Perempuan Inspiratif
Wanah yang Tak Pernah Menyerah
Saya bangga saat itu bisa menjadi salah satu perempuan inspirasi untuk perempuan di Indonesia
"Saya bangga saat itu bisa menjadi salah satu perempuan inspirasi untuk perempuan di Indonesia. Meskipun tidak menduduki peringkat sepuluh besar, bagi saya bisa mewakili pengusaha wanita Kalbar saja waktu itu sudah cukup," ujar Wanah, saat ditemui di kediamannya yang berada di Jalan Purnama, Selasa (10/4/2013).
Kisah perjalanan hidup Wanah yang dimulai dari nol sampai sukses hingga sekarang ini, sangat menarik untuk diikuti. Perempuan yang satu ini tidak pelit untuk berbagi kesuksesan kepada orang lain.
"Sebagai perempuan Indonesia, kita jangan hanya duduk dan nonton sinetron di rumah. Kita bisa melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Tambahlah wawasan melalui banyak media. Dengan itu wawasan kita luas dan pikiran pun terbuka. Sehingga kita bisa melakukan hal yang dikerjakan untuk membantu suami dalam menghasilkan uang," tuturnya.
Ia bercerita, dahulu awal usahanya dimulai dari berjualan sosis di halaman terbuka di sekolah yang tak jauh dari rumahnya. Hanya bermodalkan tempat penggorengan dan meja kecil, ia berjualan di sana. Meskipun kepanasan akibat terkena sengatan sinar matahari, ia tidak menyerah menjalankan usahanya itu. Rupiah demi rupiah dikumpulkannya.
"Saat saya berjualan waktu itu, saya sedang hamil besar. Tapi itu tidak menghalangi saya untuk membantu suami mencari uang. Dari hari pertama jualan, dagangan saya ludes. Hal itu membuat saya semakin semangat untuk menambah jualan setiap harinya. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menambah ragam jual makanan yang dijual," ujarnya.
Berjualan dari pagi hingga siang, lantas ia tidak menyia-nyiakan waktunya yang ada. Sehingga di sore harinya ia pun mencoba merambah usaha lagi dengan menjual kue tradisional. "Majalah-majalah yang saya baca memberikan inspirasi kepada saya untuk membuka usaha jajanan kue tradisional. Kebetulan saya pandai membuat kue putu," ucapnya.
Dari uang tabungannya, ia membeli sebuah gerobak bekas yang masih bagus. Kemudian ia pun membuka usaha baru dengan berjualan kue putu didampingi kue-kue tradisional lainnya di kawasan Jl Purnama. Tidak mudah baginya menjalankan dua usaha sekaligus. Namun ia tidak berjualan sendirian, ia dibantu oleh dua anak buahnya yang bekerja di kantin di tambah dua lagi berjualan kue tradisional.
Di tahun-tahun pertama, ia sangat bekerja keras. Konsentrasi ditujukan pada usaha barunya itu tapi tetap tidak menyampingkan usaha lamanya. "Saya pernah dalam keadaan kaki sakit dan luka harus mendorong gerobak ke tempat penjualan. Semangat saya yang tinggi membuat saya tidak pernah mengeluh sedikitpun. Itulah hidup, butuh perjuangan keras menjalaninya," pungkas ibu satu anak itu.
Kue putu buatannya sangat terkenal akan kelezatannya. Ia mampu menjual sekitar
800 kue putu dan aneka kue tradisional lainnya dalam sehari. Jika musim Imlek dan festival kue bulan, kue putunya selalu laris terjual. Bahkan sampai 1.500 kue putu ludes terjual dalam sehari.
Kini ia telah membuka cabang di kawasan Paris. Kue putunya yang lezat kerap selalu habis terjual setiap harinya. "Saya jualan dari jam 14.30 sampai 20.30. Alhamdulillah biasanya habis. Kalau bulan puasa, penjualan meningkat hingga lima puluh persen," ujarnya.
Dia mengatakan, kini ia menemukan lagi dunia barunya. Setelah mengikuti kursus sekolah tata rambut dan tata rias pengantin. Kini ia telah merambah usahanya lagi dengan membuka salon kecantikan di kediamannya.
Salon itu ia bangun persis di samping rumahnya, dan diberinama Nirwana Salon. "Saya dapat menjalankan usaha salon ini tanpa keluar rumah. Sekaligus dapat mengontrol pekerjaan para karyawan di rumah," tuturnya.
Perempuan berkerudung yang satu ini paling tidak suka berdiam diri. Ada saja ide yang terbesit di dalamnya. "Sekarang ini saya menerima jasa menatas rias pengantin. Hampir waktu yang saya miliki menjadi semakin padat," tuturnya.
Dari penghasilan yang didapatkannya kini ia mampu menambah kendaraan bermotor miliknya. "Saya sangat bersyukur berkat kerja keras yang dilakukan, saya bisa menambah motor dimiliki menjadi lima unit. Bisa merehab rumah dan jalan-jalan ke luar kota saat libur," ujarnya.
Wanah sangat bersyukur atas limpahan nikmat yang diberikan Tuhan kepada keluarganya. Dari modal yang hanya seratus ribu rupiah, ia membantu suaminya dalam mencari nafkah. Kini ia telah menikmati dari semua kerja keras dan ketekunannya.
"Inilah saya. Yang tidak pernah gengsi atau malu-malu dalam menjalankan usaha apapun. Walau masih kecil, tapi perlahan, usaha-usahaku akan terus merangkak naik. Inilah jiwaku yang selalu ingin terus maju," tuturnya.
Berkat Dukungan Suami
Kesuksesan yang saat ini diraih Wanah dalam menjalankan usaha-usahanya, ia akui semua ini berkat dorongan dan doa dari suaminya, Radiasyah. Radiasyah tak pernah lelah mendorong dan memberikan selalu semangat kepadanya.
"Suami saya selalu standby jika saya butuhkan. Banyak suka duka yang telah kami lalui bersama dalam menjalankan usaha kami. Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun ketika perlukan bantuannya. Seperti membantu membuat meja, dan bahkan membuat kue," ucap Wanah kepada Tribun.
Kadang suami menjadi tempat curhat dan penampung segala ide yang terbesit dari dirinya. "Setiap saya akan menjalankan usaha apapun, saya selalu meminta saran kepada suami. Alhamdulillah, sejauh ini ia tidak pernah komplain dengan setiap ide usaha yang saya utarakan," imbuhnya.
Ia mengatakan restu suami, restu Allah juga. Apa artinya jika melakukan sesuatu tanpa restu dan dukungan sang suami. Bagaimanapun suami adalah pemimpin keluarga, segala keputusan ada di tangannya. "Jika suami tidak setuju maka saya tidak berani melakukannya. Waktu itu saya pernah ingin ikut bisnis MLM. Suami sangat menentangnya. Saya tidak berani menjalankannya," tuturnya. (mir/tribun pontianak cetak)
Biofile:
Nama lengkap: Wanah
Kelahiran: Cabang Belit, 7 September 1973
Hobi: Membaca, travelling dan shopping
Suami: Radiasyah
Anak: M. Bintang Nur Amali