Manggala Agni Daops Pontianak Kembangkan Kampung Iklim
Manggala Agni Daops Pontianak terus melakukan inovasi untuk menjaga lingkungan.
Penulis: Try Juliansyah | Editor: Madrosid
Manggala Agni Daops Pontianak Kembangkan Kampung Iklim
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA - Manggala Agni Daops Pontianak terus melakukan inovasi untuk menjaga lingkungan.
Kepala Manggala Agni Daops Pontianak, Sahat Irawan Manik mengatakan pihaknya terus mengembangkan kampung iklim di markas manggala Agni Daops Pontianak di Rasa Jaya.
"Kampung Iklim sebenarnya bagaimana masayarakat kita bisa menjaga lingkungannya dengan tetap bertahan dari pemanasan global. Diantaranya pengelolaan ramah lingkungan, uji coba kompos alami, penyaringan air dan lubang bio pori," ujar Sahat.
Baca: Plt Ketua Forum RT Harap Kehadiran Anggota Komisi III DPR RI Jadi Motivasi Warga
Baca: Erwin TPL Tobing Apresiasi Peran RT Menjaga Lingkungan
Baca: Kapolda Kalbar Perintahkan Direskrimum Back Up Kasus Penggelapan Mobil Rental
Untuk penyaringan air diakuinya hampir sama dengan penyaringan air yang dijual dipasaran, hanya saja komposisi penyaring dan metodenya yang berbeda.
"Penyaringan yang kita kembangkan ini minim bahan kimia, kemudian komposisinya ada yang berbeda susunannya misalnya untuk ijuk kita simpan diawal. Kemudian metodenya kita balik untuk penyaringannya dari bawah ke atas, sehingga saat membersihkan lebih mudah karena tinggal buka keran kotorannya langsung keluar," tuturnya.
Diakui olehnya biasanya masyarakat mulai malas membersihkan jika metode penyaringan dari atas ke bawah.
"Sistem penyaringan dibalik dari bawah ke atas, supaya kotoran mengendap di bawah saat membersihkan tinggal buka keran, beberpa alat menyaring di pasaran fase setelah jenuh, setelah kotor orang malas untuk membersihkan. Maka di desa-desa harus sederhana dan mudah dibersihkan," tuturnya.
Untuk hasil penyaringan alat tersebut diakuinya memang belum ada hasil lab resmi terkait kelayakan untuk di konsumsi.
Namun ia mengatakan yang terpenting keberadaan air bersih terlebih dahulu.
"Penyaring ini minim bahan kimia, memproses air gambut menjadi lebih jernih, rasa dan bau tanah hilang, lebih bersih dan sehat. Harapan kami ini bisa di duplikasi masyarakat karena komposisinya juga masih umum," harapnya.
Sementara itu untuk Lubang Bio Pori diakuinya tidak jauh berbeda dengan sumur resapan. Hanya saja lubang bio pori ini diakuinya dimanfaatkan juga untuk pembuatan pupuk kompos.
"Kalau di tanah mineral ini sangat baik untuk sumur resapan dan menjaga ketersediaan air serta mengurangi banjir. Untuk bio pori ini kita uji coba memasukan sampah organik yang kemudian menjadi kompos, jadi fungsinya selain mengurangi banjir juga hasil dari sampah organik bisa dijadikan pupuk," pungkasnya.