Mahasiswa Pertanian Indonesia Bertemu Menteri Pertanian, Ini Yang di Bahas

Ikatan BEM Pertanian Indonesia (IBEMPI) dan Koordinator Isu Pertanian BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) menghadiri acara Temu Generasi Muda Pertanian

Editor: Madrosid
TRIBUPONTIANAK.CO.ID/M WAWAN GUNAWAN
Foto Bersama Mahasiswa Pertanian Indonesia Bersama Pejabat Kementerian Pertanian, Istimewa 

Laporan Citizen Reporter Rizki Hafidz Muntaz Presidium Nasional 1 IBEMPI

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID.PONTIANAK - Ikatan BEM Pertanian Indonesia (IBEMPI) dan Koordinator Isu Pertanian BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) menghadiri acara Temu Generasi Muda Pertanian, bersama Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr Ir Amran Sulaiman MP di Auditorium Gedung D Kantor Pusat Kementerian Pertanian RI, Rabu pagi (30/5/2018).

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut hasil pertemuan pada 25 Mei 2018 antara Menteri Pertanian dengan Azzam Izzudin Presiden Nasional (Presnas) 4 IBEMPI bersama tiga pengurus BEM Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

Baca: Sutarmidji: Kalbar Butuh Sentuhan Pembangunan yang Merata dan Tersebar

Pada waktu itu mereka berhasil menemui  Menteri Pertanian untuk menyampaikan kajian mengenai permasalahan seputar Agraria, Impor Pangan dan Upsus Pajale di sela-sela kunjungan Mentri Pertanian di Universitas Brawijaya.

Dari pertemuan tersebut menghasilkan digelarnya pertemuan lanjutan dengan BEM Pertanian dan Peternakan se-Indonesia di kantor Kementerian RI. 

Di pertemuan lanjutan antara mahasiswa pertanian dan Menteri Pertanian dilangsungkan dalam dua sesi.

Sesi pertama dimulai pukul 08.00-11.30 WIB, dihadiri lansung oleh Menteri Pertanian RI.

Dalam kesempatan tersebut Mentri Pertanian mengawali dengan pemaparan pencapaian Kementerian Pertanian yang di sampaikan oleh Menteri Pertanian RI Dr Ir Amran Sulaiman MP.

Dalam acara tersebut Kementerian Pertanian RI mengklaim Indonesia tengah gencar melakukan ekspor pangan seperti beras dan jagung ke beberapa negara tetangga. 

Sementara itu, Perwakilan IBEMPI Redho Saputra (Ketua BEM Faperta IPB) dalam kegiatan tersebut menyampaikan beberapa pertanyaan yang menjadi kritik Mahasiswa, khususnya pencapaian dan evaluasi dari program Upsus Pajale, ketidakmerataan bantuan alsintan, serta menyampaikan kondisi lapang yang tidak sesuai seperti di daerah Subang, Karawang, dan Indramayu (serangan hama penyakit yang sangat luas). 

Baca: Siap Hadapi Debat, Satarudin Akan Sampaikan Konsep Pembangunan

Namun dari pertanyaan tersebut mahasiwa tidak mendapatkan penjelasan secara rinci  mengenai capaian Pajale dari tahun 2015-2017 dari Menpan. Mahasiswa justru mendapatkan sebaliknya, Menpan mengklaim bahwa kebutuhan pangan masyarakat saat ini terpenuhi serta kondisi di lapang baik-baik saja.

Selain itu mahasiswa dari Universitas Mulawarman Kalimantan Timur Sigit Untoro juga menyampaikan sebuah kondisi pangan Kaltim terkini. Menurutnya kondisi Kaltim sekarang sedang krisis pangan karena hanya ada satu kabupaten yang mampu mencukupi kebutuhan pangannya sendiri yaitu daerah Kab Penajam Paser Utara, selain daerah tersebut yang lainnya masih dirasa mengalami krisis pangan. 

Sehingga saat ini Kaltim masih belum tercapai seperti harapan swasembada pangan. Oleh karenanya di ambil solusi untuk mencukupi pangan Kaltim dengan impor pangan dari Sulawesi.

Namun lagi-lagi, jawaban Menteri Pertanian masih kurang memuaskan Mahasiswa, meski begitu Menteri Pertanian berkomitmen membantu untuk menyelesaikan masalah perampasan lahan tetapi masih belum sepenuhnya untuk memberikan solusi terkait krisis pangan Kaltim yang diakibatkan beberapa faktor tersebut. 

Disisi lain, Menteri Pertanian juga membenarkan bahwa Kaltim masih krisis pangan, Artinya selama Beliau menjabat sebagai Menteri Pertanian masih belum sepenuhnya berhasil dalam program swasembada pangan khususnya Kalimantan Timur, bahkan Upsus Pajale di Kaltim pun masih belum menemukan titik kejelasan.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved