Angka NPL BPR di Kalbar Tinggi, OJK Ingatkan BPR Terapkan Agunan

Rizky menilai faktor utama yang mempengaruhi tingginya NPL adalah prinsip kehati-hatian dan pentingnya agunan.

Angka NPL BPR di Kalbar Tinggi, OJK Ingatkan BPR Terapkan Agunan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ MASKARTINI
Plt Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Moch Riezky F Purnomo 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet Bank Perkreditan Rakyat di Kalbar masih diambang batas yang ditentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Plt Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Moch Riezky F Purnomo mengatakan NPL BPR di Kalbar mencapai angka 15,99 persen.

Angka tersebut cukup tinggi mengingat ambang batas yang ditetapkan oleh OJK dikisaran 5 persen.

Baca: Akui Penurunan NPL, Bank Pasar Pontianak Alami Pertumbuhan Kredit

Baca: Gathering Bersama Media Seluruh Indonesia, Djarum : Kita Kemas Dengan Acara Refreshing

Baca: Musisi Singkawang Mengguncang Panggung HUT Bhayangkara

Rizky menilai faktor utama yang mempengaruhi tingginya NPL adalah prinsip kehati-hatian dan pentingnya agunan.

Bahkan saat debitur memiliki karakter yang kurang disiplin dalam membayar kredit, ia mengatakan agunan sebagai pertahanan.

"Pertama pada saat pemberian kredit, bagaimana karakter dan terakhir bagaimana pengikatan agunannya. Jika agunan diikat dengan baik, debitur akan berusaha membayar. Itu lah makanya pengikatan agunan perlu, kita melihat masih banyak BPR yang pengikatannya kurang sesuai aturan padahal agunan pertahanan terakhir dari NPL," ujar Rizky, Minggu (8/7/2018).

NPL secara umum diakui Rizky tidak terpengaruh pelemahan rupiah. Tetapi jika pengaruh penguatan dolar terhadap rupiah mempengaruhi perekonomian secara umum, mau tidak mau akan berdampak ke NPL. "Sekarang kita menghadapi pilpres dan perang dagang antar negara dengan perekonomian besar seperti China, kalau terus terjadi perang dagang bisa jadi berdampak," ujarnya.

OJK Kalbar mendorong BPR mengembangkan IT agar mampu mengimbangi bank umum. Menyadari bahwa perlu modal besar untuk itu, OJK bahkan mendorong BPR untuk melakukan merger atau penggabungan dalam menghadirkan IT dalam rangka peningkatan pelayanan.

"IT BPR saat ini seperti produk konvensional tabungan, deposito dan sistem akuntansi sudah bagus dengan peraturan terbaru. IT-nya sudah seperti bank umum, kendala BPR pada produk ATM dan juga internet banking," ungkapnya.

Tags
OJK
BPR
Penulis: Maskartini
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved