Kecelakaan Pesawat AirAsia

Jenazah Penumpang AirAsia Tak Lagi Memiliki Darah

Forensik tadi malam. Dua wanita kondisinya sudah jelek, beberapa bagian mudah lepas.

Penulis: Destriadi Yunas Jumasani | Editor: Arief

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Destriadi Yunas Jumasani dari Pangkalan Bun

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PANGKALAN BUN - Sebanyak 39 jenazah korban kecelakaan Air Asia QZ8501 sudah berhasil diidentifikasi awal di RSUD Imanuddin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (7/1/2015). Termasuk dua jenazah terakhir yang tiba dan telah diterbangkan ke Surabaya.

Dua jenazah terakhir yang ditemukan tim SAR gabungan, sudah menampakkan pembusukan lanjut. Kondisi tubuh diketahui sudah mengalami kerusakan.

"Forensik tadi malam. Dua wanita kondisinya sudah jelek, beberapa bagian mudah lepas. Sidik jari sudah tidak bisa. Hanya identifikasi awal jenis kelamin, usia dan ras saja. Yang mudah lepas itu kepala dan anggota gerak. Bagian tubuh inti masih ada, kerusakan hanya sampai sebatas anggota gerak," terang AKBP dr Sumy Hastry Purwanti.

Karena tidak lagi banyak bagian tubuh korban yang bisa dijadikan sumber data identifikasi secara cepat, maka DNA hanya bisa didapat dari bagian tubuh yang tersisa, seperti tulang dan gigi yang biasanya memerlukan waktu empat hari hingga satu minggu.

Selain itu, tim secara lengkap akan memeriksa dari dalam bagian tubuh korban dengan anggapan akan ada kemungkinan suatu ciri tertentu. Ciri-ciri korban sangat membantu proses identifikasi jenazah. Seperti kalau ada korban perempuan yang pernah melahirkan, atau mungkin pernah ada korban yang operasi usus buntu.

"Saat ini kondisi jenazah jika ditemukan kemungkinan kerusakan 80 persen, tahap skeletonisasi yaitu tinggal tulang belulang. Kondisi basah mempercepat pembusukan, terlebih terkena air laut. Jadi kami selamatkan bagian yang bisa diselamatkan, dibersihkan kemudian dibungkus ditutup rapat plastik, kayak di vacum gitu. Hal ini mengurangi pembusukan. Jenazah yang belum dikirim disimpan di lemari pendingin dengan suhu minus 20 derajat celcius tanpa bahan kimia," terang Kasubid Dokpel Bid Dokkes Polda Jateng ini.

Kondisi jenazah yang diyakini tidak lagi memiliki darah dan tidak lagi utuh, dapat memakan waktu sekitar empat hari hingga satu minggu, terlebih jenazah yang sudah membusuk akan memerlukan waktu lebih lama untuk identifikasi.

Air laut pun turut mempercepat proses pembusukan sel-sel jaringan kulit, sehingga dapat memperlambat identifikasi. "Kami ambil DNA dari tulang dan gigi, Kalau gigi nempel, odontologi bisa diperiksa bentuk giginya, kalau tidak dari tulangnya. Untuk keakurasian DNA dapat mencapai 99 persen," katanya yang mendapat perintah untuk membantu tim forensik di Surabaya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved