Dewi Buka Wawasan Perempuan Lewat Informasi
Menurutnya, sangat disayangkan sampai saat ini masih banyak kaum ibu yang masih sangat minim akan akses dan informasi.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Pesatnya kemajuan teknologi informasi, membuat berbagai informasi dan aktivitas ekonomi bisa diakses dengan cepat dan mudah. Namun, tak semua fasilitas itu bisa diakses kaum perempuan, khususnya ibu-ibu rumah tangga.
Dewi Ade Anjani, seorang aktivis perempuan di Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita (PPSW), menilai pada hakekatnya perempuan memegang peranan penting dalam hidup ini dan memiliki hak yang sama untuk memaksimalkan kemampuan serta peluang. Namun pemberdayaannya masih perlu terus ditingkatkan.
Menurutnya, sangat disayangkan sampai saat ini masih banyak kaum ibu yang masih sangat minim akan akses dan informasi. Jika semakin banyak ibu yang mendapatkan informasi secara mudah, akan menciptakan banyak ibu yang cerdas. Sehingga mereka pun mampu menciptakan anak-anak yang cerdas juga.
"Pembangunan ini sangat ditentukan oleh generasi-generasi cerdas. Dan siapa yang mampu menciptakan generasi cerdas itu? Ya, dia adalah perempuan. Perempuan cerdas pastinya akan mampu membina dan mendidik anak yang cerdas. Itu tentu saja didukung oleh informasi dan akses yang mereka dapatkan," ungkap Dewi, panggilan akrab ibu tiga anak itu kepada Tribun, Jumat (26/4/2013).
Yang menjadi persoalan saat ini, menurutnya, ketika seorang perempuan telah menjadi ibu rumah tangga, kebanyakan mereka bergerak lebih banyak pada naluri. "Pendidikan yang rendah membuat mereka kesulitan dalam memperoleh akses informasi," ucapnya.
Oleh karena itu, dengan keberadaan Dewi dan teman-temannya, ingin membantu memudahkan para ibu untuk membuka wawasan mereka lewat berbagai informasi yang diberikan. Sehingga pola pikir mereka tidak berkutat pada dapur saja, tapi lebih luas, dan pada akhirnya mereka lebih cerdas dalam segala hal, dan mampu memegang andil penting dalam setiap kebijakan.
Banyak cara yang dilakukannya dalam membantu kaum ibu, baik yang ada di pedesaan maupun perkotaan, untuk mendapatkan akses informasi dengan mudah. "Biasanya saya selalu memberikan seminar, pelatihan, dan kursus. Setiap sebulan sekali kami mengadakan pertemuan.
Pertemuan itu bertujuan memecahkan berbagai persoalan yang mereka hadapi," ujarnya.
Tidak mudah baginya mengajak para ibu untuk bersama-sama melaksanakan kegiatan yang diadakan. Semuanya butuh proses. Namun hal itu tidak menjadi halangan bagi Dewi untuk memajukan perempuan Kalbar.
Cakupan daerah yang dibinanya melingkupi Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak. "Setiap daerah kami bagi menjadi bebera kelompok. Kalau KKR kita memiliki 35 kelompok, 1 kelompok terdiri dari 15 ibu. Sedangkan di Kota Pontianak sekitar 17 kelompok," imbuhnya.
Sejauh ini banyak progress yang telah dicapai dari hasil kegiatan dilakukan. "Saya lihat ibu-ibu lebih kritis. Mereka mampu mengemukakan kebijakan dalam membuat sebuah keputusan penting, baik di intern maupun ekstern hidupnya. Beberapa di antara mereka ada yang sudah membuka PAUD. Dan yang pasti mereka jauh lebih mandiri," tambahnya.
Dari kegiatan yang dilaksanakan, kaum ibu juga diajak berwirausaha sendiri. Meskipun di rumah, para ibu dapat menjalankan usaha sendiri, tanpa mengganggu peranan mereka di dalam rumah tangga. Meskipun dengan modal yang minim, tapi mereka dapat membuka usaha kecil-kecilan.
"Kami selalu memberikan pemahaman kepada mereka. Modal tidak menjadi penghalang bagi siapapun yang ingin membuka usaha. Kami di sini senantiasa membimbing dan mengarahkan mereka," ucapnya.
Dewi sangat senang perubahan yang tampak pada ibu-ibu binaannya. Tadinya tidak punya usaha, sekarang sudah banyak yang membuka usaha sendiri. Bahkan pemasarannnya sampai ke luar kota. "Produk yang mereka jual seperti jamu, asinan, keripik, dan masih banyak lagi. Olahan mereka tidak kalah kualitasnya dengan para pengusaha besar," tutur perempuan yang gemar membaca itu.
Kini mereka tengah sibuk membuat kerajinan tangan dari limbah sampah yang ada, seperti kardus, bungkus mi, plastik, dan sampah lainnya, yang bisa dimanfaatkan dibuat menjadi beberapa kerajinan tangan. "Pemasarannya masih di sekitar tempat tinggal mereka. Itupun kadang kami kelabakan karena pesanan yang datang lumayan banyak," ucapnya.
Kiprah Dewi dalam menangani permasalahan perempuan saat ini menjadi lebih besar, ketika dirinya terlibat dalam Asosiasi Perempuan Usaha Kecil KKR. Di mana ruang lingkupnya tak hanya para ibu rumah tangga, karena sekarang menjadi lebih luas.
"Target kita kali ini pada perempuan yang kegiatannya bertani dan berkebun. Di sini saya mengarahkan mereka untuk menghasilkan produk yang unggul. Yang tidak bisa dilakukan, kita bantu pecahkan," ujarnya.
Melalui kegiatan yang dilakukan ini, ia menginginkan perempuan tidak hanya sebagai pelengkap. Namun perempuan saat ini harus lebih kreatif, mandiri, kritis, selalu semangat, dan tak pernah menyerah mengejar impian mereka.
Dukungan Suami jadi Kunci
Aktif pada berbagai organisasi, tentunya menyita banyak waktu Dewi sebagai ibu rumah tangga. Niatnya yang begitu tinggi dan tulus dalam memajukan perempuan Kalbar, mendapat suport yang besar dari suaminya, Zainiansyah.
"Alhamdulillah suami sangat mendukung apa yang saya lakukan saat ini. Tanpa dukungan dia, saya tidak ada apa-apanya. Sejauh ini kegiatan saya tidak pernah mendapat protes darinya," ujar Dewi.
Dia menambahkan, di balik perempuan hebat atau setegar apapun perempuan itu, pasti ada pria hebat di belakangnya. Sehebat apapun perempuan itu, jika tanpa restu dan dukungan suami, maka ia tidak ada apa-apanya. "Justru yang menyuruh saya melakukan banyak kegiatan ini, ya suami saya," tuturnya.
Ia mengatakan, suami selalu setia menemaninya. Kadang mengantarkan ke lokasi yang dituju. "Lumayan juga medan yang biasa saya lalui. Biasa kalau sudah ke desa, bisa berjam-jam. Pernah yang sampai 6 jam lebih. Belum lagi jalannya yang hancur dan harus berjalan kaki sampai berkilo-kilometer. Terkadang kalau saya enggak fit, suami yang mengantarkan," ucapnya.
Menurutnya, medan rusak atau alam tidak mendukung, sudah bisa baginya. "Lelah dan capek menjadi hilang jika melihat semangat ibu-ibu. " tuturnya.
Justru dari aktif berorganisasi, memberikan dampak positif dalam kehidupan pribadi Dewi. Ia merasakan sendiri perubahan yang terjadi dalam dirinya. "Saya dulu beda dengan sekarang. Artinya wawasan saya menjadi semakin luas. Dan setiap ada kebijakan yang dibutuhkan, saya terlibat di dalamnya," tambahnya.
Sebagai perempuan, ia merasa tersentuh ketika melihat fenomena yang dihadapi para perempuan saat ini. Lewat peranan yang dilakukannya, ia berharap dapat membantu segala permasalahan yang dihadapi para perempuan Kalbar saat ini. (mir/tribun pontianak cetak)
Biofile:
Nama lengkap: Dewi Ade Anjani
Panggilan: Dewi
Kelahiran: Ketapang, 12 Desember 1982
Hobi: Membaca
Suami: Zainiansyah AK SPd
Anak:
* Asha Qur'anul Khafiza
* Vulka Natswatul Khaira
* M Fathirul Haq