Kasihan, 7 Tahun Kerja di Perusahaan Sawit Kalbar, Buruh Ini Alami Hal Menyedihkan di Akhir Hayat

Menurut Tomo, Cesarino Saoures yang merupakan warga NTT meninggal dunia karena sakit, yang diindikasikan r

Kasihan, 7 Tahun Kerja di Perusahaan Sawit Kalbar, Buruh Ini Alami Hal Menyedihkan di Akhir Hayat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / RIVALDI ADE MUSLIADI
Ilustrasi Sawit 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Nasaruddin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Direktur Link-AR Borneo, Agus Sutomo mendesak satu di antara perusahaan sawit di Kapuas Hulu, PT SKSM, bertanggung jawab dan mengurus serta memfasilitasi secara penuh dan keseluruhan biaya rumah sakit pekerjanya, Casarino yang meninggal dunia karena sakit.

Menurut Tomo, Cesarino Saoures yang merupakan warga NTT meninggal dunia karena sakit, yang diindikasikan radang paru-paru, Selasa (30/1/2018) di Rumah Sakit Umum Kapuas Hulu.

“Berdasarkan cerita rekan sesame buruh yang berasal dari NTT, selama sakit, Cesa berobat mengeluarkan biaya sendiri, tanpa ada pergantian dari perusahan, sampai dia meninggal,” kata Tomo kepada Tribun, Selasa (30/1/2018).

Saat ini jenazah masih berada di Rumah Sakit Umum Kapuas Hulu, karena perusahan tidak membiayai pengiriman jenazah Cesarino ke kampung halaman di Desa Fatuketi Kec Makuluk Mesak, NTT.

Tomo menjelaskan, perusahaan hanya menyediakan biaya ambulance dari rumah sakit Kapuas Hulu ke Pontianak.

Kemudian biaya pembelian peti dan uang santunan hanya Rp 2.000.000, itu pun di bayar cicil.

“Apa yang dilakukan perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan belum mengurus buruh secara baik dan benar. Apalagi di saat sakit pihak perusahaan tidak mengurus Cesarino,” katanya.

Untuk itu pihaknya juga mendesak agar perusahaan membayarkan kepada ahli waris secara penuh hak-hak almarhum Cesarini Soaures sesuai dengan UU ketenaga kerjaan No 13 th 2013 tanpa dicicil.

2 kali perhitungan pesangon, sesuai dengan ketentuan Pasal 156 ayat (2)ayat (3) dan ( Ayat 4), Serta pasal 166 UU ketenaga kerjaan serta membayar santunan kematian sebesar 14.200.000, Biaya pemakaman Rp 2.000,000.

“Dia sudah 7 tahun bekerja di perusahaan tersebut. Pihak keluarga yang dihubungi juga meminta perusahaan mengirim jenazah almarhum ke kampung halaman,” tegasnya.

Dinas Tenaga Kerja Kapuas Hulu juga diminta mengawasi dan memberikan advokasi sebagai bentuk pelayanan terhadap buruh.

Bukan kemudian mengabaikan, karena pelayanan yang di berikan merupakan perintah dari UU tenaga kerja no 13 tahun 2013, sehingga tidak ada alasan pemerintah Kapuas Hulu dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja, lepas tanggung tangan.

“Kita juga mendesak BPJS dan atau Jamsostek segera untuk menghitung dan memberikan hak-hak kepada ahli waris,” katanya. 

Penulis: Nasaruddin
Editor: Nasaruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help