektif pada anak bungsu. Alhasil, umumnya, si bungsu tumbuh menjadi oarng yang kurang percaya diri dan manja.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved