Rekor MURI, Mapala se-Indonesia Serempak Tanam Pohon
Penanaman serempak ini rencananya akan memecahkan rekor MURI sebagai bentuk pemulihan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia.
Penulis: Jovanka Mayank Candri | Editor: Steven Greatness
Citizen Reporter
Syarif Yulius Hadinata
Ketua Umum Mapala Untan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Perguruan Tinggi se- Indonesia akan menggelar penanaman pohon serentak pada Minggu (25/5/2014). Di Kalimantan Barat, digelar penanaman mangrove di Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya.
Penanaman serempak ini rencananya akan memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai bentuk pemulihan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia yang dilakukan dalam satu waktu.
Ini merupakan tindakan nyata dari hasil Temu Wicara Kenal Medan Nasional Mapala se-Indonesia di Darmapala Universitas Darussalam Ambon pada 20-27 November 2013 lalu sebagai bentuk kepedulian terhadap masalah lingkungan yang dibahas.
Kegiatan penanaman serempak ini mengangkat tema "Selamatkan Pohon Sang Pelindung Kehidupan Bumi Kita." Kegiatan ini dikoordinir Matasitas Sahid Jakarta selaku Pusat Koordinasi Nasional dengan mengerahkan Pusat Koordinasi Daerah dimasing- masing provinsi.
Mapala Untan bertanggungjawab sebagai Pusat Koordinasi Daerah Mapala Perguruan Tinggi se-Kalimantan Barat turut terlibat menyukseskan dengan membentuk Panitia Bersama dari Mapala perguruan Tinggi Kalimantan Barat di antaranya dari Pontianak GMPA Cagar Gaspasi IKIP, Mapala Khatulistiwa BSI, MATA-UMP, Mapala Enggang Gading IAIN, Mapala Arkha UPB dan Mapa Polnep. Mapala yang berdomisili di Sintang yang juga turut serta yaitu Kompass UNKA.
Kegiatan ini bekerjasama dengan Dinas Perkebunan, Kehutanan dan Pertambangan Kabupaten Kubu Raya yang menyiapkan 500 bibit mangrove jenis bakau (rhizophora sp) dari hasil pembibitan CV Eka Mandiri yang siap untuk ditanam.
Rudi Nurmansyah selaku Staf Rehabilitasi Hutan dan Lahan sangat mendukung aksi nyata dari mahasiswa dan siap membantu untuk menyukseskan kegiatan ini. Tak hanya itu, Kelompok Tani Sabuk Hijau juga akan turut andil dalam proses penanaman.
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan pemulihan fungsi Daerah Aliran Sungai dapat terus dilakukan mengingat usia mangrove hanya dapat bertahan selama delapan tahun.
Usia yang relatif singkat ini tak sebanding dengan manfaatnya yang besar untuk pencegahan abrasi, filtrasi air laut, dan manfaat lainnya sehingga perlu terus dilakukan penanaman berkala. (*)