Ibu Saya Terhebat di Dunia
Perlahan ia menuju podium utama. Wajahnya sumringah menuju detik-detik menyandang predikat sarjana.
Penulis: Jovanka Mayank Candri |
PONTIANAK, Tribunpontianak.co.id- Berpakaian wisuda lengkap, Nurhadianto ikut berjejer dengan ratusan wisudawan lainnya menunggu namanya dipanggil dalam prosesi wisuda.
Perlahan ia bergerak menuju podium utama. Wajahnya sumringah menuju detik-detik menyandang predikat sarjana.
Wisudawan peraih Indek Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi ini pantas berbangga. Meski berasal dari keluarga kurang mampu, ia membuktikan bahwa pendidikan tak hanya bisa diakses oleh kalangan berada.
Dengan tekad kuat, konsisten dan niat yang tulus, Nurhadianto berhasil mendapatkan apapun yang diinginkannya.
"Alhamdulillah, ini berkat usaha dan kerja keras. Dalam hidup, saya punya tiga moto yakni kerja keras, kerja ikhlas dan kerja tuntas. Insya Allah dengan itu semuanya bisa tuntas," ujar kelahiran Sekura (Sambas) 24 tahun silam ini.
Menurut Nurhadianto, makna dari moto tersebut adalah segala sesuatunya harus dilakukan dengan kerja keras dan sungguh-sungguh.
Namun, usaha dikatakannya harus diimbangi dengan kerja yang ikhlas, artinya dalam usaha harus tidak boleh lupa pada sesuatu yang maha kuasa atas segala yang didapatkan.
Dengan itu, menurutnya segala sesuatu akan berhasil dengan maksimal atau tuntas. Dalam menjalani perkuliahan, dikatakannya, ia tidak semata-mata aktif diperkuliahan saja.
Namun, saat menjadi mahasiswa, ia sudah mengajar di SMA Muhammadiyah 1 dan SMA Mujahidin Pontianak.
Tak hanya mengajar, ia bahkan sudah menjadi asisten dosen di Akademi Kebidanan (Akbid) Aisiyah dan Universitas Muhammadiyah Pontianak (UMP).
"Untuk biaya kuliah alhamdulillah sendiri, jadi sudah cukuplah," ujar anak ke sembilan dari sembilan bersaudara ini.
Menurutnya, karena prestasi itu ia pernah mendapatkan beasiswa baik dari kampus dan pernah akan diberikan bantuan oleh anggota DPRD.
Namun, secara halus ia mengalihkan bantuan tersebut kepada mahasiswa lainnya yang lebih memerlukan.
"Bukan tak mau, tapi berbagi rejeki dengan yang lain yang lebih memerlukan, kan kita sudah diberikan rejeki lain. Jadi, pada saat itu beasiswanya saya alihkan kepada mahasiswa lain," ujar anak petani ini.
Aktivitas Nurhadianto tak berhenti hanya di bangku kuliah, mengajar dan sebagai asisten dosen. Namun, Nurhadianto juga terlibat di banyak organisasi.
Menurutnya selama menjadi mahasiwa hingga kini ia juga pernah aktif di beberapa organisasi seperti Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Muhammadiyah (IPM) Wilayah Kalbar, Pemuda Muhammadiyah Kalbar hingga KNPI.
Uantuk melakukan aktivitas itu Nurhadianto mendapat dukungan penuh dari orangtua. Maka sangat pantas baginya memuji peran orangtuanya terutama ibunya yang disebutnya sebagai ibu terhebat sedunia.
Tak tamat SD atau sekolah rakyat (SR), namun sosok ibu menurutnya mampu mendidik anaknya sehingga berhasil dan hingga kini sudah ada empat saudaranya yang menjadi sarjana. "Bagi saya ibu menjadi sosok ibu terhebat sedunia, saya bangga," puji Nurhadianto.