TribunPontianak/

Berita Video

Batu Bertulis di Nanga Mahap, Dulu Tempat Pemujaan Hingga Pesan Yang Kian Jadi Misteri

Hingga kini, batu bertulis yang terletak di Dusun Pait Desa Sebabas Kecamatan Nanga Mahap menjadi objek wisata, dan situs peninggalan sejarah.

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Dibalik keindahan alam dan kekayaan adat dan budayanya, rupanya Kabupaten Sekadau menyimpan sebuah misteri yang sampai saat ini belum dapat dipecahkan.

Misteri tersebut adalah sebuah situs peninggalan sejarah pada abad 7 masehi silam, yang merupakan sebuah batu besar berukuran lebar 5.10 meter, dan tinggi 3.90 meter.

Baca: Keren, Program Dodol Rumput Laut Mahasiswa Untan Ini Jadi Satu Dari 5 Terbaik di Ajang Nasional

Dan uniknya, pada bagian depan batu berukuran besar tersebut terdapat tulisan seperti ukiran. Bayangkan saja, pada era tersebut belum ditemukan alat untuk mengukir batu.

Bahkan yang membuat dahi anda berkerut, di sekitarnya tidak terdapat batu lainnya, baik dari timur, barat, selatan, dan utara tidak ditemukan batu berukuran sama.

Baca: Terbaik Dalam Indonesian Culture and Nationalisme 2017, Ini Program Yang Dilakukan Mahasiswi Untan

Karena terdapat ukiran dan tulisan, maka batu tersebut dinamakan batu bertulis.

Hingga kini, batu bertulis yang terletak di Dusun Pait Desa Sebabas Kecamatan Nanga Mahap menjadi objek wisata, dan situs peninggalan sejarah.

Untuk menempuh perjalanan menuju ke lokasi batu bertulis, hanya bisa dilalui menggunakan kendaraan roda dua. Dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan dari pusat Kecamatan Nanga Mahap.

Saking misteriusnya, hingga saat ini tidak ada satu orang pun, bahkan ahli sejarah sekalipun yang dapat menerjemahkan pesan yang tertulis di batu tersebut.

Dan konon katanya, barang siapa yang bisa menerjemahkan isi pesan di batu bertulis tersebut, maka akan mengalami nasib yang tidak baik.

Anda tertarik untuk mengunjunginya, silahkan nikmati video berikut sebagai referensi. 

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help