Pasukan Pengawal Presiden AS Harus Mampu Melemparkan dan Membanting Orang

Para anggota Secret Service AS yang terdiri dari pria dan wanita direkrut dari orang-orang yang berprestasi dalam dunia pendidikan

Pasukan Pengawal Presiden AS Harus Mampu Melemparkan dan Membanting Orang
SAUL LOEB
Secret Service ketika mengawal Presiden Obama 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID -  Seperti pemimpin tertinggi negara lainnya, Presiden dan Wakil Presiden AS juga memiliki pasukan pengawal khusus yang dikenal sebagai Secret Service (SS).

Pasukan Secret Service dibentuk pasca terbunuhnya Presiden AS Abraham Lincoln pada bulan April 1865.
Mereka memiliki tugas utama mengamankan Presiden dan Wakil Presiden AS dalam setiap kegiatannya.

Prinsip kerja Secret Service memang berusaha sebisa mungkin mencegah Presiden AS mendapat celaka.

Tapi tugas mengamankan orang nomor satu di AS itu ternyata tidak mudah.

Pasalnya setelah terbunuhnya Abraham Lincoln oleh penembak yang mengaku lawan politik Lincoln, AS masih mengalami kejadian di mana terbunuhnya Presiden lainnya, seperti terbunuhnya Presiden John F Kennedy pada 22 November 1963.

Atau tertembaknya Presiden Ronald Reagan pada 30 Maret 1981 di Washington DC.

Kedua peristiwa jelas merupakan tamparan buruk bagi Secret Service.

Nah, demi mencegah Presiden AS mendapat celaka, maka anggora Secret Service pun direkrut dari orang-orang pilihan yang harus lulus berbagai tes seleksi yang ketat dan kemudian mendapatkan beragam pelatihan militer agar mampu mengamankan Presiden AS secara maksimal.

Tapi berbeda dibandingkan para pengawal presiden dari negara lain yang juga merupakan anggota militer, para anggota Secret Service AS tidak harus berasal dari anggota militer.

Para anggota Secret Service AS yang terdiri dari pria dan wanita direkrut dari orang-orang yang berprestasi dalam dunia pendidikan dan juga militer dengan syarat minimal usia 21 tahun, sehat jasmani dan rohani, memiliki skill khusus misalnya ahli komputer atau juara menembak, lulus test screening, dan lainnya.

Halaman
12
Editor: Arief
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help