Pilpres 2019

Herzaky: Kampanye Hitam terhadap Prabowo Bentuk Kepanikan dari Kubu Lawan

Pendukung yang tidak terima calonnya difitnah, tidak bakal berdiam diri. Bisa jadi ada aksi balasan.

Herzaky: Kampanye Hitam terhadap Prabowo Bentuk Kepanikan dari Kubu Lawan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi,  Herzaky M. Putra 

Herzaky: Kampanye Hitam terhadap Prabowo Bentuk Kepanikan dari Kubu Lawan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Herzaky M. Putra, Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, menyatakan kampanye hitam yang dilakukan terhadap capres nomor urut dua, Prabowo Subianto, merupakan bentuk kepanikan dari kubu lawan. 

"Berbagai daya upaya memang telah dilakukan oleh pihak lawan, namun sepertinya tidak bisa meredam meningkatnya dukungan masyarakat terhadap Prabowo dari waktu ke waktu," kata Herzaky, Selasa (12/03/2019).

Menurutnya, Peningkatan dukungan ini bisa dilihat dalam beberapa hal, satu diantaranya ialah dimanapun Prabowo berkampanye, lanjut politisi kelahiran Pontianak ini, lautan massa merupakan pemandangan yang selalu kita temui. 

Baca:  Personel Polsek Pontianak Timur Lakukan Pengamananan Penyaluran BNPT dan PKH

Baca: Nama 11 Desa di Kecamatan Suhaid  

Masyarakat, kata dia, sangat antusias untuk hadir, tanpa perlu diiming-imingi dengan sembako ataupun sekedar uang transport. Meskipun lokasi kampanye kadang berubah karena mendadak izin sewa tempat tidak keluar, massa tetap memadati kampanye Prabowo.

"Apalagi menyambut kehadiran Prabowo di kota Pontianak, tanggal 17 Maret 2019 ini. Ada euforia luar biasa yang tercermin dalam perbincangan di media sosial. Meskipun wajah Prabowo mendadak ‘hilang’ dari banyak billboard di seputaran kota Pontianak, tetap saja tidak mengurangi semangat masyarakat untuk mempersiapkan dan menyambut kehadiran Prabowo," paparnya.

Selain itu, elektabilitas Prabowo-Sandi di berbagai survei nasional, menurut Herzaky, meskipun perlahan, naik dengan pasti. Sedangkan elektabilitas Jokowi cenderung stagnan. Angkanya berkisar 40-50an persen. 

Baca: Rajut Kedekatan dengan Anak, Kapolsek: Polisi harus jadi Pengayom bagi Masyarakat

Baca: Kunjungi Sajingan, Ini Ajakan Maria Goreti Pada Warga

Padahal, selaku petahana, lanjut Deputi Kogasma Partai Demokrat ini, Jokowi sudah mendapatkan momen kampanye sejak hari pertama bekerja. 

"Empat tahun menjabat selaku presiden, elektabilitas Jokowi seharusnya bisa di atas 60, bahkan 70 persen, seperti SBY ketika mencalonkan kembali di periode kedua. Karena itu, mungkin saja ada elemen pendukungnya panik dan memilih langkah melakukan kampanye hitam," katanya.

Kampanye hitam, diakui Herzaky kadang memang efektif, dalam menggerus dukungan terhadap lawan. Bagaimanapun, setiap pemilih memiliki kecenderungan mendukung calon yang jejak rekamnya lebih positif.

Sehingga, jika ada calon yang dikampanyekan memiliki cacat sejarah, atau pelaku kejahatan, padahal sebenarnya itu hanyalah hoax, kebohongan yang direproduksi secara masif, bisa membuat calon pemilihnya beralih.

Namun, kampanye hitam sangatlah berbahaya, ujar caleg DPR RI asal Kalbar ini. Bisa meningkatkan ketegangan antar pendukung di akar rumput, bahkan dapat mengarah ke gesekan fisik. 

"Pendukung yang tidak terima calonnya difitnah, tidak bakal berdiam diri. Bisa jadi ada aksi balasan. Ini tentunya bisa mengganggu situasi kondusif pemilu. Untuk itu, perlu ketegasan dari Bawaslu dan aparat terkait. Kampanye hitam jelas melanggar aturan pemilu. Bahkan, beberapa bentuk kampanye hitam bukan sekedar dilarang dalam pemilu, melainkan bisa dijerat dengan hukum pidana," katanya.

"Usut tuntas kasus ini, Tunjukkan kalau Bawaslu dan aparat benar-benar serius dan berdiri di atas semua pihak. Dengan demikian, pihak-pihak lain yang mencoba untuk melakukan kampanye hitam, bakal berpikir dua kali," pungkas Herzaky

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved