Pontianak Wiki

TRIBUN WIKI: Meriam Karbit, Kebudayaan di Pesisir Sungai Kapuas

Kekhasan meriam karbit selalu menjadi daya tarik saat perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.

TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Warga menyulut meriam karbit di tepian sungai kapuas, kawasan banjar Serasan, pontianak, Kalbar, Sabtu (24/6/2017). Permainan meriam karbit merupakan tradisi masyarakat kota Pontianak yang dibunyikan pada malam takbiran. Seiring berjalannya waktu, permainan meriam karbit kemudian diperlombakan yang dikemas dalam festival meriam karbit yang di gelar Forum Meriam Karbit bekerjasama dengan pemerintah kota Pontianak, pada festival meriam karbit Idul fitri 1438H ini di ikuti oleh 259 batang meriam karbit yang terbagi dalam 44 kelompok. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Hamdan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Meriam karbit sangat lekat dengan kebudayaan Kota Pontianak.

Jelang malam takbiran Idul Fitri maupun Idul Adha, ratusan moncong meriam balok kayu akan saling adu dentuman berjejer menghadap Sungai Kapuas.

WARGA menyulut meriam karbit di tepian Sungai Kapuas, Kawasan Banjar Serasan, Jl Tanjung Raya 2, Pontianak Timur, Kalbar, Selasa (5/7/2016) malam.
WARGA menyulut meriam karbit di tepian Sungai Kapuas, Kawasan Banjar Serasan, Jl Tanjung Raya 2, Pontianak Timur, Kalbar, Selasa (5/7/2016) malam. (TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA)

Baca: Asyiknya Wisata Sungai Kapuas Sambil Menyaksikan Ratusan Meriam Karbit

Kekhasan meriam karbit selalu menjadi daya tarik masyarakat yang ingin melihat langsung dentuman bunyi meriam karbit saat perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.

Setidaknya ada dua pilihan cara menonton yang bisa dilakukan oleh para pengunjung untuk melihat meriam karbit.

1.  Menyusuri Sungai Kapuas Melalui Jembatan

Masyarakat Pontianak menyebut jembatan kecil yang menghubungkan antar-rumah di pesisir Sungai Kapuas adalah geretak.

 Baca: Festival Meriam Karbit Tingkat SMA Semarakkan Hari Jadi Pontianak ke-247

2.    Naik Perahu Bandong

Anda bisa juga naik perahu bandong untuk melihat san mendengar suara dentuman meriam dari tepian Sungai Kapuas. 

Peneliti Sejarah Kesultanan Pontianak Khamsyah, Ar Rahman, mengatakan meriam karbit merupakan permainan tradisional yang menjadi ciri khas budaya di tepian sungai Kapuas Kota Pontianak.

“Permainan ini menjadi napak tilas tentang kejadian meriam yang ditembakkan menggunakan meriam besi oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, untuk mengusir para lanun/perompak yang bersembunyi di tepian Sungai Kapuas pada tahun 1771 hingga kemudian berdirilah Kota Pontianak sebagai ibu kota provinsi,” ujarnya.

Sebagai upaya untuk merawat ingatan kejadian itu, diperingati dengan cara memainkan meriam yg terbuat dari kayu balok yang mengeluarkan dentuman keras hingga terdengar hingga ujung kota.

Baca: Kemeriahan Tradisi Sambut Lebaran Dengan Meriam Karbit di Sekadau

Menurut Khamsyah permainan meriam karbit mulai menjadi tradisi tahunan sejak zaman Orde Baru saat menjelang akhir bulan puasa Ramadan hingga Lebaran yakni 1 syawal 1438 H. 

“Meriam kerbet di era Orde Baru mulai jadi sebuah permainan. Sebelmnya jika di masa Sultan meriam kerbet dibunyikan sebaga pengingat atau pemberitahuan waktu salat dan berbuka puasa saat Ramadan,” ujarnya.

Kendati demikian pada masa Sultan Muhammad sudah menggunakan meriam sebagai pengingat dan tanda bagi masyarakat pada momen hari besar islam seperti hari raya.

Tapi diyakini pada masa Sultan pertama pun meriam juga sudah ada. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved