Breaking News:

Tahun 2020 Hutan di Kalbar Sudah Habis ?

InsyaAllah, jika ada kegiatan untuk audiensi ke pemerintah ide ini akan disampaikan

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Jamadin
Tahun 2020 Hutan di Kalbar Sudah Habis ?
Istimewa
Yayasan Palung saat mengadakan Diskusi Kampung, Tentang Orangutan, Keanekaragaman Kayati Konservasi dan Perubahan Iklim.
Citizen Reporter
 Petrus Kanisius ‘Pit’ | Yayasan Palung

KAMI  sebagai perangkat desa “Mencegah Ada, Merimba Ada, tapi mau bagaimana lagi?” masyarakat kami disini memang masih melakukan penebangan hutan dilakukan untuk kebutuhan tempat tinggal kami tidak untuk diperjualbelikan, apalagi kami berpikir seandainya hutan habis apa yang akan terjadi yang pastinya anak cucu kami tidak merasakan apa yang kami rasakan waktu jaman dahulu.

Pada waktu itu hutan masih lebat dan isi yang ada didalam hutan masih dinikmati, ujar Kades Sejahtera dalam sesi diskusi Kampung (Community Discussion-red) pada hari pertama yang diadakan di tiga desa (Pangkalan Buton, Sejahtera dan Harapan Mulia) oleh Yayasan Palung di Kabupaten Kayong Utara, pekan lalu, (12-14 juli 2014). 

Ungkapan rasa yang tercetus dalam diskusi ringan sembari menunggu buka puasa bersama, merupakan sepenggal cerita dari sekian banyak cerita lain di Desa Sejahtera. Bertempat di rumah Yahya selaku kepala dusun Sejahtera, 20 orang yang hadir yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 10 orang perempuan ikut dalam diskusi kampung tersebut. Diawali dengan pembukaan, selanjutnya dilanjutkan dengan materi yang di bawakan oleh Edward Tang dari Yayasan Palung. Pada sesi penyampaian materi, menjelaskan informasi yang ingin disampaikan berupa slide presentasi tentang materi “Hutan Dan Nilai Ekonomisnya”. 

Dalam slide Pertama : Menjelaskan tentang “Definisi Hutan”, slide Kedua : “Kondisi Hutan”, yang mana tahun ke tahun dimulai dengan tahun pertama 1950 hutan masih banyak dan ketika tahun 1985 hutan sudah mulai dirambah, tahun 2000 sudah hampir habis, dan ketika tahun 2020 hutan sudah habis. 

Dengan masuknya perusahaan dan pertambangan yang menggunakan lahan besar untuk perkebunan dan tambang. Slide Ketiga : “Hutan Berdasarkan Ekosistem” yang terdiri dari Hutan Pantai,Hutan Bakau,Hutan Rawa Air Tawar, Hutan Rawa Gambut, Hutan Alluvial, Hutan Dataran Rendah, Hutan Dataran Tinggi, Hutan Sub Montana. Hutan Sub Montana ini seperti hutan yang ada diwilayah Taman Nasional Gunung Palung. Dengan menanyakan kepada masyarakat “Apakah Bapak pernah ke Gunung Palung?” dengan jawaban oleh masyarakat “Iya”.

Jadi kalau kita lihat, kita ini sangat beruntung sekali karena Gunung Palung mempunyai ekosistem yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah lain. Slide Keempat : “Fungsi Hutan Secara Ekologi” hutan itu sebagai serapan air, dan diibaratkan sebagai sadel motor. Hutan juga menciptakan iklim mikro dan makro, dengan suhu bumi yang semakin panas iklim bumi semakin naik hutan semakin habis menjadikan iklim yang sekarang ini tidak menentu dan tidak dapat diperkirakan lagi.

Apalagi jaman dahulu ditugu durian tidak pernah air naik sampai ke jalan, dan sekarang ini air sudah mulai naik dan itulah yang membedakan sekarang yang dulu. Slide kelima : “Fungsi Hutan Bagi Ekonomi” kalo kita berbicara air bersih dengan pembandingan minum air gelas perhari 1 gelas Rp. 500 x ..... jadi nilai air bersih ini sangat besar dan jika dikalkulasikan pasti sangat besar, selain itu juga hutan dijadikan sebagai sumber obat dengan mememperlihatkan gambar pasak bumi.

Satu contoh Pontianak pasak bumi itu dijual menggunakan kantong plastik kecil dengan harga Rp. 20.000. Dan juga masyarakat di desa sejahtera ini juga ada yang menjual akar pasak bumi dan terkadang juga pasak bumi kita punya tetapi yang mengolahnya orang luar, kita juga yang membelinya dengan harga yang mahal.

Apalagi kandungan didalam pasak bumi ada unsur-unsur zat kimia yang sebagai zat peluntur untuk tubuh. Selain itu juga hutan sebagai sumber protein dengan sumber ikan dan hutan sebagai tempat mikroorganisme hidup serta hutan sebagai carbon trade (Gambut), di desa Sejahtera letaknya di hulu anyam sampai di daerah dusun tanjung gunung memiliki ketebalan gambut berkisar 80 cm – 1 m.

Slide Keenam : “Hutan Sebagai Edukasi” hutan bisa dijadikan integrasi siswa terhadap mata pelajaran disekolah, Masy menjawab “Iya, pak contohnya seperti memperkenalkan pohon ulin jadi anak-anak tau dengan pohon ulin dan sekarang ini banyak anak-anak yang masih belum tahu apa ulin itu. Jawab Tang “Iya, benar pak jadi hutan bisa dijadikan sebagai perpustakaan alam untuk kita belajar dimana hutan itu kalau kita kaitkan dengan mata pelajaran disekolah itu sangat ada kaitannya terutama pelajaran biologi dan mata pelajaran lainnya. Masy menjawab “Jadi, dengan habisnya hutan ini kehidupan kita tidak menentu terutama krisis air”.

Kades Sejahtera, Bohri menyatakan; dan sebelumnya meminta maaf karena kegiatan ini belum masuk ke bagian diskusi dan beliau mempertanyakan kalau masalah yang ada sekarang ini ke bagian pemerintah karena beliau berpikir bahwa pemerintah yang memberikan izin untuk membuka perkebunan sawit dan pertambangan. Lebih lanjut kades yang terkenal tegas tersebut menambahkan, kita sebagai masyarakat biasa tidak bisa juga menyalahkan perusahaan karena yang mempunyai kewenangan dan kebijakan yang paling besar itu adalah pemerintah. Jadi kalo kita melihat dari ini pemerintah yang menjalankan dan masyarakat tidak mendapatkan apa-apa, kemudian masyarakat juga yang disalahkan karena pemerintah berpikir bahwa masyarakatlah yang merambah hutan. 

Selain itu, lebih lanjut kades menyatakan bahwa masyarakat dalam hal ini tidak bisa disalahkan karena masyarakat mencari ekonomi untuk kebutuhan sehari-hari dan masyarakat di desa sejahtera ini kalau mau berladang dibawah alhasil akan tergenang oleh air asin, beliau mencontohkan di daerah Desa Pampang Harapan, Sei Belit yang semakin hari hutannya habis, apa yang dilakukan dan solusi apa yang diberikan oleh pihak pemerintah (TNGP) sedangkan masyarakat desa hanya meminta untuk pembuatan tanggul air asin tetapi apa yang didapat masyarakat sampai sekarang ini belum ada. Setelah diskusi itu selesai Edward Tang berharap mudah-mudahan dengan kita diskusi ini kita mulai sadar dengan apa yang mau kita lakukan untuk menjaga hutan. Slide Ketujuh : “Hutan Sebagai Sosial Budaya” dan terakhir Slide Kedelapan : “Ancaman”.

Setelah presentasi slide usai masyarakat meminta supaya ada bantuan oleh pemerintah untuk masyarakat di Desa Sejahtera dengan bantuan berupa tanaman karet dan fasilitator mengucapkan terima kasih kepada semuanya terutama bapak ibu yang ada dan menjawab permintaan masyarakat dengan “InsyaAllah, jika ada kegiatan untuk audiensi ke pemerintah ide ini akan disampaikan” dan berharap untuk kita sama-sama menjaga hutan yang masih ada untuk keberlangsungan hidup kita dan anak cucu kita. 

Di desa Sejahtera ini terdapat 3 dusun, yaitu dusun melinsum 114 KK, Dusun Sei Belit 238 KK, Dusun Tanjung Gunung 240 KK dengan mayoritas pekerjaan masyarakat sebagai petani (beladang tanah hujan), masyarakat disini juga mendapatkan bibitnya dari bibit lokal, selain pekerjaannya petani ada juga nelayan, tukang kayu, dan kebun karet.

Sekarang ini juga sudah masuk tanaman jabon (Jati Ambon) tetapi bukan masyarakat lokal yang memilikinya melainkan investor dari luar atau istilah kampung “Orang Yang Beduit”. Untuk tanaman yang sekarang ini paling banyak hanya tanaman kelapa, dengan harga perbuahnya Rp. 2000 dan biasanya dalam 1 tandan kelapa terdapat 15 – 20 buah kelapa, jarak tanamnya 7 meter dan kalau terlalu dekat jarak tanamnya maka akan berpengaruh pada tanaman kelapa (pelepah kelapa akan menyatu). 

Dalam pertemuan ini hal yang bisa diambil adalah masyarakat bukan sebagai aktor perusak lingkungan, melainkan campur tangan pemerintah yang memberikan kebijakan atas izin untuk perusahaan. Kegiatan diskusi di hari pertama berakhir pukul 19.30 Wib. 

Pada hari ke dua (13 juli 2014), diskusi kampung dilakukan di Desa Pangkalan Buton. Diawali dengan pemutaran film  “Jungle” yang menceritakan tentang keanekaragaman hayati yang ada di hutan dengan durasi film 50.20 menit. Penyampaian materi sama seperti hari pertama di Desa Sejahtera.

Dalam sesi diskusi, masyarakat menyampaikan beberapa pertanyaan berupa potensi yang dimiliki di desa pangkalan buton, dalam proses diskusi ini salah satu masyarakat (Pak Ansani) menyampaikan bahwa potensi yang di desa tersebut adalah Bambu yang biasa dilakukan oleh kaum ibu-ibu untuk mengisi waktu dengan membuat bakul, nyiru, penangkin dan rotan dijadikan sebagai ambung, keranjang, kursi, lemari, dan rak buku.

Di desa itu juga terdapat tumbuhan Sengkubak yang biasanya dijadikan sebagai atau istilah kampung “Berabun” (Membakar sesuatu dengan tujuan pengobatan) terkadang dilakukan ketika ada petir dan bayi yang baru lahir kemudian menangis tanpa henti. Salah satu ibu bernama Misnawati menyatakan “Bahwa jaman dahulu dia tinggal selama 10 tahun dan menjadikan bambu itu sebagai bahan baku untuk tempat tinggalnya”.

Selain itu juga masyarakat menggunakan pandan untuk membuat tikar, kemudian penghasil durian dan ada juga yang menjadikan durian itu sebagai gula durian atau Lempok. Dari beberapa hal yang disampaikan masyarakat tentang potensi yang dimiliki di desa pangkalan buton tersebut ada beberapa kendala yang dihadapi oleh masyarat berupa : Modal Usaha (Pengetahuan, Keterampilan, dan SDM), Relasi kepada pihak luar, Kurangnya bahan baku (Pandan) yang bahan bakunya sekarang ini didapat dari daerah lain yaitu di Desa Teluk Batang, Lahan untuk budidaya tidak ada dikarenakan masuk didalam kawasan konservasi  dan Banyak hama saat mereka bertani. Adapun solusi yang diinginkan adanya kerjasama masyarakat dengan pemerintah dalam pengelolaan.

Salah satu masyarakat, Mulimin, mantan kepala Desa Pangkalan Buton, beliau menjabat selama 12 tahun 3 periode, beliau mengatakan; “kami sebenarnya tidak mengetahui tentang zona-zona yang ada sekarang ini dan kami juga tidak tahu batas-batas Taman Nasional Gunung Palung, tiba-tiba tapal batas taman nasional itu sudah masuk kerumah masyarakat, dan kemudian pihak pemerintah tidak ada melapor kepada masyarakat dan yang paling hebatnya lagi, kami mengambil durian dan kebun durian itu sudah ada dari turun temurun nenek moyang kami, tetapi kami dilarang untuk mengambilnya dan hanya beberapa persen saja kami bisa mengambil sisanya dibilang untuk makan binatang yang ada dihutan”.

Kami juga pernah mengusulkan kepada pihak TNGP untuk membebaskan lahan kebun durian sampai kebawah dari kawasan taman nasional dan dijadikan sebagai hutan rakyat, tetapi sampai sekarang tidak ada yang menanggapi permintaan dari masyarakat bahkan masyarakat hanya dijadikan sebagai musuh bagi pihak yang berwenang dan mempunyai kebijakan, dan beliau menyampaikan lagi “bahwa Kabupaten Kayong Utara ini merupakan kabupaten yang baru dan membutuhkan SDA (Sumber Daya Alam) yang ada untuk pembangunan”.

