Youngster

Tampil Nyaman Pakai Sendal Jepit

Dari pekerjaaan menjadi DJ dan meremix lagu, memberikan tambahan penghasilan mereka.

Penulis: Mirna |
Tribunpontianak.co.id- Mengibur para audience dengan aksi panggungnya, adalah bagian dari kegiatan yang ditekuni oleh mereka yang tergabung dalam komunitas Cross Liners Club n Society.

Musik, bagi mereka seperti blood atau darah. Disc Jockey (DJ ) pun menjadi pilihan dalam mereka berkarier. Latar belakang terbentuknya komunitas ini, menurut pendiri komunitas, D'Pol untuk menyalurkan para murid Cross Line DJ School. Sebagian besar anggota komunitas adalah murid-murid dari Cross Line DJ School.

"Jadi dengan adanya komunitas ini, tempat kami berkumpul. Di sini kami bisa saling sharing dalam hal musik dan sebagainya. Yah, mempererat tali persaudaraan di antara kami," ungkap D'Pol (25) kepada Tribun, Rabu (1/6).

Walaupun masih memandang sebelah mata terhadap dunia malam, tidak menghalang niat mereka untuk berkarier sebagai DJ. "Tergantung orangnya juga. Kembali lagi kepada personal. Tapi kalau kita yang sering nge-DJ di klub atau kafe, jarang untuk mabuk-mabuk atau ngedrug. Titik berat kita lebih live music," ujarnya.

Untuk menjadi seorang DJ, bagi mereka bukan hal yang mudah. Mereka harus menempuh pendidikan dahulu dan baru bisa menguasainya. Speed hunting atau menyamakan tempo yang harus dikuasai bagi seorang DJ.

"Saya bisa nge-DJ setelah belajar dulu selama dua bulan. Dengan ilmu yang didapat, sayapun manfaatkan untuk mencari uang," ungkap Dio (24), anggota komunitas Cross Liners Club n Society.

Beda lagi dengan Dede, selama 2,5 tahun tidak pernah berhenti memperdalam ilmunya me-remixing lagu. "Banyak program yang harus dikuasai. Di antaranya multyloop, efect studio. Tapi pada intinya meremixing lagu harus tahu kunci-kunci bermain keyboard," ucap Dede (22).

Menurut Dede, poin yang paling penting adalah feeling ketika memainkannya. Ketajaman feeling meremix banyak lagu membutuhkan kesabaran. Tak heran berlama-lama di depan komputer sudah terbiasa bagi Dede. Sampai saat ini sudah ratusan lagu yang telah diremixingnya.

Dari pekerjaaan menjadi DJ dan meremix lagu, memberikan tambahan penghasilan mereka. D'Pol mengutarakan dalam satu pekan ia mendapatkan tiga kali jadwal manggung. "Biasa sih saya diminta untuk main selama 2 jam. Untuk satu jam main, biasa dibayar Rp 2 juta," ungkapnya.

Dari penghasilannya itu, ia sudah dapat mengembalikan modal peralatan yang dibelikan orangtua kepadanya. "Cukuplah untuk biaya hidup," ujar D'Pol.
Mereka berbeda dari kebanyakan DJ yang ada. Jika manggung style yang digunakan begitu wah dan memakai barang serba bermerk.

Mereka malah lain. Dalam segi style, mereka tidak terlalu memikirkannya. Celana jeans dan baju Tshirt sudah cukup bagi mereka. Bahkan dengan mengenakan sandal jepit, mereka menghibur para penonton. "Terkadang saya kalau manggung, pakai sendal jepit enggak masalah. Yang terpenting adalah performance kita di stage," ungkap D'Pol.

Dio menambahkan, seorang DJ kerjaannya harus menghibur para penonton yang hadir. Lagu yang dimainkan harus variatif, kreatif, dan juga harus bisa beratraksi kepada para audience yang ada.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved