Pelepasan 14 Mahasiswa PPL di Madrasah Aliyah Khulafaur Rasyidin

Semua itu karna keterbatasan dan kemampuan kami dalam mengasi pemahaman kepada anak-anak mahasiswa kami

Pelepasan 14 Mahasiswa PPL di Madrasah Aliyah Khulafaur Rasyidin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Sebanyak 14 mahasiswa PPL dari Universitas Tanjungpura Pontianak foto bersama usai acara perpisahan. 

Citizen Reporter
Mahasiswa Kubu Raya, Abullah Sutarso 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Setelah enam bulan lamanya melaksanakan PPL di Madrasah Aliyah Khulafaur Rasyidin, akhirnya 14 mahasiswa PPL dari Universitas Tanjungpura Pontianak menggelar acara perpisahan. 

Acara yang dihadiri kepala madrasah, Koordinator Guru Pamong, Guru Pamong, Dewan Guru, Dosen Pembimbing serta perwakilan siswa tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu (8/12/2018) bertempat di ruang Aulah Pondok Pesantren Madrasah Aliyah Khulafaur Rasyidin Jl. Arteri Supadio Km 9,3 Sungai Raya.

Ke-14 PPL tersebut ialah Abdullah Sutarso dari prodi Pendidikan  Geografi dan Ristiawati Eka Sari, S.Pd sebagai guru pamong, Wan Apriangga dari Bahasa Indonesia dengan Dwi Setiawan, S. Pd sebagai guru pamong, Marino dan Dewi Setyawati dari Pendidikan Sosiologi, Nani Fitriani dari Pendidikan PKN dan Ati Budiarti, SE sebagai guru pamongnnya, Syarifah Rema Yana dari Pendidikan Ekonomi dengan Lilik Rubianti Dwi Utami, SE selaku guru pamong, Rima Mutiara dari Pendidikan Biologi dengan Sawaludin, S. Hut sebagai guru pamong.

Baca: Siswi SMP Tercepat Kategori Umum Putri di Night Run Kodam XII Tanjungpura

Meisa Hedayanti dari Pendidikan Matematika dengan Dian Ekasari S.Pd selaku guru pamong, Astuti Mulat dan Noni dari Pendidikan Bahasa Inggris dengan Dwi Putri Prastiwi, S.Pd selaku guru pamong, Tania Ika Putri Pendendidikan Jasmani dengan Melinda Purwasih, S.Pd selaku guru pamong.

Nelly Dayanti Pendidikan Kimia dengan Nur Puja Rosihana, S.Pd sebagai guru pamong, Wiwit Mulyani dari Pendidikan fisika dengan Rahayu Asih sebagai guru pamong, Rohendri Richman dari Pendidikan Jasmani dengan Eko Santoso, S.Pd sebagai guru pamong.

Baca: Bupati Nasir Minta Kades Harus Disiplin Gunakan DD dan ADD

Pada awal acara merdunya suara Rabana dan sya’ir-sya’ir lagu yang dibawakan oleh para Satri IIS MA Khulafaur Rasyidin membuat para tamu undangan dosen, bapak/i guru serta satri dan santriwati tersentuh seolah-olah meresapi apa yang dinyanyikan dalam sya’ir lagu.

Wan Apriangga selaku ketua kelompok dalam kata sambutannya mengucapkan terimakasih banyak kepada kepala sekolah MA Khulafaur Rasyidin yaitu Shahwaludin S.Hut dan Ibu Lilik R D U, SE selaku bagian Waka Kurikulum serta dewan guru lainnya terkhusus pada guru pamong yang telah meluangkan waktu memberikan bimbingan para mahasiswa.

Pada awalnya ia sangat merasakan canggung saat mengajar karna dipanggil bapak untuk mahasiswa PPL Putra dan ibu untuk mahasiswa PPL putri sedangkan umur yang tidak jauh berbeda dengan peserta didiknya.

“Tujuan sebenarnya pendidikan itu ialah memanusiakan manusia, artinya apa? Menjadi seorang pendidik/guru bukan hanya  sekedar datang mengajarkan materi sesuai jurusannya  lalu si anaknya pintar, bukan hanya sekedar pintar tapi diah harus cerdas. Karena orang cerdas sudah pasti dia pintar, tapi kalau orang pintar belum pasti dia cerdas," ungkap Mimi Haetami selaku dosen pembimbing.

Halaman
12
Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved