Si Bungsu Ukir Prestasi Saat Muda

Dulu belajar full bahasa Indonesia semua. Semenjak kuliah hampir semua matapelajaran pakai bahasa Inggris.

Penulis: Mirna | Editor: Jamadin

INDRI Wulandari, anak bungsu dari pasangan Hamdani Adeni dan Diah Suci Rini, ini adalah satu di antara sosok Pemuda Kalbar berprestasi. Meski masih muda, namun telah banyak prestasi yang diraihnya hingga saat ini.

Di antaranya, ia pernah menyandang gelar Putri Pariwisata Kabupaten Kuburaya pada 2012, juara 2 Olimpiade Ekonomi tingkat SMA se Kabupaten pada 2010, dan siswi dengan predikat NEM tertinggi tingat SMA se Kuburaya.

Ia pernah mengikuti dua kali pertukaran pelajar. Yakni ketika dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, ia mengikuti pertukaran pelajar antara Indonesia dan Jepang. Kemudian saat ia masih semester 4, ia mengikuti kembali pertukaran mahasiswa antara Universitas Tanjungpura Pontianak dan Universitas Utara Malaysia.

Walaupun ia memiliki banyak prestasi, tapi cewek yang hobinya berenang ini tidak sombong. Ia berteman dengan siapapun. "Semua orang memiliki peluang yang sama dalam meraih prestasi. Siapapun bisa melakukannya. Asal ada kemauan pasti ada jalan. Jangan pernah ada kata puas ketika mendapatkan sesuatu," ujar Wulan, panggilan akrabnya, kepada Tribunpontianak.co.id, Kamis (13/2).

Selagi muda, menurutnya, harus bisa meraih prestasi sebanyak-banyaknya. "Sangat disayangkan jika waktu muda dibuang untuk hal yang tidak berguna," tambahnya.

Dalam belajar, ia tidak memiliki kiat khusus. Menurutnya, ia bukan cewek kutu buku yang selalu memegang buku kemana-mana. Membaca buku setiap waktu. Itu bukan tipenya. Hanya jika ia sedang berada di dalam ruangan kelas, dirinya selalu penuh konsentrasi untuk belajar.

"Saya orangnya memiliki konsentrasi yang tinggi. Jadi mudah mengingat apa yang sudah dipelajari. Jika sudah belajar, ya saya belajar. Saya sukanya duduk di depan. Kalau duduk di belakang sulit belajar. Biasa ribut. Dan dalam satu hari saya sempatkan waktu sejam untuk mengulang mata kuliah yang dipelajari hari itu. Cara belajar saya biasa-biasa saja, enggak berlebihan," ucapnya.

Masa sulit dalam proses belajar pernah dialami Putri Pariwisata Kuburaya 2012 ini. Yakni masa transisi saat ia tamat SMA, kemudian melanjutkan studi di Jurusan Manajemen Internasional Fakultas Ekonomi Untan, kondisi yang sangat sulit dihadapinya ketika itu.

"Dulu belajar full bahasa Indonesia semua. Semenjak kuliah hampir semua matapelajaran pakai bahasa Inggris. Saya sempat stres. Hampir saja saya mau keluar. Melihat orang hebat di sekeliling saya, saya menjadi termotivasi. Mereka bisa kenapa saya tidak. Sayapun belajar lebih ektra. Akhirnya saya bisa mengatasi masa sulit itu. Alhamdulillah nilai saya sangat memuaskan," tuturnya.

Hampir semua mata kuliah yang ia pelajari berbahasa asing. Hal itu membuatnya semakin tertantang untuk mempelajarinya. "Meskipun bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus, jadi kalau ada bahasanya yang tidak saya mengerti, saya catat dan cari tahu. Saya sendiri belajar bahasa Inggris secara otodidak. Tidak pernah ikut kursus sama sekali," ujarnya.

Cewek yang bercita-cita ingin menjadi dosen ini berharap, saat tamat kuliah nanti, ia ingin melakukan sesuatu untuk Kalbar. Ia ingin membuat tempat penampungan para tunawisma. Supaya mereka dapat lebih terampil dan mampu membuka lapangan pekerjaan sendiri. Sehingga mengurangi angka pengangguran di Kalimantan Barat ini. (tribun cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved