Pontianak Wiki
TRIBUN WIKI: Meriam Karbit, Kebudayaan di Pesisir Sungai Kapuas
Kekhasan meriam karbit selalu menjadi daya tarik saat perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.
Penulis: Hamdan Darsani | Editor: Marpina Sindika Wulandari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Hamdan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Meriam karbit sangat lekat dengan kebudayaan Kota Pontianak.
Jelang malam takbiran Idul Fitri maupun Idul Adha, ratusan moncong meriam balok kayu akan saling adu dentuman berjejer menghadap Sungai Kapuas.

Baca: Asyiknya Wisata Sungai Kapuas Sambil Menyaksikan Ratusan Meriam Karbit
Kekhasan meriam karbit selalu menjadi daya tarik masyarakat yang ingin melihat langsung dentuman bunyi meriam karbit saat perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.
Setidaknya ada dua pilihan cara menonton yang bisa dilakukan oleh para pengunjung untuk melihat meriam karbit.
1. Menyusuri Sungai Kapuas Melalui Jembatan
Masyarakat Pontianak menyebut jembatan kecil yang menghubungkan antar-rumah di pesisir Sungai Kapuas adalah geretak.
Baca: Festival Meriam Karbit Tingkat SMA Semarakkan Hari Jadi Pontianak ke-247
2. Naik Perahu Bandong
Anda bisa juga naik perahu bandong untuk melihat san mendengar suara dentuman meriam dari tepian Sungai Kapuas.
Peneliti Sejarah Kesultanan Pontianak Khamsyah, Ar Rahman, mengatakan meriam karbit merupakan permainan tradisional yang menjadi ciri khas budaya di tepian sungai Kapuas Kota Pontianak.
“Permainan ini menjadi napak tilas tentang kejadian meriam yang ditembakkan menggunakan meriam besi oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, untuk mengusir para lanun/perompak yang bersembunyi di tepian Sungai Kapuas pada tahun 1771 hingga kemudian berdirilah Kota Pontianak sebagai ibu kota provinsi,” ujarnya.
Sebagai upaya untuk merawat ingatan kejadian itu, diperingati dengan cara memainkan meriam yg terbuat dari kayu balok yang mengeluarkan dentuman keras hingga terdengar hingga ujung kota.
Baca: Kemeriahan Tradisi Sambut Lebaran Dengan Meriam Karbit di Sekadau
Menurut Khamsyah permainan meriam karbit mulai menjadi tradisi tahunan sejak zaman Orde Baru saat menjelang akhir bulan puasa Ramadan hingga Lebaran yakni 1 syawal 1438 H.
“Meriam kerbet di era Orde Baru mulai jadi sebuah permainan. Sebelmnya jika di masa Sultan meriam kerbet dibunyikan sebaga pengingat atau pemberitahuan waktu salat dan berbuka puasa saat Ramadan,” ujarnya.
Kendati demikian pada masa Sultan Muhammad sudah menggunakan meriam sebagai pengingat dan tanda bagi masyarakat pada momen hari besar islam seperti hari raya.
Tapi diyakini pada masa Sultan pertama pun meriam juga sudah ada. (*)