Mutiara Ramadan

Puasa Melatih Manusia Tidak Serakah.

Sungguhpun kadang nafsu jahat ini memerlukan biaya yang tak murah dan tenaga yang tak sedikit.

Editor: Jamadin

HM Cholil Nafis Lc PhD
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU/Sekretaris Pengkajian MUI

MANUSIA salah satu makhluk Allah SWT yang memiliki nafsu ganda, yaitu nafsu baik dan jahat. Sifat yang muncul pada diri manusia, tergantung nafsu mana yang dapat memenangkan pertarungan dalam diri manusia itu sendiri.

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kecendrungan manusia memunculkan nafsu jahatnya yang lebih besar (QS Yusuf: 53). Sungguhpun kadang nafsu jahat ini memerlukan biaya yang tak murah dan tenaga yang tak sedikit.

Salah satu nafsu jahat manusia yang sering muncul adalah rakus dan tamak. Manusia memiliki sifat tak pernah puas terhadap apa yang telah ia capai. Rasulullah SAW bersabda, "Kalau anak Adam (manusia) telah mempunyai harta sepenuh dua lembah, niscaya dia masih mencari lembah yang ketiga. Tiada yang memenuhi perut anak Adam selain tanah, Allah menerima taubat sesiapa yang bertaubat." (HR. Muslim).

Manusia sifatnya rakus, maunya nambah terus dan tak puas terhadap apa yang telah dicapainya. Makanya dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak cukup dengan satu kendaraan. Sudah memiliki satu kendaraan maunya nambah lagi, sehingga macet di mana-mana.
Manusia selalu takut akan kekurangan dan takut hidupnya menderita. Maka, manusia senang menumpuk-numpuk harta sampai lalai kewajiban terhadap Tuhannya (QS. Al-Takatsur: 1).

Memang tak mudah mengendalikan nafsu serakah manusia, karena memang watak ini sudah melekat erat pada diri manusia.
Demi tuntunan nafsunya, banyak orang mengabaikan bagaimana cara mendapatkan hartanya, halal haram tak lagi jadi pertimbangan. Karena itu, korupsi merajalela, penipuan di mana-mana, pencurian, penjambretan terjadi di mana-mana.
Manusia demi kepuasan nafsunya tidak lagi takut kepada hisab di hari akhirat nanti. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka." (QS. Al-Ghasyiah: 25-26)
Dengan datangnya bulan Ramadan, manusia (khususnya umat muslim) diperintahkan berpuasa. Puasa yang secara bahasa diartikan dengan menahan (al-imsak) dan secara terminologi menjauhkan diri sepenuhnya dari makanan, minuman, hubungan intim dan segala hal yang dapat membatalkan puasa, mulai fajar sampai matahari terbenam, merupakan ibadah yang bertujuan mengendalikan nafsu jahat manusia.

Dengan puasa, manusia disuruh belajar menahan "suatu perbuatan" yang selama ini menjadi kegemaran, bahkan kebutuhan dasar manusia. Seperti makan, minum, hubungan seksual dan lain-lain.

Puasa melatih manusia tidak serakah. Puasa melatih manusia mengontrol nafsunya untuk tidak melakukan perbuatan yang pada hari-hari tidak berpuasa diperbolehkan. Karena itu, puasa akan menghasilkan manusia-manusia yang terlatih nafsunya dalam menghadapi kemewahan dunia, yaitu insan bertaqwa (QS. Al-Baqarah: 183).

Puasa melatih manusia untuk bersabar (syahr al-shabr) dalam menghadapi godaan megahnya dunia. Betapapun nafsu sangat menginginkannya, jikalau perbuatan itu maksiat, atau mencapainya harus dengan kemaksiatan, manusia yang telah terlatih dengan puasa ia akan mampu menahannya.

Karena itu, Rasulullah SAW menyebut puasa itu sebagai perisai (al-shaumu junnatun). Karena dengan puasa, manusia mampu menangkis berbagai hal yang akan menjerumuskan dalam keserakahan.

Puasa mengembalikan sifat-sifat serakah manusia kepada sifat mau menerima dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya (qanaah). Orang yang berpuasa dididik melihat dan merasakan kehidupan orang-orang yang lebih susah darinya dan dididik tidak selalu melihat orang yang nasibnya lebih baik darinya.

Sehingga orang yang berpuasa akan menyadari bahwa nikmat Allah SWT yang diberikan kepadanya masih jauh lebih baik dibanding yang diberikan kepada orang lain. Jika orang selalu melihat nasib orang yang lebih baik, ia tidak pernah bersyukur dan tak pernah puas terhadap apa yang telah ia perolehnya.

Di sinilah puasa mendidik manusia untuk selalu memiliki kesadaran bahwa kekayaan tidak selalu identik dengan harta atau glamoritasnya dunia. Tapi, kekayaan letaknya dalam hati. Sejauhmana ia dapat mensyukuri nikmat Ilahi Rabbi, maka di situlah ia menemukan kecukupan hidupnya.

Rasulullah SAW telah mengingatkan kita dalam sabdanya, "Kekayaan (yang hakiki), bukanlah dengan banyaknya harta. Namun, kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR. Bukhari dan Muslim). Puasa mendidik manusia agar menjadi orang-orang yang merasa cukup dengan pemberian dari Allah SWT. (tribun cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved