Jangan Remehkan Bila Anak Diare, Ini Cara Mengatasinya
Anak dikatakan diare apabila buang air besar cair atau lebih lembek dari biasanya sebanyak 3 kali dalam 24 jam atau lebih.
Penulis: Rivaldi Ade Musliadi | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Untuk para ibu tentu penting memperhatikan kelancaran BAB pada anak. Sebab bisa jadi anak mengalami diare, apalagi anak makan dengan pola tidak teratur.
Menurut dr. Mira Delima Asikin, yang merupakan satu di antara dokter di RS. Untan Pontianak, anak dikatakan diare apabila buang air besar cair atau lebih lembek dari biasanya sebanyak 3 kali dalam 24 jam atau lebih. Dan 80 persen penyebabnya adalah rotavirus.
"Jika ada lendir atau darah biasa dsebabkan oleh amuba atau bakteri lain penyebab diare, dan jika anak diare perhatikan warna, apakah ada lendir darah atau tidak, bau asam ,busuk, bau biasa, berbusa atau tidak, seberapa banyak, masih berampas atau tidak dan frekuensi buang air besar" ujarnya kepada Tribun.
Bila anak diare yang dikhawatirkan adalah kondisi kekurangan cairan yang disebut dehidrasi. Dehidrasi bisa diketahui jika pada anak tersebut ditemukan 2 dari 4 gejala, yaitu anak tampak rewel , minum seperti kehausan, mata terlihat cekung dan kulit kembali agak lama bila ditarik, bila kondisi dehidrasi lebih berat biasanya anak sudah sangat lemah sehingga sudah tidak mampu untuk minum.
Biasanya frekuensi buang air kecilnya juga berkurang, dan warnanya menjadi lebih pekat. Untuk bayi kadang bisa dilihat dari berat badan yang menurun.
"Jangan mudah memberikan anak diare dengan antibiotik, karena diare tanpa lendir darah 80 persen disebabkan oleh virus. Jika anak diare, apalagi mengalami tanda dehidrasi,segera bawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat, " tambahnya.
Cepat Atasi
Menurut dokter anak dr. Nevita Bachtiar yaang harus dilakukan oleh orang tua adalah, mencegah agar jangan sampai anak kekurangan cairan dengan cara memberikan cairan yang lebih banyak dan sering, bisa berupa cairan yang ada di rumah seperti air putih, susu, kuah sayuran, atau oralit.
“ Bila anak sudah tampak dehidrasi beri minum lebih banyak dan sesering mungkin,sampai gejala dehidrasi menghilang. Bila anak disertai muntah beri cairan sedikit sedikit tetapi lebih sering, bila anak tidak mau makan seperti biasa jangan dipaksa, tetapi tetap beri makanan sedikit sedikit, tetapi bila anak tidak bisa untuk minum segera bawa ke rumah sakit,” ujar Nevita.
Dikatakannya, diare pada anak bisa disebabkan oleh banyak hal, tetapi yang paling sering adalah diare cair yang disebabkan oleh virus, biasanya gejalanya sering diawali oleh muntah, demam, yang diikuti dengan diare cair, tanpa adanya lendir, darah, dan anak tidak terlihat mulas. Bila diarenya disebabkan oleh bakteri daire bisa disertai oleh lendir dan darah, anak tampak sangat mules dan menangis pada saat mau buang air besar.
Selain itu imbuhnya, orang tua juga harus segera membawa anak ke dokter untuk mendapatkan therapi yang tepat, jangan memberikan obat penyetop diare sembarangan pada anak, “ karena banyak kejadian ikutan yang terjadi karena pemberian obat penyetop diare pada anak, diare pada anak berbeda dengan diare pada orang dewasa, tambahnya. Pemberian antibiotik juga sangat selektif, sebab banyak juga antibiotik yang menyebabkan diare itu sendiri.
Nevita berpesan, kebersihan diri sangantlah penting, sering-sering mengganti popok dan membasuh pantat anak setiap habis diare, jangan lupa tangan orang tua dan anak juga dicuci bersih, biasakan anak-anak untuk mencuci tangan setiap habis bermain, dan sebelum makan. Karena diare bisa ditekan dengan kebiasaan mencuci tangan yang baik dan benar.
Pencegahan Diare
Dr. Nevita Bachtiar memberikan beberapa tips untuk mencegah diare pada anak.
-Teruskan pemberian Air Susu Ibu (ASI)