Perjuangan Warga Bukit Tiang Tanjung Saat Menyadap Karet di Lereng Bukit
Padahal, jika dibandingkan dengan harga kebutuhan pokok, serta perjuangan warga, tentu penghasil tersebut tidak sesuai.
Penulis: Rizki Fadriani | Editor: Dhita Mutiasari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menjadi petani karet adalah mata pencaharian sebagian besar masyarakat di di Dusun Subarang, Desa Tiang, Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak.
Karena berada di bawah Bukit Tiang Tanjung, sebagian besar kebun karet warga berada di lereng Bukit.
Butuh perjuangan untuk warga pergi menyadap karet, mereka harus naik ke Bukit yang terjal dan licin, serta menyebrang Sungai untuk bisa sampai ke kebun.
Baca: Bukit Tiang Tanjung, Tantangan dan Kearifan Lokal Masyarakat Tiang
Baca: My Darling Mane Ku Tau!, Kisah Cinta Tak Biasa Ipunk Wahaha
Menurut mantan Kepala Desa, Bernadus, rata-rata warga menghasilkan karet 6 kg per hari, untuk getah kelas satu yang dihargai Rp 8 ribu per kilo.
Kondisi tersebut sudah berlangsung selama beberapa tahun belakangan, "Sudah biasa harga segitu," kata Bernadus.
Padahal, jika dibandingkan dengan harga kebutuhan pokok, serta perjuangan warga, tentu penghasil tersebut tidak sesuai.
Bukit Tiang Tanjung sendiri, merupakan tempat warga mencari penghidupan, selain kebun dan ladang, di Bukit itu juga warga biasanya berburu dan mencari sayur mayur.
Baru pada tahun 2015, Bukit Tiang Tanjung dibuka jalur pendakian untuk orang luar oleh Mapala dari Politeknik Negeri Pontianak.
Dan sejak saat itu, beberapa kali mahasiswa maupun komunitas pecinta alam mendaki ke Bukit Tiang Tanjung dan meminta bantuan warga untuk menunjukkan jalan.
Caption : Warga saat akan pergi mengambil karet di kebun