Damai Natal 2013
Samuel Fu: Natal Datang Bawa Damai
Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.
SUDAHKAH kita memiliki shalom dalam hati kita? Sudahkah kita membawakan shalom pada orang-orang yang ada di sekitar kita? Mari kita mengingat kembali peristiwa kelahiran Yesus. Pada malam itu ada gembala-gembala yang sedang menjaga domba di padang. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
Lalu kata malaikat itu kepada mereka, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Setelah itu, ada sejumlah bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Natal adalah kabar sukacita bagi umat manusia, Allah telah datang untuk menyelamatkan kita, dengan menghilangkan ketakutan, dan menggantinya dengan sukacita yang besar di dalam hati manusia. Natal adalah lawatan Allah untuk mendatangkan damai sejahtera bagi umat manusia, bagi orang-orang yang berkenan kepada-Nya.
Apa itu damai? Apa itu shalom? Damai tidak saja berarti tidak ada perang. Damai, yang lebih penting, berarti utuh, bersatu, dan hubungan yang dipulihkan. Yesus datang membawakan damai bagi manusia, yaitu memulihkan hubungan manusia dengan Allah dan dengan sesama. Ada dua kondisi yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah perdamaian, yang satu adalah sisi negatif dan satunya lagi adalah sisi positif.
Sisi negatifnya adalah damai tercipta ketika tidak ada lagi perseteruan dan kebencian. Dalam Roma 5:8-10 mengatakan bahwa Yesus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa, supaya kita diselamatkan dari murka Allah. Kita telah diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya.
Inilah damai yang terpenting, damai yang kekal, yaitu pemulihan hubungan manusia yang telah berdosa dengan Allah, Penciptanya. Sebelum memiliki perdamaian dengan Allah, manusia belum memiliki damai dengan diri sendiri, apalagi dengan sesamanya.
Karena itu di Efesus 2:11-22 memberitahukan bahwa kematian Tuhan Yesus juga telah merobohkan tembok pemisah, yaitu perseteruan di antara sesama manusia, dan menjadikan mereka kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.