Pemilukada Landak

Nurani Antar Landak Sejahtera

Pandang seksama anak dan cucu kita saat ini. Relakah mereka tertinggal dari saudara-saudara sebangsa lima tahun ke depan? Optimalkan nurani.

KAMIS, 9 Juni 2011 besok, momentum amat penting bagi segenap masyarakat Landak untuk menentukan nasib lima tahun mendatang.

Jangan sia-siakan hak asasi untuk menentukan pilihan dalam Pemilukada. Jangan sampai salah pilih dari tiga calon pasangan bupati dan wakil bupati priode 2011-2016.

Jernihkan pikiran dan optimalkan hati nurani untuk menentukan pilihan tepat, sesuai harapan masing-masing. Apa yang bisa dirasakan saat ini, dan harapan lima tahun ke depan adalah dasar paling jitu menetapkan pilihan.

Tiap warga telah menyaksikan dan mengikuti sepak terjang ketiga calon pasangan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun selama tahapan kampanye. Mulai pasangan Cabup Syahdan Anggoi dan Cawabup Honorius Bruno yang diusung Partai Demokrat dan Golkar.

Cabup incumbent Adrianus Asia Sidot dan Cawabup Herculanus Heriadi yang dijagokan PDIP, dan pasangan terakhir Cabup Suprianto dan Cawabup Surjani yang didukung 12 partai politik.

Gunakan waktu sehari semalam membulatkan hati dan pikiran. Jika belum yakin, minta petunjuk Tuhan. Jangan terpedaya bujuk rayu bersifat sementara dan instan. Apabila ada tawaran uang maupun janji-janji jabatan, abaikan.

Praktik yang sering terjadi tiap Pemilukada di Tanah Air itu, cenderung merugikan rakyat sendiri. Hampir tak bisa dielak, money politics senantiasa menjadikan rakyat sebagai alat belaka. Begitu suara didapat, jangan harap aspirasi pemilih teramalkan ketika bupati meraih kursi empuk.

Rakyat Landak wajib cerdas lahir batin. Hakekatnya, mencoblos pasangan kepala daerah adalah menentukan figur pelayan masyarakat. Seseorang yang terpanggil melayani dan memerjuangkan kepentingan khalayak tanpa pamrih.

Eksistensi bupati dan wakil bupati dalam demokrasi Pancasila tegas dan jelas sebagai pelayan rakyat. Melekat amanah utama melaksanakan dan mewujudkan aspirasi, kepentingan dan cita-cita rakyat. Bupati dan wakil bupati bukan raja-raja kecil, seperti dalam negara penganut sistem monarki.

                                                                                                                 Demokrasi Bermartabat
Di republik tercinta, pemerintahan di tangan rakyat. Itu sebabnya, apabila kepala daerah mengkhianati rakyat, parlemen (DPRD) yang juga dipilih rakyat, berhak meng-impeachment atau memberhentikan.

Begitu vitalnya "suara" rakyat, acapkali dibidik calon kepala daerah tak amanah dengan berbagai cara, termasuk menghalalkan segala cara. Umumnya, uang dan iming-iming jabatan dijadikan alat tawar, kompensasi sesaat.

Tak tertutup kemungkinan menggunakan tekanan psikis dan fisik. Jangan pernah takut, jika tak melanggar perintah Tuhan. Sejatinya hanya Tuhan yang wajib ditakuti. Wajib diingat, praktik politik hitam hanya mengundang gurita dekadensi moral hingga korupsi.

Bujuk rayu, iming-iming uang dan jabatan wajib dicekal karena menodai hakekat demokrasi. Rakyat jangan sampai menyesal, setelah terkhianati kelak.

Pandang seksama anak dan cucu kita saat ini. Relakah mereka tertinggal dari saudara-saudara sebangsa lima tahun ke depan? Tertinggal secara ekonomi karena kemiskinan, sumber daya manusia tak bersaing karena pendidikan rendah, atau harapan hidup lebih pendek akibat buruknya kesehatan.

Rakyat Landak yang bisa menjawab. Kini, kemiskinan masih mencengkeram Landak. Sekitar 15,83 persen atau 55.830 warga hidup serba kekurangan, 4,58 persen atau 7.171 warga menganggur.

Tanah Landak seluas 9.909,1 kilometer persegi, juga menyisakan enam dari 174 desa tertinggal. Mayoritas penduduk atau 82,51 persen menggantungkan hidup sebagai petani, namun infrastruktur jalan belum mumpuni.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved