Mutiara Ramadan
Perdamaian dan Persaudaraan
Rupanya puasa tidak memberikan efek apa-apa selain tidak makan dan tidak minum.
HM Cholil Nafis Lc PhD
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU/Sekretaris Pengkajian MUI
SAAT Ramadan tiba, umat Islam selalu gegap gempita untuk berpuasa. Tapi, selalu ada pertanyaan menggelitik. Untuk apa berpuasa? Apakah puasa hanya tidak makan dan tidak minum? Apakah cuma itu? Bisa jadi.
Buktinya, aksi intimidasi, kekerasan, terorisme, korupsi, kolusi, nepotisme, penindasan dan lain sebagainya masih saja terus mewarnai kehidupan kita, baik ketika sedang puasa maupun usai berpuasa. Tak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Rupanya puasa tidak memberikan efek apa-apa selain tidak makan dan tidak minum.
Adalah benar hadits Nabi, seperti sering dikutip para penceramah, "Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali sengatan rasa lapar dan dahaga." (HR. Thabrani). Mereka hanya bisa merasakan lapar dan haus, tetapi makna kehadiran puasa sama sekali tidak berpengaruh pada dirinya. Bagi yang bermental seperti ini, maka kejahatan, kekerasan, korupsi akan tetap dilakukan walaupun dirinya dalam keadaan berpuasa.
Idealnya, yang berpuasa itu tidak hanya mulutnya, tapi seluruh anggota tubuh ikut melakukan puasa, tanpa terkecuali. Karena, prinsip utama dari ibadah puasa adalah pengendalian diri dari sesuatu yang dilarang agama, termasuk di dalamnya adalah larangan bertikai, konflik, dan permusuhan. Dengan begitu, puasa harusnya dapat mendorong terciptanya perdamaian dan persaudaraan di antara sesama manusia.
Keterkaitan puasa dengan perdamaian dan persaudaraan ini begitu penting untuk ditegaskan. Karena, dewasa ini pertikaian atas nama agama, etnik, bangsa, dan negara masih saja menghiasi peradaban manusia modern, tak terkecuali di Indonesia.
Bila aksi kekerasan masih saja terus terjadi, perdamaian dan persaudaraan tentu tidak akan pernah kita rasakan lagi. Pada titik ini, momentum puasa Ramadan ini menjadi penting. Sebab, ajaran Islam tentang puasa mengajarkan hamba-hamba Allah agar menahan diri dari kebencian, kedengkian dan kemungkaran antar sesama umat manusia.
Bahkan, jika menilik sejarah, pesan perdamaian dan persaudaraan melalui ibadah puasa ini begitu sangat terkait. Puasa tidak saja menjadi ritual umat Islam, karena agama-agama lain juga menganjurkan kepada pemeluknya berpuasa untuk pensucian jiwa, sebut saja Kristen dan Yahudi.
Hindu dan Buddha pun juga mempunyai anjuran puasa. Mereka dibiasanya menjalankan puasa sebagai sarana atau persiapan untuk melakukan ritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Sang Tuhan.
Konektifitas puasa dalam ajaran agama-agama ini seperti ditegaskan Allah dalam al-Baqarah ayat 183, "Wahai sekalian orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa." Jelas sudah, ibadah puasa merupakan salah satu mata rantai yang menunjukkan aspek ritual penting dalam agama-agama.
Jadi, melalui ibadah puasa, nuansa perdamaian dan persaudaraan harusnya lebih dikedepankan. Alquran dengan jelas memperingatkan agar kita tidak melakukan tindakan kekerasan di muka bumi. "Andaikan Allah tidak menolak (tindak kekerasan) antar suatu kelompok manusia dengan kelompok lain, niscaya gereja-gereja, sinagog (rumah ibadah umat Yahudi), rumah ibadah apa pun dan masjid-masjid yang dalam semua rumah ibadah di atas nama Allah banyak disebut, itu akan dihancurkan." (Surat al-Hajj/40).
Inilah bukti Islam sebagai agama yang damai dan anti-kekerasan. Sikap ini perlu dipupuk di bulan Ramadan. Dengan harapan, pasca ramadan sikap tersebut terus dapat dipertahankan. Peran ini seirama dengan ajaran Islam yang berorientasi pada rahmatan lil `alamin.
Maksudnya, seseorang beragama itu bukan untuk menakut-nakuti orang lain yang kebetulan berbeda dengan kita, tapi merangkul dan bergandengan tangan dengan semua kalangan untuk memupuk persaudaraan dan perdamaian bersama-sama dalam perbedaan.
Ini menunjukkan bahwa persaudaraan dan perdamaian adalah bagian dari solidaritas kemanusiaan yang tak dapat dipisahkan dari bangunan keimanan. Sebab, keimanan tidak hanya berdimensi vertikal (manusia dengan tuhannya) tapi juga horisontal (manusia dengan lingkungannya). Itu sebabnya kesempurnaan proses ibadah puasa harus dituntaskan dengan zakat fitrah, yaitu pelepasan kekayaan untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan.
Dengan demikian, klimaks dari ajaran puasa adalah apabila seseorang telah berhasil melepaskan mentalitas ke-aku-an demi solidaritas ke-kita-an. Sebagai amal saleh, ibadah puasa adalah manifestasi perjalanan spiritual menuju persaudaraan antar sesama manusia dan perdamaian yang sejati, dunia dan akhirat. (*)