Menurun, Ini Angka Prevalensi Penyalahguna Narkoba di Kalbar

Penggunaan teknologi internet untuk perdagangan dan peredaran gelap narkoba juga meningkat, baik dari segi nilai transaksi maupun jenis

Menurun, Ini Angka Prevalensi Penyalahguna Narkoba di Kalbar
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIZKY PRABOWO RAHINO
Wakil Ketua BNNP Provinsi Kalbar M Eka Surya Agus menyerahkan plakat penghargaan kepada Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Barat Dodi Riyadmadji dan Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) Tahun 2018 di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Jalan Ahmad Yani 1 Pontianak, Kamis (12/7/2018) siang. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Wakil Ketua Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Provinsi Kalbar M Eka Surya Agus memaparkan berdasarkan hasil survey nasional yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia terkait penyalahgunaan narkoba di 34 provinsi tahun 2017, angka prevalensi penyalahguna narkoba sebesar 1,57 persen dari total penduduk provinsi Kalimantan Barat.

“Jika dijabarkan, sekitar 56.424 orang pada kelompok usia 10-59 tahun,” ungkapnya saat peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) Tahun 2018 di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Jalan Ahmad Yani 1 Pontianak, Kamis (12/7/2018) siang.

Baca: Peringati HANI Tahun 2018, Ini Penegasan BNNP Kalbar

Baca: CPNS Buka Juli 2018, Dua Formasi Ini Paling Dibutuhkan, Segera Lengkapi Persyaratan Ini!

Secara nasional, terdapat 12 ribu orang meninggal dunia sia-sia setiap tahun lantaran penyalahgunaan narkoba. Angka prevalensi mengalami penurunan dari tahun 2015 yang mencapai 1,87 persen atau sekitar 65.203 orang.

Namun, ia menimpali angka ini berbanding terbalik dengan semakin meningkatnya besaran pengungkapan kasus tindak pidana narkotika dari tahun ke tahun.

“Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di masyarakat menunjukkan kecenderungan meningkat dan korban meluas. Terutama kalangan anak-anak, remaja, generasi muda, oknum Aparat Sipil Negara (ASN), prajurit TNI, anggota kepolisian, kepala daerah hingga di lingkungan pesanteren,” jelasnya.

Penggunaan teknologi internet untuk perdagangan dan peredaran gelap narkoba juga meningkat, baik dari segi nilai transaksi maupun jenis yang diperdagangkan. Munculnya narkoba jenis-jenis baru juga menambah tantangan dan hambatan dalam menanggulangi permasalahan narkoba.

“Berdasarkan data UNODC dalam World Drug Reports 2017, sejak tahun 2009-2016 telah terdeteksi sebanyak 739 NPS/narkoba jenis baru beredar di dunia yang dilaporkan oleh 106 negara dan 71 jenis diantaranya sudah beredar di Indonesia,” katanya.

Dari 71 jenis itu, 65 jenis sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

“Sementara itu, enam jenis tersisa belum diatur oleh pemerintah,” katanya. (Pra).

Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help