Foto Orangutan Antar Maya Raih Tiga Gelar

seorang fotografer wanita asal Kalimantan Barat, yang meraih penghargaan Foto Terbaik Indonesia 2013 ini

Penulis: Mirna | Editor: Arief
zoom-inlihat foto Foto Orangutan Antar Maya Raih Tiga Gelar
TRIBUN PONTIANAK/LEO PRIMA
Jessica Helena Wuysang dengan dua penghargaan yang diraihnya

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Mengabadikan momen atau objek apapun lewat kamera, merupakan bagian yang sangat menyenangkan bagi sebagian orang. Khususnya penghobi fotografi. Tak heran banyak di antara dari mereka yang mulanya berawal hobi, kemudian menjadi profesi yang ditekuni.

Seperti cerita di balik prestasi dan kesuksesan yang diraih Jessica Helena Wuysang, seorang fotografer wanita asal Kalimantan Barat, yang meraih penghargaan Foto Terbaik Indonesia 2013 ini. Berkat kecintaannya yang begitu besar pada dunia fotografi, melahirkan banyak karya yang luar biasa.

Banyak penghargaan yang telah disabetnya. Belum lama ini, ia meraih tiga penghargaan sekaligus di tingkat nasional. Yakni ia berhasil menyabet Juara 1 kategori Foto Jurnalistik pada Anugerah Adinegoro, Februari 2013. Dan pada Anugerah Adiwarta 2012 lalu, ia bahkan memboyong dua penghargaan sekaligus, yaitu Juara 1 kategori Foto Berita Bidang Lingkungan, dan Penghargaan khusus Foto Terbaik, pada Desember 2012.

"Saya tidak menyangka sebelumnya bisa mendapatkan tiga penghargaan itu. Karena banyak peserta lainnya yang tak kalah hebatnya. Untuk Anugerah Adiwarta, saya sudah ketiga kalinya mengikuti perlombaan itu. Dan foto ketiga yang saya kirimkan ini merupakan benar-benar anugerah dari Tuhan. Di mana saya dapat meraih penghargaan yang boleh dikatakan ditunggu banyak orang," ungkap Maya, panggilan akrab fotografer cewek di sebuah kantor berita ini kepada Tribun, Jumat (8/3/2013).

Dari satu foto yang sama, ia mampu meraih tiga perhargaan sekaligus. Waktu itu Maya mengirimkan foto seekor Orangutan yang meringkuk kesakitan, setelah terjebak lama dari kobaran api yang sengaja dinyalakan warga, dalam upaya penyelamatannya.

"Foto itu saya ambil ketika saya liputan pada Agustus tahun lalu. Selama dua hari berturut-turut, saya berada di lokasi. Teman-teman banyak menyukai foto itu. Mereka mendukung saya untuk mengirimkannya dalam perlombaan," ujarnya.

Menyandang predikat Fotografer Terbaik Indonesia, merupakan beban moral tersendiri baginya. Ia mengatakan setelah mendapatkan penghargaan itu, karya-karya fotonya menjadi perhatian banyak orang.

"Tentu saja membuat beban bagi saya. Sehingga sedikit banyak mempengaruhi dalam hasil kualitas jepretan saya. Saya tidak seperti dulu yang asal jepret. Sekarang saya lebih hati-hati dan memilih objek atau momen yang benar-benar bagus," ucapnya, sambil tersenyum.

Benih kecintaannya di dunia fotografi mulai ia rasakan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. "Saya dikenalkan dunia ini oleh keluarga. Saya banyak belajar dari ayah saya. Ayah saya sangat suka memotret, jadi saat kecil saya sudah biasa memegang kamera," pungkasnya.

Tadinya, setelah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), ia berencana melanjutkan studinya di bidang fotografi. Akan tetapi keluarganya tidak mendukung keinginannya tersebut. Akhirnya ia pun memutuskan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak.

Sebelum tamat kuliah, selama delapan bulan ia menyempatkan diri mengikuti kursus fotografi di Bandung. "Saat saya mengikuti kursus itu, saya masih belum menyusun skripsi. Saya ke Bandung dan belajar banyak tentang fotografi dasar. Setelah pulang, saya fokus merampungkan skripsi. Saya sangat bersyukur sekali semuanya berjalan dengan lancar," tuturnya.

Kembali lagi, ia dibingungkan pada pilihan hidupnya. Setelah Maya menyandang gelar Sarjana Ekonomi, ia bingung untuk bekerja sesuai hobinya atau kerja kantoran. "Apapun saya lakukan semuanya ditentukan dari hati. Ketika hati saya mengatakan lakukan, maka saya akan lakukan. Karena suara hati adalah suara Tuhan. Dan hati saya berkata agar saya bekerja sesuai bidang yang disukai, makanya saya pun memutuskan mencari uang dari fotografi," terangnya.

Tahun 2005, ia sudah memiliki kamera sendiri, yaitu Nikon D50 plus lensa kit. Kamera itu dibelikan oleh orangtuanya. Jatuh bangun sempat dirasakannnya. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Mulai memotret resepsi pernikahan, prewedding, dan acara-acara lainnya. Apapun momen atau kegiatannya, ia lakukan selagi menghasilkan uang. "Penghasilan pertama saya saat itu Rp 150 ribu. Berapapun yang saya dapatkan, saya selalu mensyukurinya," ujarnya.

Dikarenakan ia sering mengirimkan foto ke beberbagai media yang ada di Kalimantan Barat ini, akhirnya ia tertarik untuk menjadi seorang fotografer jurnalistik. Pada 2007, ia sempat bekerja di Surat Kabar Harian Borneo Tribun. Tak lama di sana, ia direkrut Kantor Berita Antara untuk menjadi fotografer di sana.

Menurutnya, standarisasi sebuah foto berita beda antara foto biasa yang ia jepret. Butuh tiga bulan lamanya ia beradaptasi pada tempat kerja barunya. "Selama 3 bulan kerja di sana, foto saya tidak satupun lolos standar skala nasional. Saya tidak menyerah begitu saya. Saya coba terus. Meskipun gagal berkali-kali bagi saya itu adalah tantangan. Pada bulan kelima bekerja, akhirnya foto saya baru dimuat. Foto pertama saya dimuat di Antara waktu itu foto demonstran yang lagi meng ibarkan bendera merah putih di atas bambu runcing Untan. Saya senang minta ampun," ceritanya.

Menghasilkan foto yang bagus, menurutnya tidak lah mudah. Kerap dari 500 frame foto yang dijepret, hanya 3 sampai 5 foto yang boleh dikatakan bagus. "Kalau saya, tipe orangnya memotret ke sana kemari. Tidak bisa diam. Sebab saya mengeksplore momen dari sudut manapun," tuturnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved