Tepuk Tangan Meriah di Polandia Saat Dengar Kisah Sukses Warga Kalbar Bertani Tanpa Bakar Gambut
Puluhan WNA dan WNI pengunjung Paviliun Indonesia bertepuk tangan meriah untuk Wendrika, warga Kalimantan Barat
Penulis: Marpina Sindika Wulandari | Editor: Madrosid
TRIBUN PONTIANAK.CO.ID, KATOWICE – Puluhan WNA dan WNI pengunjung Paviliun Indonesia bertepuk tangan meriah untuk Wendrika, warga Kalimantan Barat, yang terpilih sebagai Fasilitator Desa Peduli Gambut (DPG) Terbaik 2018.
Berbicara di hadapan para peneliti dan pengamat ekonomi tingkat dunia, kehadiran Wendrika di Conference s of The Parties (COP) 24 UNFCCC alias KTT Perubahan Iklim ke-24 di Katowice, Polandia, justru memberikan warna berbeda pada sesi diskusi.
Umumnya para pemateri membahas tentang kebijakan dan penelitian, justru cerita yang disampaikan Wendrika adalah pengalaman nyata.
“Saya melakukan edukasi dan pendampingan langsung kepada masyarakat Desa Tri Mandayan Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas pada tahun 2018,” katanya, Senin (10/12/2018).
Baca: Warga Kalbar Berbagi Pengalaman Olah Gambut di Polandia
Baca: Badan Restorasi Gambut Paparkan Praktik Bertani Tanpa Bakar
Dia menceritakan bahwa sebelumnya sebagian petani di desa tersebut mengolah lahan dengan cara membakar gambut.
Padahal dampak jangka panjangnya adalah gambut kehilangan kesuburan, karena mikroorganisme di dalam gambut menjadi mati.
“Sejak mulai dijalankan program Badan Restorasi Gambut di desa dampingan saya, masyarakat yang masih membakar lahan mulai tertarik belajar bagaimana cara bertani tanpa merusak gambut,” kata Wika, panggilan akrabnya.
Dia mengakui bahwa tidak gampang mengubah pola pikir masyarakat untuk peduli gambut.
Mengingat teknik membakar lahan jauh lebih gampang dijalankan, ketimbang harus menggunakan teknik penyemprotan bakteri baik untuk tanah gambut.
“Petani diajak membuat kompos sebagai ‘rumah’ untuk bakteri baik yang terkandung dalam F1 Embio. Saya juga mengajak para pemuda desa untuk peduli gambut. Memang tidak mudah, tapi jika mau berusaha kita pasti bisa,” papar Wika.
Kisah sukes bertani di lahan gambut juga dipaparkan petani asal Desa Karang Agung, Sumatera Selatan, Rohmat Suprihatin.
Dia mengakui sebelumnya menanam padi dengan cara membakar lahan.
Baca: Tanggapi Tuntutan FPR, Ahmad Darmawel Paparkan Beberapa Masalah HAM di Kalbar
Sejak diajak BRG untuk mempraktikkan pertanian tanpa membakar lahan gambut, kini Rohmat mendapat banyak pengetahuan baru dalam teknologi pertanian.
Dia terus bersemangat bersama petani lainnya untuk menerapkan pertanian ramah lingkungan.
Apresiasi disampaikan Monica Tanudara, Direktur Eksekutif Kemitraan , terhadap cerita sukses yang disampaikan Wika dan Rohmat.
“Jika kita yang hadir di sini bicara tentang kebijakan mengelola gambut, maka kedua orang ini, petani dan fasilitator desa justru menjadi orang-orang yang mempraktikkan secara langsung. Mereka berperan sangat penting dalam aksi melindungi lahan gambut,” katanya sebagai moderator diskusi.