Mutiara Ramadan
Paradoks Puasa
Sebab saat ibadah puasa seseorang berinteraksi secara langsung, jujur dan spesial dengan Allah SWT, sehingga mendapat ridhanya.
HM Cholil Nafis Lc PhD
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU/Sekretaris Pengkajian MUI
PUASA seyogyanya membangun keintiman seorang makhluk dengan Sang Khalik, mencapai ketakwaan, memompa produktifitas, menyehatkan, menyejahterakan, dan membangun solidaritas. Sebab saat ibadah puasa seseorang berinteraksi secara langsung, jujur dan spesial dengan Allah SWT, sehingga mendapat ridhanya.
Saat berpuasa, seseorang mengurangi jadwal dan jumlah konsumsi sehingga lebih sehat. Perut lebih stabil, banyak waktu berkarya dan dapat merasakan betapa penderitaan menahan lapar dan haus, sehingga terketuk hatinya untuk berbagi sebagai rasa solidaritas kemanusiaan.
Nyatanya, fenomena puasa seringkali berlawanan dan paradoks antara nilai dengan realitanya. Acapkali orang berpuasa hanya rutinitas keagamaan tahunan, tidak makan, tidak minum dan tidak bersetubuh di siang hari, tapi perilakunya tak ada perubahan, pikiran dan hatinya tidak dibersihkan dari rasa hasud, sehingga puasa tidak memberi efek perubahan dalam hidupnya.
Saat Ramadan seyogyanya bahan pokok lebih murah dan lebih banyak persediaan, karena puasa mengurangi kebutuhan konsumsi. Nyatanya, harga bahan pokok dan kebutuhan lain beranjak naik. Ini menunjukkan permintaan bahan pokok meningkat, sehingga menimbulkan kenaikan harga. Artinya, pelaksanaan puasa tidak membuat pengurangan konsumsi, tapi malah meningkat.
Puasa seringkali menjadi alasan untuk tidak melakukan banyak aktivitas, seperti jam kantor dikurangi dua jam. Sudah begitu masih banyak pegawai dan karyawan yang datang terlambat karena alasan puasa, sehingga banyak pekerjaan tertunda, bahkan terbengkalai.
Padahal, sebenarnya saat orang berpuasa lebih banyak waktu, karena saat berpuasa telah menghilangkan jadwal makan pagi dan siang. Bahkan mau cepat-cepat pulang ke rumah pun masih menunggu Maghrib untuk makan malam.
Puasa menambah produktifitas, tapi kenapa sering menjadi alasan menghentikan banyak aktivitas karena alasan puasa? Padahal, saat berpuasa seseorang menstabilkan konsumsi, memperbanyak gerak dengan banyak beribadah sehingga tubuh dan rohani dibersihkan.
Akan tetapi nyatanya acapkali orang yang berbuka malah balas dendam dengan mengonsumsi makanan beraneka ragam dan berlebihan. Saat puasa tak ubahnya hanya mengubah jadwal makan di siang hari menjadi makan malam hari, tidak berkurang sedikitpun bahkan bertambah.
Puasa seyogyanya menyehatkan karena ada proses pencernaan yang membersihkan dan menghancurkan racun-racun dalam tubuh. Tapi nyatanya acapkali terjadi sebaliknya, saat berpuasa tubuhnya lemas dan banyak tidur. Rasulullah SAW bersabda, "Cairkan makanan kalian dengan berzikir kepada Allah SWT dan salat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras." (HR Abu Nu'aim)
Pelaksanaan ibadah puasa seyogyanya makin hari makin meningkat hingga sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadan untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Nyatanya, acapkali saat Ramadan hanya semangat di awal dan makin hari menyusut semangatnya.
Bahkan saat sepuluh hari terakhir Ramadan lebih sibuk berburu diskon dan belanja di pasar untuk kepentingan Lebaran. "Pada sepuluh terakhir Ramadan, Rasulullah SAW lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya." (HR Muslim)
Tuntutan puasa acapkali tak sesuai pelaksanaannya, sehingga nilai puasa tak terinternalisasi dalam kehidupan. Maka puasa tak memberi efek dalam mengubah karakter dan pencapaian kesejatian diri manusia.
Lebaran yang seyogyanya sebagai simbol kemenangan melawan hawa nafsu, nyatanya hanya simbolik belaka, tak pada substansinya. Sebab yang berubah dan baru hanya baju atau pakaiannya. Puasa yang dilakukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tak menuntun perubahan dan menggapai fitra
Puasa semestinya dilakukan seluruh organ tubuh, pikiran dan hatinya menyatu dengan Sang Pencipta. Jabir bin Abdillah ra berkata, "Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa. Tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa." (*)