Pria Bersimbah Darah Akibat Tusukan Sendiri, Ini Penjelasan Dari Psikolog
strategi coping adalah yang berdasarkan emosional, artinya penyelesaian masalah lebih mengedepankan emosi.
Penulis: Rivaldi Ade Musliadi | Editor: Madrosid
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Median Sukaton (34) warga Sintang yang ditemukan bersimbah darah di Jl Merdeka Timur KM 4 Sekadau Hilir, Selasa (29/5) malam, ternyata dirinya sendiri yang melakukan penusukan ke tubuhnya sendiri.
Hal itu diungkapkan oleh Tevi Subakar yang merupakan keluarga korban.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, korban sempat mengalami cek cok dengan ibunya yang kemudian ia nekat menusukan dirinya sendiri menggunakan senjata tajam.
Baca: PLN Lakukan Perbaikan Kabel Putus, Ini Daerah Yang Terkena Dampak Pemadaman
Polisi pun saat ini juga masih mengumpulkan keterangan dari korban untuk mencari tahu penyebab sebenarnya. Bisa saja korban ada mengalami gangguan psikologis.
Menurut Rika Indarti, satu diantara Psikolog di Pontianak, setiap orang pasti mempunyai masalah dan memiliki cara yang berbeda-beda dalam menanggapi masalah tersebut.
"Dalam psikologi, strategi dan kemampuan dalam menghadapi masalah dikenal dengan istilah coping. Terdapat dua strategi coping, pertama yg berdasarkan kognitif. Artinya dalam menghadapi masalah dan menemukan alternatif penyelesaian masalah lebih mengutamakan kemampuan berfikir," ujarnya saat dikonfirmasi Tribun, Rabu (30/5/2018).
Yang kedua, lanjut dia, strategi coping adalah yang berdasarkan emosional, artinya penyelesaian masalah lebih mengedepankan emosi.
"Pada kasus di Sekadau itu, tampaknya yang dipilih korban adalah strategi coping yg mengendepankan emosi," ungkapnya.
Rika juga mengatakan, cara seseorang menentukan strategi coping yang dipilih sangat dipengaruhi oleh faktor pola asuh dan pembentukan kepribadian oleh lingkungan.
Artinya bila sejak kecil anak dibiasakan untuk belajar menyelesaikan masalah dengan berfikir, maka dewasanya pun akan lebih mempertimbangkan aspek logika.
Begitu pula sebaliknya, bila sejak kecil terbiasa melihat masalah dihadapi dengan emosional, maka dewasanya pun menjadi kurang mempertimbangkan aspek logika.
Rasa putus asa, komunikasi yang buruk, serta merasa tidak adanya pertolongan atau bantuan dari pihak lain, juga memperburuk seseorang dalam membuat keputusan untuk menyelesaikan masalah, seperti yang dialami oleh korban Median Sukaton.
"Terlebih bila hal ini sudah dilakukan berkali-kali. Sebaiknya pihak keluarga dapat memberikan dukungan atau support system kepada yang bersangkutan, agar dia tidak merasa sendiri dalam menghadapi masalah. Pendekatan agama juga harus dilakukan," katanya.
"Melihat adanya kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri juga memberikan peluang yang bersangkutan juga dapat menyakiti orang lain. Oleh karena itu bantuan profesional seperti bantuan oleh psikiater dan psikolog juga sangat diperlukan untuk dapat membantu kejiwaannya agar dapat lebih stabil," pungkas Rika.