Sedangkan di hari ketiga (14 juli 2014), diskusi kampung diadakan di Desa Hrapan Mulia. Setelah selesai presentasi slide, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi tentang potensi yang ada di Desa Harapan Mulia, dalam diskusi ini masyarakat menyampaikan bahwa lahan yang masih ada di daerah tersebut merupakan lahan bebas dan sekarang ini masyarakat ada yang bertanam karet selain itu banyak tanaman yang bisa dijadikan sebagai obat-obatan berupa Kayu Alang Bau (Sejenis akar liana) dan jenis tumbuhan ini ada yang jenis betina dan jantan, tumbuhan kayu Sepang yang kulit kayunya dijadikan sebagai ramuan masyarakat ketika paska melahirkan, Daun Perawas untuk penurun darah tinggi, Batang Biku dengan bentuk daunnya yang beraneka ragam ada yang berbentuk 3 cabang, 5,7 cabang dan ada 9 cabang, sedangkan untuk batangnya seperti batang singkong (ubi), Sekubak Pucuk ini juga biasanya dijadikan masyarakat sebagai penyedap makanan (Micin), selain itu juga ada Akar Plestari, Batang Baning, Sembong Laut, Bambu dan Pandan. Karena di desa ini merupakan desa dampingan Yayasan Palung. Saat ini bambu dan pandan dijadikan masyarakat sebagai kerajinan seperti bakul, tikar, nyiru, dll. Kerajinan yang sekarang ini buat oleh ibu-ibu dengan maksud membantu kebutuhan hidup walaupun terkadang juga tidak terpenuhi, paling tidak ada inisiatif untuk meringankan beban keluarga.

Ada beberapa kendala yang dihadapi masyarakat Desa Harapan Mulia yang membuat masyarakat menjadi merasa termarginalkan untuk maju dalam pengelolaan desa mereka, dalam hal itu berupa: Kurangnya informasi terhadap masyarakat oleh pemerintah, contoh adanya kegiatan pameran dalam hal untuk menampilkan hasil karya masyarakat terkadang informasi seperti itu tidak didapat, dan juga informasi yang didapat setelah selesai kegiatan, kurangnya pemasaran untuk hasil karya masyarakat, belum ada pengelolaan paska panen, kurangnya managemen dan pembinaan yang dilakukan pemerintah, kapasitas staf penyuluhan tidak sesuai, kurang baiknya kerjasama antara masyarakat dan pemerintah tidak ada/belum ada penggerak di dalam desa dan terkadang air laut masuk ke tanah pertanian, tidak ada pintu air.

Salah satu masyarakat menyatakan bahwa selama ini “Kami sudah meminta bantuan kepada pemerintah dalam bentuk proposal, tetapi bertahun-tahun kami mengajukan proposal tidak ada satupun proposal yang ditanggapi oleh pemerintah. Kami ini bukan tidak memiliki ide, banyak ide masyarakat tapi itulah pemerintah tidak mendengarkan dan kami hanya dijadikan objek program pemerintah” Kemudian bukan hanya hal itu, ada lagi permasalahan yang terjadi oleh masyarakat kami ini yaitu pengairan irigasi untuk sawah, selama ini pengairan irigasi disawah Desa Harapan Mulia tidak ada kejelasan oleh pemerintah. Kami berharap dengan adanya lembaga atau yayasan yang ada ini bisa membantu masyarakat kami untuk lebih maju lagi.

Setelah masyarakat menyampaikan persoalan yang terjadi didesa mereka, Mariamah Achmad selaku fasilitator menyampaikan kepada masyarakat bahwa, Desa Harapan Mulia dapat mengembangkan produk unggulan sepeti pisang dan padi. Untuk pisang selain jual mentah juga diolah paska panen menjadi berbagai macam produk, dapat meminta bantuan dinas-dinas terkait misal Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk peningkatan kualitas dan kemasan produk serta kapasitas masyarakat.

Mariamah, menambahkan juga dapat mengembangkan agrobisnis dipadu dengan ekowisata, banyak terdapat pohon durian dan pisang, pengunjung dapat mengunjungi kebun, makan di kebun dan membawa pulang dengan membeli dan berwisata ke Pantai Tritip. Diskusi yang dilakukan di tiga desa berbeda tersebut berjalan sesuai dengan rencana. Semoga cerita panjang diskusi kampung sebagai harapan masyarakat tentang hak mereka di kampung halamannya masing-masing menjadi harapan mereka pula.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved