Wisata di Taiwan Bersama Garuda (2)

Sehari 30 Ribu Orang Lihat Sawi Putih

Perjalanan tak begitu terasa lantaran ditempuh melalui highway. Tak ada kemacetan dan tak ada jalan berlubang.

Rombongan Familiarization Trip Garuda Indonesia beruntung dapat menyaksikan dari dekat peninggalan budaya masyarakat China yang tersimpan di National Palace Museum, Taiwan. Rombongan menyambangi Museum ini usai mengunjungi Martyrs Shrine, Jumat (27/7/2012).

Perjalanan menuju National Palace Museum di Zhishan Rd memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Martyrs Shrine. Perjalanan tak begitu terasa lantaran ditempuh melalui highway. Tak ada kemacetan dan tak ada jalan berlubang.

Kendaraan yang melintasi jalan ini tak boleh melaju di bawah 80 KM/jam dan tak boleh melebihi 120 KM/ jam. Jika melanggar, polisi lalu lintas siap menilang dengan denda sekitar 6.000 New Taiwan Dollar (NTD) atau sekitar Rp 1,8 juta dengan asumsi 1NTD = Rp 300.

Jalanan juga ditata apik dengan dua jalur. Tiap jalur dengan empat hingga enam lintasan. Di sisi kiri jalan pekerja tengah menyelesaikan pembuatan jalan layang. Seluruh kota dibuat bebas macet dengan keberadaan jalan layang ratusan kilometer.

Bus merah muda terus melaju hingga sampai di depan bangunan megah berarsitektur China yang kental pada bagian genting dan dinding. Rombongan harus melintasi halaman luas hingga sampai di pintu masuk museum. Sebelum masuk, petugas menyeterilkan pengunjung.

Tas besar dan kamera tak boleh masuk ke dalam ruangan koleksi barang. Saking ramainya, setiap rombongan yang berjumlah di atas 20 orang harus menggunakan earphone khusus yang terkoneksi dengan pemandu wisata. Melalui alat inilah Anthony yang menjadi pemandu rombongan Fam Trip menjelaskan satu demi satu isi museum.

Rombongan yang mengunjungi National Palace Museum memang diharuskan menggunakan earphone khusus ini. Jika tidak, mereka tak akan dapat mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata masing-masing lantaran kondisi ruangan yang disesaki pengunjung.  

"Ada sekitar 700.000 koleksi barang antik di National Palace Museum. Barang-barang ini dipajang bergantian selama beberapa hari. Perlu waktu hingga 33 tahun untuk memamerkan semua isi museum secara bergantian," papar Anthony.

Tak tanggung-tanggung, usia koleksi yang ditampilkan mencapai 600 hingga 700 tahun. Namun yang paling tersohor yakni Bai Cai atau sawi putih. Jangan mengira sawi yang dipajang ini seperti sayur sawi layaknya di tanah air yang biasa diperdagangkan di pasar tradisional.

Sawi tersohor ini terbuat dari batu giok dua warna yakni putih dan hijau. Batu ini rupanya berasal dari Birma.
Dahulunya, batu ini didapatkan penguasa China dari Dinasti Ching saat hendak menginvansi kerajaan lain. Batu giok ini menjadi upeti saat itu, sebagai tanda tunduk sehingga peperangan tak terjadi. Ketika sampai di China, giok ini diukir pengrajin China menjadi bentuk sawi putih.

Dari sekian banyak giok di dunia, giok berbentuk sawi putih berusia 700 tahun inilah yang paling tersohor.

Giok sawi putih ini melambangkan kemakmuran. Bagian putih giok diukir menjadi batang sawi, sedangkan bagian hijau diukir menyerupai daun sawi. Di atas daun sawi, terdapat ukiran seekor jangkrik.

Sayangnya Tribun tak dapat mengabadikan gambar lantaran seorang penjaga wanita terus mengawasi setiap pengunjung yang mendekat. Pengunjung yang mengeluarkan telepon seluler berkamera juga ditegur keras saat hendak mengambil gambar.
Dari 700.000 koleksi barang di museum, giok ini yang menjadi daya tarik utama. Setiap harinya sekitar 30 ribu orang yang melihatnya. Jumlah ini terus bertambah saat liburan musim panas.

Selain giok sawi putih, koleksi memikat milik museum lainnya yakni ukiran dari gading gajah yang menyerupai bola. Bola dari gading gajah ini diukir berlapis-lapis hingga satu lapisan dngan lapisan lainnya dapat diputar.

Proses pengukiran dilakukan manual, selapis demi selapis.
Anthony mengatan, bola dari gading gajah ini pernah dibawa ke Amerika untuk diteliti apakah proses pengukiran bola benar-benar dilakukan secara manual.

"Hasilnya, memang manual. Dipercayai ada 13 lapisan di dalam bola ini. Orang juga percaya yang mengukir bukanlah manusia, tapi orang luar angkasa karena jari mereka panjang- panjang dan mampu menjangkau sudut tersempit," ujar Anthony seraya tersenyum.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved