Redam Konflik Lewat Komunikasi Antarbudaya

Sejauh ini saya melihat pemahahan komunikasi antar budaya masih belum maksimal.

Penulis: Mirna | Editor: Jamadin

SEBAGAI makhluk sosial, tentunya kita membutuhkan orang lain. Tidak ada di dunia ini, orang yang mampu hidup sendiri tanpa orang lain. Semuanya saling membutuhkan satu sama lain.

Untuk berinteraksi dengan orang lain pastinya dibutuhkan suatu komunikasi. Komunikasi sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara.
Ria Hayatunnur Taqwa, MSi, Pakar Ilmu Komunikasi Kalbar ini mengatakan we cannot not communicate (kita tidak mungkin tidak berkomunikasi). Komunikasi merupakan cara kita untuk bisa berinteraksi dengan orang lain.

Menurutnya, komunikasi yang buruk dapat memberikan dampak negatif. Khususnya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Komunikasi yang tidak baik bisa memicu terjadinya konflik.

"Sejauh ini saya melihat pemahahan komunikasi antar budaya masih belum maksimal. Hal ini dapat mengakibatkan rawan konflik," ujar Yaya, panggilan akrab perempuan yang hobi travelling itu kepada Tribunpontianak.co.id, Jumat (3/1/2013).

Secara konkrit Kalbar memiliki culture (budaya) yang berbeda-beda. Ada Tionghoa, Melayu, Dayak dan etnis lainnya. Tanpa disadari lewat perbedaan ini dapat memicu pergesekan komunikasi. Yang akhirnya terjadi konflik.

Olehkarena itu menurutnya untuk meminimalisir konflik dari pergeseran akan budaya maka dibutuhkan saling menghargai antara budaya satu dengan yang lain. "Mereka yang berbudaya akan menghargai budaya orang lain," pungkasnya.

Pada dasarnya perempuan memiliki andil penting dalam menyampaikan komunikasi antar budaya. Mengajarkan tentang budaya memang kuncinya adalah ibu. Mereka yang kerap paling banyak berinteraksi dengan anak-anaknya.

Ia mencontohkan, seorang ibu sedang duduk-duduk bersama anaknya di teras. Kemudian lewat orang lain yang sukunya berbeda. Jika komunikasi ibu itu buruk yaitu melecehkan atau menghina suku itu maka pastinya anak-anaknya juga akan mengikutinya. Sehingga jika banyak para ibu seperti ini tentu saja akan banyak anak-anak (generasi muda) yang lebih membanggankan budaya mereka tapi tidak menghargai budaya lain.

"Tidak ada salahnya kita membanggakan budaya sendiri. Asal apa yang kita lakukan tidak menggangu budaya lain dan mampu menghargai mereka. Sebagai orang yang berbudaya, kita bukan mengikuti budaya lain tapi lebih pada menghargainya," ujarnya.

Dengan terjunnya Yaya lewat organisasi, ia ingin selalu menyampaikan semangat bahwa betapa pentingnya komunikasi. Menjadi hal yang sia-sia baginya jika ilmu dimiliki dibiarkan begitu saja.

"Saya berorganisasi tentunya cara saya untuk mengaplikasikan ilmu dimiliki. Saya ingin pelan-pelan menyadarkan masyarakat akan pentingnya pemahaman komunikasi antar budaya," tutur ibu tiga anak itu. (tribun cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved