Buka PGD IX Sekadau, Rupinus: Wujud Ungkapan Syukur Setelah Panen Padi

Saatnya kita bekerja, yang berladang silahkan berladang,” ucap Rupinus yang juga Ketua Pembina Dewan Adat Dayak (DAD) Sekadau.

Buka PGD IX Sekadau, Rupinus: Wujud Ungkapan Syukur Setelah Panen Padi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / RIVALDI ADE MUSLIADI
Bupati Sekadau, Rupinus membuka pekan gawai dayak (PGD) IX Kabupaten Sekadau ditandai dengan memukul gong di Betang Youth Center, Jl. Panglima Naga Sekadau, Senin (16/7) siang.  

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU -Bupati Sekadau, Rupinus membuka pekan gawai dayak (PGD) IX Kabupaten Sekadau di Betang Youth Center, Jl. Panglima Naga Sekadau, Senin (16/7) siang. Gawai dayak merupakan salah satu budaya masyarakat dayak serta ungkapan syukur kepada Tuhan telah memberikan kelimpahan sumber daya, berupa hasil panen.

Bupati Sekadau, Rupinus mengapresiasi semua pihak yang turut serta mensukseskan kegiatan tersebut. Ia juga meminta dalam pelaksanaan PGD tersebut agar semua pihak bersama-sama menjaga situasi.

“Jaga keamanan dan ketertiban. Sehingga, pelaksanaanya bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Rupinus mengingatkan kepada masyarakat khususnya masyarakat dayak agar kembali bekerja. Mengingat, gawai dayak di kampung-kampung ditutup dengan pelaksanakan gawai di kabupaten.

“Jangan ada gawai dengan pesta pora mewah-mewah. Saatnya kita bekerja, yang berladang silahkan berladang,” ucap Rupinus yang juga Ketua Pembina Dewan Adat Dayak (DAD) Sekadau.

Ketua DAD Kabupaten Sekadau, Welbertus Willy mengatakan, gawai dayak merupakan bagian dari budaya masyarakat dayak. Hal ini, kata dia, dilaksanakan sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat hasil panen ladang dan sawah yang diusahakan dalam masa bercocok tanam selama setahun.

(Baca: Tolak Lamaran Eks Napi Koruptor yang Ingin jadi Caleg, Nasdem Beberkan Hal Ini )

“Ini dilakukan turun termurun dari zaman nenek moyang dan terus hidup serta berkembang hingga saat ini. Dan ini juga masih dilaksanakan masyarakat suku dayak di Kabupaten Sekadau,” tuturnya.

Dikatakannya, panen padi sekitar April hingga Juli. Pelaksanaan gawai sendiri, kata Willy, sebagai salah satu budaya masyarakat dayak menunjukan identitas diri dan eksistensi di Kabupaten Sekadau. Apalagi, dayak merupakan suku bangsa terbesar di kabupaten Sekadau dalam bingkai NKRI.

“Hidup berdampingan secara rukun dan damai dengan suku bangsa lainnya,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi semua pihak yang turut serta mensukseskan kegiatan tersebut. Willy mengatakan, gawai dayak bukan hanya milik orang daya saja. Melainkan milik seluruh masyarakat Kabupaten Sekadau.

“Ini terbukti dengan keikutsertaan dari berbagai pihak suku dan agama yang terlibat dalam kegiatan ini. Kegiatan ini juga menjadi salah satu penggerak sektor riil perekonomian masyarakat,” katanya. 

Kegiatan tersebut juga dihadiri, Wakil Bupati Sekadau, Aloysius, Dandim 1204/Sanggau, Bupati Sekadau periode 2005–2010 dan 2010–2015, Simon Petrus, Raja Sekadau, Kabag Ops Polres Sekadau, Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Ketua, Wakil Ketua dan Anggota DPRD Kabupaten Sekadau, Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot. 

Selain itu, turut hadir Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sekadau, Ketua GOW Kabupaten Sekadau, dan organisasi wanita lainnya, Asisten, Staf Ahli dan Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Sekadau, tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda.

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help