Mutiara Ramadan
Manajemen Syahwat
Keinginan manusia untuk melakukan dan mendapatkan segala hal yang ia sukai dan selalu ingin menambah lagi dan lagi, itulah syahwat.
HM Cholil Nafis Lc PhD
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU/Sekretaris Pengkajian MUI
BAGI pemuda yang ingin menikah tapi tak punya dukungan ekonomi dan mentalitas yang cukup, Rasulullah SAW menganjurkan berpuasa. Tujuannya agar dia tidak terperosok ke jurang kemaksiatan.
"Siapapun yang belum mampu menikah, hendaklah berpuasa. Karena puasa adalah penjaga baginya," sabda Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Hadis ini menunjukkan bahwa ada kaitan erat antara puasa dengan pengaturan syahwat. Tahukah Anda, apa itu syahwat? Imam al-Ghazali mendefinisikannya dengan istilah, nuzu' an nafs ila ma turiduh, yaitu kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya.
Keinginan manusia untuk melakukan dan mendapatkan segala hal yang ia sukai dan selalu ingin menambah lagi dan lagi, itulah syahwat.
Aneka syahwat ini dijelaskan Allah SWT dalam surat Ali Imran Ayat 14, "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)."
Ayat di atas menyiratkan, syahwat sebagai potensi keinginan manusia. Allah menegaskan, pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan kesenangan kepada wanita atau lawan jenis (seksual), anak-anak (kebanggaan), harta kekayaan (kebanggaan, kesombongan dan kemanfaatan), kendaraan yang bagus (kebanggaan, kenyamanan dan kemanfaatan), binatang ternak (kesenangan dan kemanfaatan), dan sawah ladang (kesenangan, kemanfaatan).
Dengan demikian, kecenderungan manusia pada kesenangan seksual, harta benda dan kenyamanan adalah perkara alamiah alias manusiawi. Dalam diri manusia, syahwat ini berperan penting, karena ia menjadi penggerak tingkah laku.
Kalau lapar dan dahaga datang, ia akan mengarahkan manusia untuk mencari makanan dan minuman. Apabila melihat perempuan seksi, yang dominan adalah syahwat seksual. Maka, dorongan keinginannya selalu mengarah kepada hal-hal yang dapat memberikan kepuasan seksual.
Jadi, kecenderungan syahwat itu tergantung apa yang sedang dominan dalam dirinya. Syahwat seksual, syahwat politik, syahwat pemilikan, syahwat kenyamanan, syahwat harga diri, syahwat kelezatan dan lainnya. Ibarat anak kecil, ia bebas dan tak terkendali jika selalu dimanjakan dan dituruti.
Supaya terkendali dan tumbuh menjadi pribadi yang baik, anak harus dididik dengan ilmu pengetahuan. Begitu pula syahwat, dorongan keinginan yang beraneka ragam itu akan mengarah pada hal-hal positif, jika kita mampu mengendalikannya.
Lalu, bagaimana cara mengendalikan syahwat? Pada titik inilah, puasa berperan besar dalam mendidik syahwat liar itu. Nah, Bulan Ramadan adalah kesempatan emas bagi kita untuk menjalani training manajemen syahwat secara langsung melalui puasa Ramadan selama satu bulan.
Materi penting dalam training manajemen syahwat selama berpuasa di Bulan Suci Ramadan adalah latihan mengendalikan syahwat yang halal. Syahwat jenis ini perlu ditundukkan, karena untuk mempermudah seseorang dalam mengendalikan syahwat haram.
Jika tidak terbiasa mengendalikan syahwat halal, akan sulit bahkan mustahil baginya mengendalikan syahwat haram. Mengapa? Karena, syahwat yang haram pasti terasa lebih nikmat, lebih mudah, lebih banyak dan lebih kuat dorongan melakukannya.
Contoh, menerima honor atau gaji itu jelas halal. Tapi, syahwat manusia selalu mendorong mendapatkan gaji yang lebih dan lebih besar lagi. Jika dituruti tentu tak ada kata puas, sebesar apapun gajinya selalu ingin lebih.