Curigai TKA Ilegal di Lokasi Pelabuhan PT. Laman Mining, Warga Desa Kuala Minta Penindakan

Lanjut Yudi target transfer teknologi awalnya hanya selama satu pekan, hanya saja karena ada masalah lain dikapal sehingga lebih lama

Curigai TKA Ilegal di Lokasi Pelabuhan PT. Laman Mining, Warga Desa Kuala Minta Penindakan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ NUR IMAM SATRIA
IMTA kedua TKA diduga Ilegal, yang bekerja di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kamis (04/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Nur Imam Satria

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Warga Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara Kabupaten Ketapang, Nauri, meminta pihak terkait untuk melakukan penindakan terhadap adanya dugaan dua orang Tenaga Kerja Asing (TKA) Ilegal yang bekerja di lokasi Pelabuhan PT Laman Mingging.

"Kami heran, karena IMTA TKA yang mereka laporkan ke RT lokasi kerja mereka di Batam dan Tangerang, tapi kenapa mereka kerjanya disini," Ujar Nauri, Kamis (04/10/2018).

Baca: Martin Rantan Ingatkan Visi Misinya, Pada Seluruh Pengurus PKK di Ketapang.

Baca: Tim Penggerak PKK Kabupaten Ketapang, Gelar Puncak Peringatan HKG PKK ke 46

Ia menambahkan, selain kecurigaan mengenai lokasi kerja di IMTA, pihaknya curiga lantaran jabatan di IMTA untuk kedua TKA adalah Marketing Manager dan Direktur Pemasaran, sedangkan kondisi dilapangan kedua TKA kerjanya diatas kapal keruk.

"Informasinya mereka kerja melakukan pengerukan sungai agar bisa dilalui untuk membawa hasil tambang PT Laman Mining ke muara laut," ujarnya.

Di lain pihak saat dikonfirmasi, Humas PT Laman Mining, Yudi, mengaku kalau terkait keberadaan dua orang TKA yang bekerja di pelabuhan mereka, merupakan TKA yang didatangkan oleh PT Bintan Benco Jaya (BBJ) selaku kontraktor yang bekerjasama dengan mereka.

"Dari pihak kontraktor ada memberitahu kita, jadi kita sudah tanyakan administrasi mereka bagaimana karena kita tidak mau ada masalah, terus kata mereka ada visa kerja dan kitas secara administrasi ada katanya," ungkap Yudi.

Yudi menjelaskan, jika pihaknya sudah mengingatkan agar melengkapi administrasi jika ada yang kurang, bahkan pihaknya sudah membawa perwakilan PT BBJ untuk memperkenalkan diri dan bertemu dengan pihak desa dan pihak terkait lainnya, untuk memperkenalkan para pekerja mereka.

Terkait soal IMTA yang lokasi kerjanya berbeda, ia mengaku kalau tidak tahu kalau dua TKA ternyata bukan pekerja dari PT BBJ selaku pihak bekerjasama dengannya, ternyata kedua TKA itu merupakan pekerja dari PT GSM selaku pemilik kapal yang dibeli oleh PT BBJ.

"PT BBJ beli kapal sama PT GSM hanya saja mereka tak bisa langsung mengoperasikan sehingga, PT GSM membantu mentransfer teknologi melalui dua orang TKA ini," jelasnya.

Lanjut Yudi target transfer teknologi awalnya hanya selama satu pekan, hanya saja karena ada masalah lain dikapal sehingga membuat dua TKA tinggalnya lebih lama, sedangkan soal laporan ke Imigrasi dan Disnaker diakuinya pihaknya tidak mengetahui.

"Kami juga tidak tahu ini akan jadi masalah, dari informasi memang kemungkinan belum ada melaporkan dan seharusnya bukan kami yang melaporkan keberadaan dua TKA karena kami taunya yang datangkannya PT BBJ," jelasnya.

Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help