Mutiara Ramadan
Apa yang Kita Miliki?
artinya kita menguasai sesuatu itu sehingga bisa berbuat apa saja dengan apa yang kita miliki itu sesuai dengan sifatnya.
KATA milik dugaan saya berasal dari bahasa Arab. Malik artinya penguasa atau raja. Dalam surah al Fatihah disebutkan maliki yaumiddin, yang menguasai atau merajai hari kemudian nanti. Jadi, pemilikan artinya penguasaan. Kalau kita memiliki sesuatu, artinya kita menguasai sesuatu itu sehingga bisa berbuat apa saja dengan apa yang kita miliki itu sesuai dengan sifatnya.
Kita menyimpan uang di bank, maka sesungguhnya kita tidak lagi memiliki sepenuhnya uang itu. Boleh saja mengaku memilikinya, tetapi sesungguhnya kendali posisi uang tak lagi berada di tangan kita. Dan inilah yang tengah terjadi di AS dan berulangkali terjadi di Indonesia. Masyarakat menyetorkan uang ke bank lalu ditukar dengan sertifikat bukti penyetoran namun ujungnya uang itu malah lenyap pergi tidak karuan, ketika banknya bermasalah.
Itu yang kadang terjadi pada keluarga artis. Ketika anaknya sudah popular, banyak duit, jadi selebritis, orangtua tak lagi memiliki keberanian menasehati dan mencegah ketika anaknya memasuki gaya hidup glamor dan bebas, hidup yang sesungguhnya sangat berseberangan dengan kehendak dan nilai-nilai yang dijaga orangtuanya. Jadi, apa makna kepemilikan anak dalam konteks demikian?
Ketika di rumah, mungkin saja jabatan yang melekat dan mempengaruhi perilakunya sebagai "suami" atau "isteri". Tetapi begitu berhadapan dengan anak akan berubah menjadi "ayah" dan ketika bertemu orangtua berubah lagi sebagai "anak", lalu ketemu mertua sebagai "menantu". Sewaktu sakit berjumpa dokter sebagai "pasien", dan seterusnya. Jadi berbagai jabatan, lebel dan identitas tadi ada yang sifatnya kontraktual, sosial, dan psikologis.
Bahkan ruh sumber kehidupan pun suatu saat akan meninggalkan badan. "Who am I ?", kita biasa mengatakan "aku" ketika berbicara pada orang lain. Suatu saat kita semua tidak lagi bisa mengatakan "aku" lagi dan teman kita tidak juga bisa menyebut "engkau" karena "aku" dan "engkau" juga akan hilang dari peredaran. Sebutan "dia" juga hilang. Dalam keyakinan agama, semuanya akan lenyap dan menyatu pada "Aku" , "Engkau" dan "Dia" yang Maha Absolut.
Umumnya kita semua bertingkah persis anak kecil. Ketika anak kecil dipinjami mainan, dia akan menangis ketika diminta kembali. Dia merasa mainan itu miliknya. Ketika anak kecil diajak jalan-jalan di mal, dia ingin mengambil semaunya apa yang dia suka. Dia tidak tahu itu bukan miliknya. Ketika dicegah anak kecil akan menangis.
Berbahagialah mereka yang selalu sadar bahwa semua ini pinjaman, anugerah dan amanah untuk disyukuri dan difungsikan untuk memperbanyak amal kebajikan. Ketika suatu saat diambil kembali oleh Sang Pemiliknya, mereka merasa lega dan bersyukur karena telah memanfaatkan dengan sebaik mungkin dan beban amanahnya sudah dikurangi atau ditarik kembali oleh Yang Empunya.
Untuk melatih kesiapan mental, maka ketika memiliki jabatan mesti sadar bahwa itu amanah dan durasinya sesaat. Gunakanlah sebaik mungkin untuk menyumbangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi sesamanya. Jabatan itu digilir di antara manusia, sebagaimana juga umur, ibarat rumah yang digilir dari generasi ke generasi untuk ditempati. (*)